:
:
Perjalanan
Jalan Bareng ACT, Melihat Langsung Pendistribusian Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Lebak Banten

gomuslim.co.id – Pagi itu, Sabtu (18/01/2020) wilayah Jakarta dan sekitarnya masih diguyur hujan. Tapi hujan tak menghentikan langkahku menuju Menara 165, Jakarta Selatan. Hari ini saya bersama awak media lain akan berangkat bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk mengirimkan bantuan kepada korban banjir bandang di Kampung Sajira, Lebak, Banten.

Relawan dan Awak Media berada di Menara 165, TB Simatupang Jakarta Selatan

Sesuai jadwal, sedianya kami berangkat pukul 07.00 WIB. Namun karena hujan deras dan beberapa relawan serta wartawan datang terlambat, terpaksa keberangkatan diundur hingga pukul 07.30 WIB.

Setelah semua datang, kami pun berangkat. Perjalanan kali ini cukup panjang. Sekitar 5 jam kami tempuh. Pukul 11.30 WIB, kami sampai di Induk Posko ACT Wilayah Banten. Mobil Travel hanya bisa mengantarkan kami ke sini.

Induk Posko ACT, Lebak Banten

Induk Posko ACT ini merupakan pusat seluruh jenis bantuan berada dari para dermawan. Di sini, bantuan logistik akan disortir sesuai kebutuhan para korban. Selanjutnya didistribusikan ke posko-posko yang tersebar di beberapa wilayah terdampak banjir. Tujuannya agar satu pintu dan pendistribusian tepat sasaran.

Dari Induk Posko, kami istirahat sejenak untuk melaksanakan salat dan menikmati jamuan yang dihidangkan. Sambil menikmati hidangan, salah satu relawan bercerita tentang buruknya lokasi terdampak banjir. Saya sampai merinding mendengar ceritanya. Dan saat itu masih belum terbayang jelas bagaimana kondisi yang sebenarnya.

Setelah itu, Komandan Relawan ACT yang juga sudah lama berada di lokasi terdampak, mulai mengajak kami ke titik lokasi. Kami di ajak ke lokasi dengan menggunakan mobil Ranger bak terbuka milik ACT.

Tepat pukul 13.00 WIB, disitulah kami memulai perjalanan kami menuju titik terdampak bencana. Perjalanan kami berliku tapi mobil ini melaju cukup kencang. Toa Sirine kerap dinyalakan guna menginformasi kepada para pengguna jalan lain bahwa mobil ini harus berjalan cepat untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam.

Jalanan berkelok, tanjakan dan turunan kami lalui. Butuh waktu 2 jam dari Induk Posko ke lokasi bencana. Sekitar pukul 15.00 WIB, kami tiba di Desa Sajira Timur, Kecamatan Sajira, Lebak Banten.

Saat memasuki lokasi bencana, hal pertama yang kami lihat adalah lumpur, air sungai yang sangat luas, tanah kosong beserta puing-puing yang menumpuk.

Kondisi Desa Sajira Timur, Kecamatan Sajira, Lebak Banten pasca diterjang Banjir Bandang

Saya coba bertanya kepada para relawan yang sudah lama berada disana.

“Ini lokasinya? Mana rumah yang hancur?,” tanya saya polos.

Relawan menjawab,

“Ini kang rumah mereka, sudah rata dengan tanah. Itu puing yang menumpuk bukan sengaja untuk di bangun rumah, tapi justru itu adalah runtuhan bangunan rumah mereka, itu hanya sedikit kang, sisanya hanyut,” cerita relawan.

Sontak saya pun kaget melihat kondisinya. Pantauan saya melalui kasat mata adalah, hamparan tanah luas membentang. Beberapa bangunan seperti pesantren, masjid dan rumah-rumah warga tampak rusak parah. Lumpur menutupi semua jalur dimana saya dan rekan wartawan melintas.

Kondisi salah satu pesantren di Lebak Banten yang hancur akibat di terjang banjir bandang

Ketua RW 001 Kampung Sajira, Bapak Zumaedi menceritakan kronologi awal mulanya terjadi bencana.

“Hujan itu terjadi sejak malam tahun baru itu mas. Hujan besar, tidak kunjung berhenti hingga pagi. Awalnya di pagi itu, daerah sini banjir hanya sebetis orang dewasa. Cepat surut ko’, jam 9 pagi banjir sempat surut. Bahkan ada banyak ikan yang sampe ke daratan. Saya dan warga antusias ambil ikan-ikan itu,” katanya.

“Hujan masih mengguyur saat itu. Tidak jelang lama, sekitar pukul 10.30, air kembali naik bahkan dengan cepat. Awalnya sebetis, lalu naik jadi sepinggang orang dewasa. Saat itulah, saya minta warga untuk cepat mengungsi ke dataran yang tinggi,” tuturnya.

“Tak lama, tiba-tiba dari atas, melalui sungai, banjir bandang melintas sangat kencang. Suara airnya sangat menakutkan. Pada saat itu pula, rumah-rumah warga hanyut tersapu air yang mengalir sangat deras itu. Tidak hanya 1 rumah, tapi 49 rumah hanyut terbawa air,” ucapnya.

“Kami tidak dapat berbuat apa-apa saat itu, jalan satu-satunya hanyala mengungsi terlebih dahulu, baru setelah aman, kami melihat kondisi rumah kami. Kejadian seperti ini baru sekarang terjadi,” cerita Ketua RW kepada awak media.

Kampung Sajira ini berada sekitar 50 meter dari sungai muncang dan banjir bandang itu datang dari aliran sungai muncang. Lokasi sungai dengan pemukiman warga hanya berjarak 50 meter.

Lokasi Sungai dengan Pemukiman warga berjarak 50 meter

Saat kami datang, warga sudah lebih dari 10 hari tinggal di posko dan rumah sanak keluarganya. Saya tidak tahu bagaimana nasib mereka kedepannya. Namun, kabarnya ACT akan mendirikan Hunian Sementara (Huntara) untuk para korban. (Semoga terealisasikan. Aamiin).

Setelah melakukan wawancara beberapa para korban, kami juga mengambil foto untuk menyampaikan kepada masyarakat luas se-Indonesia tentang kondisi yang sebenarnya terjadi di Lebak, Banten.

Setelah itu, kami bergeser menuju posko pengungsian ke dataran yang lebih tinggi dan jauh dari sungai muncang. Di posko pengungsian, berbagai kegiatan dilakukan ACT, mulai dari trauma healing, hingga pembagian logistik kepada para korban.

Singkat cerita, malamnya kami beristirahat dan menginap dirumah warga yang dijadikan sebagai posko. Di sini juga terdapat dapur umum, tepat di halaman ketua RW setempat (Bukan RW Pak Zumaedi).

Hari Kedua

Minggu, 18 Januari 2020, pagi hari, ibu-ibu relawan mulai mempersiapkan sarapan. Kami makan bersama dalam suasana hangat bersama para relawan.

Pukul 08.00 WIB, kami di ajak Komandan Relawan Lebak Banten untuk mendatangi lokasi kedua. Ini adalah lokasi putusnya jembatan muncang, jalur utama dari Sajira timur ke Sajira Barat.

Kata sesepuh sekitar bernama Amin Sukandi (70), dengan terputusnya jembatan muncang ini, maka warga yang ingin ke Sajira Timur dari Sajira Barat (begitu sebaliknya), harus memutar arah dengan radius 50 kilometer atau menempuh jarak berjam-jam.

Jembatan Muncang, jalur utama dari Sajira timur ke Sajira Barat yang Terputus Akibat Banjir Bandang

“Ini Jalur utama. Kalau terputus begini, yang kasihan adalah anak-anak sekolah. Yang seharusnya mereka sampai 5 hingga 10 menit. Ini harus berjam-jam. Karena kondisi itulah, beberapa lembaga memberikan bantuan dengan menyerahkan perahu karet sebagai alat menyebrang,” tuturnya

“Tapi menurut saya ini terlalu bahaya. Hanya dengan seutas tali, dari ujung ke ujung, mereka melintasi sungai,” cerita Pak Amin.

Perahu karet yang menjadi perlintasan warga sebagai pengganti jembatan yang terputus

Di sini, ACT juga membuka posko. Salah satunya posko kesehatan. Jalur yang dilalui oleh para relawan sama seperti dengan jalur masyarakat lainnya yaitu menggunakan perahu karet dan harus mengantri.

Di Lokasi tersebut, kami tidak lama. Kami langsung di ajak kembali oleh komandan Relawan ke titik lokasi ke tiga. Lokasinya cukup jauh, butuh waktu satu jam untuk sampai. Tepatnya ada di Kampung Seupang, Desa Sejagan Kecamatan Sajira, Lebak Banten.

Lokasi ini juga merupakan titik terparah dari bencana alam banjir bandang. Bahkan, ketinggian air mencapai 8 meter.

Dalam perjalanannya kekampung Sepuang, rutenya jauh lebih ektream dibanding lokasi pertama. Menelusuri bukit-bukit tinggi menjulang dengan trek bebatuan serta berlumpur.

Di sini terdapat hunian sementara untuk para korban yang terbuat dari kayu dan terpal berwarna biru yang setidaknya dapat melindungi mereka apabila hujan kembali datang. Ada juga dapur umum milik ACT.

Hunian Sementara Korban di Kampung Seupang, Desa Sejagan Kecamatan Sajira, Lebak Banten

Mungkin lokasi ini sangat parah, karena di lokasi pengungsian, saya melihat banyaknya bantuan yang datang, baik dari Kepolisian, PMI, dan berbagai ormas. Dalam hati saya berucap ‘Alhamdulillah mereka setidaknya akan berkecukupan’.

Di kampung Seupang, ACT juga memberikan trauma healing kepada warga, dan juga membagikan 70 selimut.

Kami pun diajak turun melihat kelokasi rumah warga yang tersapu air. Perjalanan melewati lumpur, tanah liat yang masih basah tidak membuat semangat kami turun.

Sesampainya di lokasi, saya seperti melihat kampung mati. Rumah-rumah kosong, berantakan, pohon tumbang, penuh dengan lumpur kering, hancur, jalan dari tanah liat banyak berlubang. Seperti tidak ada kehidupan.

Rumah Warga di Kampung Seupang, Terlihat Seperti Kampung Mati

Melihat kondisi itu, saya tidak apakah saya akan kuat jika saya sendiri yang mengalaminya. Tapi yang jelas, saya melihat mereka adalah orang-orang yang sangat kuat dan tegar.

Tepat pukul 13.00 WIB di hari kedua, tugas kami selesai mengawal ACT dalam mendistribusikan bantuan kepada korban bencana banjir bandang di Lebak.

Komandan relawan membawa kami ke kantor Kecamatan Curugbitung, tempat transit sebelum pulang ke Jakarta.

Ada cerita yang cukup aneh di sini. Saat dalam perjalanan menuju kantor kecamatan Curugbitung, Road Captain kami menggunakan motor trail. Beliau bilang, dua orang relawan yang menjadi road captain kami menggunakan salah satu mode petunjuk arah untuk sampai ke sana. Rupanya, aplikasi petunjuk arah itu malah mengarahkan kami ke dalam hutan.

Kami seperti berputar-putar di dalam hutan selama dua jam. Jalannya pun berlumpur dan berlubang. Sisi kanan kiri jalan hanya pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada kendaraan lain selain kendaraan kami disana.

Kami Dibawa Ke Hutan untuk menuju lokasi kantor Camat Curugbitung

Hingga di satu titik, ada satu rumah warga yang terlihat. Kami coba berhenti dan bertanya arah ke kantor kecamatan Curugbitung. Terus warga itu bilang tidak ada jalan lagi di sini, alias mentok. Kami pun memutar balik. Sampai akhirnya kami keluar juga dari hutan itu dan sampai di kantor Camat Curugbitung.

Kantor Camat Curugbitung

Pukul 16.00 WIB, mobil travel kami datang. Tak lama, kami pun pamit pulang ke Jakarta kepada para relawan yang bertugas. Karena semua lelah, kami berbincang tidak lama. Dan pukul 21.00 WIB, kami sampai di Menara 165 Jakarta. Pada saat itulah kami berpisah, dan pulang kerumah masing-masing.

Sahabat gomuslim, demikian cerita perjalanan saya bersama rekan wartawan dan para relawan ACT saat mendistribusikan bantuan untuk korban banjir bandang di Lebak Banten. Semoga bermanfaat dan memberi sedikit pelajaran dari cerita ini. (hmz)

Responsive image
Other Article
Responsive image