:
:
News
Pandemi COVID-19 Bawa Lima Perubahan Konsumen Digital Muslim 4.0

gomuslim.co.id – Tahun ini, umat muslim di seluruh dunia menjalani Ramadan di tengah pandemi COVID-19. Seluruh warga di berbagai Negara melakukan physical distancing yang mengakibatkan seluruh kegiatan pertemuan ditiadakan.

Namun demikian, kondisi ini justru membuat umat muslim melakukan berbagai cara agar tetap menjaga silaturahim di tengah penyebaran virus Corona yang semakin massif. Seiring dengan perkembangan zaman, keeratan silaturahmi pada bulan Ramadan memiliki cara alternatif.

Managing Partner Inventure, Yuswohady, mengemukakan bahwa wabah COVID-19 telah membawa banyak perubahan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. Yuswohady menyebutnya sebagai "Muslim 4.0".

Muslim 4.0 sendiri didasarkan oleh Yuswohady melalui perubahan perilaku konsumen selama wabah COVID-19. Ada 5 hal perubahan konsumen dalam hal digital yang memicu perubahan menuju Muslim 4.0.

Pertama, Ngaji-gital. Dakwah sebagai salah satu misi Islam berkembang dengan cepat melalui media konvensional sampai dengan digital. Dakwah yang selama ini dilakukan dengan metode pendekatan ceramah dan tabligh atau komunikasi satu arah (one way) menjadi tidak cool lagi di mata muslim milenial. 

"Apalagi di masa pandemi COVID-19, aktivitas ibadah di masjid makin dibatasi, membuat ngaji secara digital akan makin mainstream. Ngaji melalui WA group, Youtube, podcast, hingga live streaming dengan Zoom akan menjadi kenormalan baru setelah wabah ini selesai nanti," ujar Yuswo dalam video conference, Senin (4/5/2020).

 

Baca juga:

Obati COVID-19, Arab Saudi Uji Efektivitas Plasma Darah Pasien Sembuh

 

Kedua, Muslim-Commerce. Dalam beberapa tahun terakhir, mulai banyak bermunculan layanan e-commerce atau marketplace online yang khusus membidik pasar muslim. Berbagai produk ditawarkan dari makanan, fesyen, kosmetik, hingga jasa keuangan maupun wisata.

"Indonesia memiliki pasar muslim yang gurih dengan populasi terbesar di dunia. Dalam buku Marketing to the Middle Class Muslim (2014), kami menguraikan bahwa kelas menengah muslim makin kaya dan makin relijius. Hal ini mengakibatkan pergeseran perilaku dalam konsumsi yang mereka lakukan, termasuk ke arah digital," kata Yuswo.

Ketiga, Muslim-Friendly Digital Content. Tumbuhnya pasar muslim di Indonesia berbanding lurus dengan munculnya media dan konten-konten bernapaskan islami, khususnya di ranah digital. Media online tumbuh bak jamur di musim hujan, begitu pula content creator bertema muslim bertebaran di berbagai kanal media sosial seperti Instagram atau Youtube.

"Salah satu yang fenomenal adalah serial Nussa yang belakangan menjadi favorit bagi anak-anak dan mamah-mamah milenial muslim. Nussa merupakan sebuah animasi yang tayang di YouTube sejak 2018 serta TV nasional," kata Yuswo.

Keempat, Muslizen. Aktivitas kehidupan sehari-hari pun juga mulai beralih di digital. Mulai dari mencari informasi melalui media-media digital, belanja melalui e-commerce, aktivitas finansial dengan fintechtravelling hingga ta’aruf secara online. Hal ini membuat munculnya banyak startup digital yang spesifik membidik muslim milenial.

Perkembangan teknologi dan dunia digital telah turut mengubah perilaku dan gaya hidup muslim zaman now. Terlebih adanya wabah COVID-19 mempercepat literasi digital di kalangan konsumen muslim.

"Sebagai segmen yang digital savvy, muslim zaman now tidak mudah lepas dari bagian gaya hidup digital, khususnya media sosial. Mereka mencari informasi, mendapatkan kabar, berbagi pengetahuan, dan pamer apa yang mereka miliki melalui media sosial," ujar Yuswo.

Kelima, Sharia Blockchain. Seiring dengan konsumen muslim yang makin tech-savvy dan melek digital, penggunaan tekonologi 4.0 pun makin massif dalam memberikan solusi untuk pasar muslim. Di antaranya adalah pemanfaatan blockchain untuk sertifikasi halal dan wakaf.

"Seperti yang dilakukan WhatsHalal, sebuah startup dari Singapura yang memiliki platform untuk mempermudah proses sertifikasi halal dari hulu ke hilir melalui teknologi blockchain," jelas Yuswo.

Dengan blockchain, memungkinkan sebuah produk dilacak dan dicatat kadar kehalalannya mulai dari hasil panen petani, proses manufaktur, restoran dan peritel, hingga di tangan konsumen. Dengan kata lain, tenaga, biaya, dan waktu untuk menguji kadar halal suatu produk bisa dipangkas karena semua sudah diagregasi ke dalam blockchain.

Penggunaan blockchain untuk sertifikasi halal ini didasari banyaknya data yang dikumpulkan, disimpan, dan diolah dalam proses sertifikasi. Selain itu, pemanfaatan blockchain ini bertujuan mendorong aspek transparansi dan kemanan layanan masyarakat. (hmz/wartaekonomi/dbs/foto:katadata)

 

Baca juga:

Angka Kematian COVID-19 Menurun, Iran Akan Buka Kembali Masjid

Responsive image
Other Article
Responsive image