:
:
Regulasi
Fatwa MUI tentang Hukum Melihat Mushaf Alquran Ketika Salat

gomuslim.co.id – Salat lima waktu merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim karena salat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Salat menjadi pembeda antara muslim dan kafir sekaligus tiang agama. Di samping salat wajib, dalam Islam ada juga salat-salat sunnah yang dianjurkan.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa salat yang dilakukan secara berjamaah lebih utama dibandingkan dengan salat sendiri. Ketika muslim melaksanakan salat, baik yang wajib maupun sunnah, maka setelah membaca Surat Al Fatihah, disunnahkan membaca sebagian ayat-ayat Alquran.

Setiap dua rakaat pertama dalam Salat Subuh, Maghrib dan Isya, bacaan Al Fatihah dan ayat Alquran dilakukan secara jahriyyah atau mengeraskan suara. Ayat Alquran yang dilafalkan dalam Salat biasanya ayat yang sudah dihafal. Namun, bagaimana hukumnya jika melihat mushaf Alquran saat Salat?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa tentang hal ini. Berikut dokumentasi asli fatwa yang dipublikasikan MUI Pusat:  

Hukum Membaca Mushaf Alquran Saat Salat

FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor : 49 Tahun 2019

Tentang

HUKUM MELIHAT MUSHAF SAAT SALAT

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah:

Menimbang

1. bahwa salah satu hal yang sangat dianjurkan saat melaksanakan Salat adalah menjaga kekhusyu'an, diantaranya dengan bacaan Alquran yang mujawwad, serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan Salat (baik ucapan maupun gerakan);

2. bahwa di sebagian masyarakat ada imam membaca Alquran dengan melihat mushaf saat Salat dan karenanya ada yang menanyakan hukumnya:

3. bahwa untuk menjawab pertanyaan di atas, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan Fatwa tentang Hukum Melihat Mushaf Saat Salat untuk dijadikan sebagai pedoman;

Mengingat

1. Firman Allah SWT; antara lain;

a. QS. Al-Mu'minun: 1-2 tentang salah satu kriteria orang mukmin yang beruntung;

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam Salatnya”.

b. QS. Al-Baqarah: 45 tentang pentingnya khusyu' dalam Salat;

"Dan mintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan wasilah sabar dan Salat, dan sesungguhnya Salat itu sangat berat kecuali bagi orang khusyu".

c. QS. Al-Muzzammil ayat 20 tentang anjuran bagi imam untuk membaca ayat yang mudah dari Al-Qur'an:

"Karena itu bacalah apayang mudah (bagimu) dari Alquran"

2. Hadits Nabi SAW; antara lain :

a. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i meriwayatkan hadits tentang kedekatan Allah kepada orang yang khusyu' dalam Salat:

Dari Abu Dzar ra. Rasulullah saw brsabda: "Senantiasa Allah 'Azza wa Jalla menghadap hambaNya di dalam Salatnya, selama dia (hamba) tidak berpaling. Apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun berpaling darinya”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al Nasaa'i]

b. Hadits Aisyah RS tentang budaknya yang membaca mushaf saat menjadi imamnya dan dalam riwayat yang lain bahwa Aisyah ra membaca mushaf dalam keadaan Salat :

Dari Aisyah istri Rasulullah SAW bawah ghulamnya menjadi imam Salat atas dirinya sambil memegang mushaf (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah]

Ibnu At-Toimi meriwayatkan dari ayahnya bahwa Aisyah dari ayahnya bahwa radhiyallahuanha membaca mushaf dalam keadaan Salat [HR. Abdurrazzaq)

c. Hadits-Hadits tentang surat-surat yang dibaca oleh Nabi SAW dan para shahabat pada saat Salat:

Diriwayatkan dari Abdullah bin as-Saib bahwa Nabi SAW. membaca (surah) al-Mu'minun ketika Salat Subuh, saat sampai pada ayat yang menyebutkan kisah Musa dan Harun atau Isa, beliau terbatuk lalu ruku'. Umar membaca 120 ayat surah al-Baqarah pada rakaat pertama dan membaca salah satu surah al-Matsdm (surah yang ayatnya kurang dari seratus] pada rakaat kedua. Sementara itu, al-Ahnaf membaca surah al-Kahfi pada rakaat pertama dan membaca surah Yusuf atau Yunus pada rakaat kedua. Al-Ahnaf menyebutkan bahwa dia pernah Salat Subuh bersama Umar dengan membaca dua surah tersebut Sementara itu, Ibnu Mas'ud membaca empat puluh ayat surah al-Anfdl dan pada rakaat kedua membaca salah satu surah al-Mufashshal (kumpulan surah mulai dari surah Muhammad sampai surah an-Nas). [HR. al-Bukhari].

Diriwayatkan bahwa Marwan bin al-Hakam berkata, "Zaid bin Tsabit pernah berkata kepadaku, 'Kenapa kau baca surah-surah pendek ketika Salat Maghrib, padahal dulu aku mendengar Nabi SAW. (ketika Salat Maghrib] membaca saloh satu dari dua surah terpanjang (al-A'raf dan al-Maidah)!” [HR. Bukhari).

Diriwayatkan bahwa Hudzaifah berkata, "Aku pernah Salat bersama Nabi saw. pada suatu malam. Beliau mengawali bacaan dengan surah al-Baqarah. Aku berkata (dalam hati], '(^klungkin) beliau akan ruku' pada ayat keseratus.' Ternyata beliau masih meneruskan bacaan. Aku berkata (dalam hati], '(Mungkin] beliau akan ruku' pada ayat kedua ratus.' Ternyata beliau masih meneruskan bacaan. Aku kembali berkata (dalam hati], '(Mungkin] beliau akan membaca surah al-Baqarah dalam satu rakaat.' Ternyata beliau melanjutkan dengan membaca surah an-Nisa, lalu surah Ali 'Imran. Beliau membaca dengan tartil. Ketika melewati ayat tentang tasbih, beliau bertasbih; ketika melewati ayat tentang doa, beliau berdoa; ketika melewati ayat tentang meminta perlindungan, beliau meminta perlindungan." (HR. an-Nasa'i).

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, "Rasulullah SAW. bersabda, 'Apakah kalian suka apabila ketika pulang menemui keluarga, kalian mendapatkan tiga ekor unta hamilyang besar dan gemuk?' Kami menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Tiga ayat yang dibaca seseorang di antara kalian dalam Salatnya lebih baik daripada tiga ekor unta hamil yang besar dan gemuk,"' [HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda, "Membaca Alquran dalam Salat lebih utama daripada membaca Alquran di luar Salat Membaca Alquran di luar Salat lebih utama daripada takbir dan tasbih. Tasbih lebih utama daripada sedekah. Sedekah lebih utama daripada puasa. Puasa adalah perisai yang melindungi dari azab neraka," [HR. al-Baihaqi).

Memperhatikan:

1. Al Nawawi menyebutkan pendapat imam al syafi'i dalam kitab al Majmu' jilid 4 halaman 95:

Membaca Alquran dengan melihat mushaf tidak membatalkan Salat meskipun dia tidak Hafal Alquran, bahkan itu wajib dilakukan bila tidak hafal surat al-Fatihah meskipun dengan membalikkan halaman, maka tidak batal Salatnya. Andaikan seseorang melihat tulisan selain mushaf dan diulang-ulang dalam hati tidak batal Salatnya, akan tetapi menjadi makruh bila berlangsung lama.

Imam Malik dalam kitab al Mudawwanah jilid 1 halaman 288 mengatakan:

Imam Malik berpendapat bahwa tidak masalah bila seorang imam membaca surat dengan meilhat mushaf di qiyam Ramadhan dan Salat sunnah lainnya. Ibnu Qasim menyatakan makruh bila dilakukan di Salat fardhu. Ibnu Wahab berkata bahwa Ibnu Syihab berkata: "ulama-ulama terbaik kita membaca surat dengan melihat mushaf saat qiyam ramadhan dengan berdalil bahwa itu dilakukan oleh budaknya Aisyah. Imam Malik dan al Laits pun berpendapat demikian.

3. Ibnu Qudamah menyebutkan pendapat Imam Ahmad dalam kitab al Mughni jilid 1 halaman 411:

Imam Ahmad berpendapat bahwa tidak ada masalah seorang imam yang membaca surat dengan melihat mushaf Saat beliau ditanya apakah sama hukumnya bila dilakukan saat Salat fardlu, beliau menjawab: saya tidak mendengar riwayat tentang itu. Qadli Abu Ya'la berpendapat: itu makruh saat Salat fardhu dan boleh saat Salat sunnah dan makruh pula bila dilakukan oleh seorang yang hafal Alquran. Imam Ahmad pernah ditanya tentang imam yang membaca surah sambil melihat mushaf di Salat qiyam Ramadhan? Beliau menjawab: tidak masalah Jika terpaksa.

4. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Pleno Komisi Fatwa MUl tanggal 6 November 2019.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG HUKUM MELIHAT MUSHAF SAAT SALAT

Pertama: Ketentuan Hukum

1. Melihat mushaf Alquran saat Salat tidak membatalkan Salat.

2. Membaca ayat Alquran dengan cara melihat mushaf bagi orang yang sedang Salat hukumnya boleh jika ada kebutuhan sepanjang tidak mengganggu kekhusyu’an dan tidak melakukan gerakan yang membatalkan Salat.

3. Untuk menjaga kekhusyu’an Salat maka imam Salat diutamakan membaca ayat Alquran bil ghaib [dengan hafalan, tanpa melihat mushaf).

Kedua: Rekomendasi

1. Orang yang akan menjadi imam Salat harus memahami ketentuan fikih Salat, menjaga kekhusyu'an, dan memperhatikan kondisi makmum.

2. Bagi seorang imam Salat fardhu untuk tidak memanjangkan bacaan ayat Alquran, terlebih jika kondisi makmum beragam.

3. Bagi pengurus takmir masjid untuk memilih imam rawatib dengan pemahaman keagamaan yang baik, hafalan yang baik dan bacaan yang mujawwad.

Ketiga: Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

 

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal 9 Rabi'ul Awwal 1441 H

6 November 2019 M

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,                                                                                                                                                         Sekretaris,

 

 

Prof. Dr. H. HASANUDDIN AF., MA                                                                                                                  Dr. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Mengetahui,

DEWAN PIMPINAN HARIAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua Umum,                                                                                                                                               Sekretaris Jenderal,

 

 

Prof. Dr. KH. MA'RUF AMIN                                                                                                                             Dr. H. ANWAR ABBAS MM., M.Ag.

Responsive image
Other Article
Responsive image