:
:
News
Lewat Game of Sultans, Perempuan Ini Temukan Hidayah Islam

gomuslim.co.id - Pemain gim (gamer) Zahra Fielding tak pernah berharap gim yang diunduhnya tentang Ottoman mengenalkannya pada teman-teman baru, apalagi Islam. Gim itu telah menarik perhatiannya. 

"Saat saya pertama kali mengunduh gim itu karena saya penasaran menemukannya di Facebook, dan itu benar-benar iklan yang sangat salah. Tak mungkin ada gim seperti ini, yang melakukan itu semua, berbicara tentang wanita dengan cara itu," ujar Zahra seperti dilansir dari publikasi ABC News, Senin (25/5/2020).

Gim itu adalah Game of Sultans, sebuah gim bermain peran simulasi kerajaan. Dalam iklannya, gim itu membuat pemainnya berupaya tetap menjadi penguasa kekaisaran Ottoman. Gim ini mengajak pemainnya menjalin aliansi dan memerangi lawan.

 

Baca juga:

Satu Keluarga Ini Ucapkan Syahadat Ketika Lockdown COVID-19

 

Gim itu juga mendorong pemainnya mengumpulkan wanita, memilih istri dan selir serta membina pewarisnya. Namun demikian, Zahra mengatakan gim itu ternyata tak seperti yang ditunjukan dalam iklan yang dipublikasikan. 

Ketika Zahra mulai bermain gim itu, ia bergabung dengan tim berisi gamers lainnya yang berasal dari Australia dan Asia. "Mungkin gamers datang pada saat yang penting dalam hidup saya. Saya benar-benar kesepian dan merasa kehilangan. Seperti tak bahagia dalam karir, tak bahagia dalam kehidupan pribadi, saya lajang untuk waktu yang sangat lama. Dan saya baru saja bertemu dengan sekelompok orang yang luar biasa dari berbagai negara, di man saya tak pernah punya kesempatan terhubung dengan mereka seperti di sini," kata Zahra.

Dalam gim itu, Zahra pun berkenalan dengan Kim Assikin seorang gamer asal Singapura. "Ada koneksi yang cepat dengannya, saat kami mulai berkirim pesan. Saya tak tahu mengapa dan bagaimana, tapi masing-masing kami akan menyelesaikan setiap kalimat percakapan," katanya. 

Tim Zahra dan Kim pun mulai serius membangun strategi dalam gim itu. Mereka pun membuat grup obrolan di Discord yakni platform yang populer di kalangan gamer yang juga menjadi tempat berbagi foto dan profil tentang diri mereka. 

Kala itu Kim ragu-ragu, sebab dia adalah satu-satunya gamer yang mengenakan jilbab dalam timnya. "Saya sedikit khawatir, bagaimana nanti rekan tim saya memandang saya, apakah saya akan dihakimi karena agama saya?" kata Kim.  

Namun akhirnya Kim memutuskan untuk jujur dengan rekan satu timnya. Sebab bagaimanapun, teman satu timnya dalam gim itu secara tak sadar telah membantunya melewati masa-masa sulit setelah Kim ditinggal ayahnya. 

"Saya baru kehilangan ayah sebelum saya memulai gim itu. Berhubung mereka (teman dalam gim) memberi saya sedikit kedamaian, dan mengalihkan pikiran saya dari kehilangan ayah untuk sementara waktu, jadi saya pikir saya tak ingin berbohong kepada mereka. Saya yakin mereka bisa menerima saya apa adanya," kata Kim.

 

Baca juga:

18 Bulan Belajar Islam, Pria Skotlandia Ini Masuk Islam Tanpa Pernah Bertemu Muslim

 

Saat Zahra menjadi lebih dekat dengan teman Muslimnya, Zahra pun memulai topik perbincangan tentang agama dengan Kim. Zahra seorang ateis saat itu, sudut pandangnya tentang Islam telah dikaburkan karena pengalaman di masa lalu. 

"Beberapa tahun lalu satu teman terbaik saya berkencan dengan pria Muslim Afghanistan. Pada waktu itu, ia mengatakan sedang berlatih, sekarang tahu lebih banyak tentang iman, saya melihatnya tak sungguh-sungguh. Dia (pria Afganistan) sangat mengendalikannya, sangat menindas," katanya. 

Bagi Zahra, pengalaman temannya yang kini sudah mulai mengenakan jilbab, dan pengembaraan negatifnya tentang Islam di media, membuatnya merasa harus waspada. "Saya bepikir jilbab itu tanda penindasan, tapi saya tak pernah punya kesempatan untuk berbincang dengan siapa pun tentang itu. Jadi saya bertanya pada Kim, dan saya hanya bisa terpesona, betapa salahnya saya. Saat ada seorang wanita menutupi dirinya orang mengenalnya tentang siapa dia, bukan penampilannya. Saya benar-benar sesuai dengan itu, saya selalu dinilai berdasarkan penampilan fisik," kata Zahra. 

Setelah berbincang tentang jilbab, Zahra menjadi lebih ingin tahu tentang Islam secara keseluruhan. "Saat Zahra mulai bertanya tentang Islam, saya sebenarnya sangat takut. Saya takut karema saya bukan contoh dari seorang Muslim, saya selalu berpikir saya ini seorang pemberontak," kata Kim. 

Kim bercerita ketika ia tumbuh dewasa, ibunya memaksakan agama dan jilbab pada dirinya. Kim pun dibesarkan dengan batasan. "Ketika Zahra mengajukan pertanyaan pada saya, itu membuat saya merenungkan diri saya sendiri. Tentang keyakinan saya sendiri, apa (iman) saya sudah cukup terlatih," katanya. 

Kim pun merasa tersanjung karena Zahra ingin berbincang tetang Islam. Kim pun secara pribadi berdoa kepada Allah.

"Jika dia bermaksud menemukan-Mu, buat itu mudah baginya. Tetapi saya tak bilang pada Zahra, saya takut Zahra akan berbalik dan pergi," kata Kim.

Sementara Zahra menilai Kim kebalikan dari seorang  yang proselitis yang berupaya untuk menarik orang atau kelompok pada keyakinannya. "Kim sangat pendiam, saya harus mengambil informasi darinya karena dia sangat sadar tak memaksakan kepercayaan pada saya. Seandainya ada orang lain yang mencoba membawa saya ke Islam, itu tak akan berhasil. Saya akan memberontak itu," kata Zahra.

Namun semakin Zahra belajar tentang Islam, semakin besar juga iman yang dia rasakan. "Ini perjalanan bagi saya, saya tak hanya keluar dan berkata, hei teman-teman saya akan menjadi seorang Muslim. Itu dimulai dengan bertanya pada Kim, apa tak sopan bagi saya mencoba jilbab? Saya sangat ingin memakainya dan seperti apa rasanya," kata Zahra. 

Setelah beberapa waktu, Zahra pun mulai menutupi rambutnya tiap akhir pekan, dan berkerja dengan mengenakan kain di kepala. "Awalnya tak ada yang bilang apa pun. Kemudian setelah beberapa hari, beberapa rekan penasaran. Mereka seperti, hei apa potongan rambutmu jelek, apa kamu sedang memulai tren baru. Itu menjadi percakapan. Ya, saya sebenarnya belajar lebih banyak tentang Islam dan saya tak yakin apa saya mau mengenakan jilbab atau tidak jadi saya mencari tahu," kata Zahra. 

Pada awal tahun, Zahra pun datang ke Masjdi Kuraby di Brisbane. Ia pun bersyahadat untuk masuk Islam. Zahra menjadi satu dari ribuan orang yang masuk Islam setiap tahun, kendati bagi Zahra lebih menyukai istilah kembali. Sebab dalam Islam, kata dia semua orang terlahir sebagai Muslim.

 

Baca juga:

Jatuh Cinta Dengan Konsep Rukun Islam, Pria Amerika Ini Putuskan Jadi Mualaf

 

Seiring waktu Zahra pun ingin membangun  keluarga dengan seorang pria Muslim. "Saya kasih tahu orang yang menuntun saya bersyahadat, bahwa saya tertarik dalam pernikahan, karena saya lelah patah hati dan saya ingin seorang suami. Dia pun bilang sedang menyusun profilku, lalu saya pergi ke aplikasi pernikahan Muslim," katanya. 

Sebagaimana Zahra menjalin persahabatan internasionalnya yang tak terduga dengan Kim melalui sebuah gim, sekarang Zahra pun bertemu tunangannya secara daring. "Dia pengedit di salah satu organisasi Muslim di Kuala Lumpur, dia benar-benar terpesona dengan kisah saya dan ingin tahu tentang bagaimana saya menemukan Islam. Setelah beberapa hari mengobrol, saya berkata, oke saya perlu mencoba dan menjalin hubungan yang halal. Lalu bagaimana kami menjalaninya saat dia tinggal di Malaysia dan saya tinggal di Australia?" katanya.

Dalam Islam, keluarga pasangan yang menikah umumnya bertemu untuk memastikan hubungan tidak disembunyikan. Namun dalam kasus Zahra, jarak geografis membuat hal itu tak bisa dilakukan. Ia dan tunangannya pun mengenalkan orang tua mereka melalui obrolan video. Zahra berencana pindah ke Malaysia untuk menikah segera setelah pandemi COVID-19 berakhir.

Sementara Kim mengatakan akan hadir dalam pernikahan temannya itu. Ia siap bertemu untuk pertama kalinya dengan teman yang teman yang ditemukan dalam gim online. (Mr/rep/bbc)

Responsive image
Other Article
Responsive image