:
:
News
10 Tahun Atheis, Profesor Matematika Ini Masuk Islam Usai Temukan Jawaban Logis dari Alquran

gomuslim.co.id - Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya. Begitu juga dengan Jeffrey Lang. Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui Kelogisan Alquran dan sejalan dengan sains.

Sebagai seorang pecinta matematika, Prof. Jefrey Lang berpedoman hidup pada hal-hal yang konkret. Karena itulah selama 10 tahun ia menjadi atheis merasa agama yang diyakininya tak sesuai dengan pedoman hidupnya. Namun kisah hidup profesor matematika di University of Kansas ini berubah indah ketika ia mengenal Islam.

“Matematika itu logis. Matematika terdiri dari fakta dan angka untuk menemukan jawaban konkret. Itulah cara pikiran saya bekerja, dan itu membuat saya frustrasi ketika saya berurusan dengan hal-hal yang tidak memiliki jawaban konkret,” ujar profesor yang mengambil gelar master dan doktor dari Purdue University, seperti dilansir dari publikasi Abouti Islam, Jumat (1/5/2020).

 

Baca juga:

Kini Berhijab dan Perdalam Agama, Begini Kisah Mantan Pebulu Tangkis Indonesia Dapat Hidayah Islam

 

Menurutnya, sebagian besar agama memerlukan penerimaan iman dan bukan alasan konkret berupa fakta dan data. Merasa tak mendapat jawaban konkret di agamanya, ia pun kemudian menjadi atheis.

“Jika ada Tuhan, dan Dia penuh belas kasih dan cinta, lalu mengapa ada penderitaan di bumi ini? Mengapa Dia tidak membawa kita ke surga? Mengapa membuat semua orang menderita (di bumi)?,” ungkapnya. 

Itulah salah satu pertanyaan sang profesor sejak usianya belasan dan tak pernah menemukan jawabannya. Masih banyak pertanyaan lain yang mempertanyakan keimanannya. Hal ini bertolak belakang dengan latar belakangnya yang sangat ‘agamis’. Sejak SD hingga SMA, ia belajar di sekolah Katolik. Ia pun dilahirkan di tegah keluarga Katolik Roma di Connecticut, AS.

Karena tak menemukan jawaban logis, ia pun memilih melepaskan keimanannya. “Seperti kebanyakan anak-anak di akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an, saya mulai mempertanyakan semua nilai yang kami miliki saat itu, politik, sosial dan agama. Saya memberontak melawan semua institusi yang dilakukan oleh masyarakat, termasuk Gereja Katolik,” tuturnya.

Cukup lama Prof. Lang hidup tanpa agama. Perjalanan hidayahnya baru dimulai ketika ia ia menjadi dosen matematika di San Fransisco University dan mendapati seorang mahasiswa muslim di kelasnya. Ialah Mahmoud Qandeel, mahasiswa asal Saudi yang membuat Prof. Lang takjub.

Penampilan Mahmoud layaknya pangeran yang membuat setiap orang menarik perhatian padanya. Ia sangat terkenal sampai-sampai semua orang di San Fransisco, bahkan walikota dan kepala polisi pun mengenalnya. Namun bukan itu yang membuat Prof. Lang takjub. Melainkan kecerdasan Mahmoud selama di kelasnya.

Jika Prof. Lang mengajukan pertanyaan tentang penelitian, Mahmoud selalu menjawabnya dengan bahasa Inggris yang sempurna dan jawaban yang sempurna pula. Keduanya pun kemudian menjadi akrab dan sering bepergian bersama.

Ketika persahabatan yang dijalin cukup lama, Mahmoud mendapat kesempatan untuk mendakwahkan Islam kepada dosennya. Ia memberi sebuah Alquran dan beberapa buku Islam kepada sang profesor. Inilah awal mula Prof. Lang mempelajari agama Islam.

Ia membaca Alquran dan langsung jatuh cinta. Prof Lang menyebut dirinya “Ditaklukkan oleh Alquran, langsung menyerah tanpa banyak perjuangan.” Baru beberapa bab ia membaca Alquran, namun ia telah merasakan ketertarikan yang luar biasa. Ia jatuh cinta pada si penulis Alquran, yakni Allah Ta’ala.

“Pelukis dapat membuat angle nampak mengikutimu dari satu tempat ke tempat lain. Namun penulis mana yang mampu menulis sebuah tulisan suci yang mengantisipasi perubahan harian Anda??” ujarnya

Tentu saja hanya Tuhan yang mampu melakukannya. Prof. Lang merasa begitu takjub. Setiap malam, kata profesor, ia menyusun pertanyaan-pertanyaan logis yang selama ini ia cari tentang agama. Keesokan harinya, ia membaca Alquran dan menemukan jawabannya.

 

Baca juga:

Artis Nigeria Ini Mengaku Lebih Bahagia Setelah Kembali ke Islam

 

“Entah bagaimana aku menemukan jawabannya pada hari berikutnya. Seakan-akan penulis (Alquran) membaca ide-ide saya dan menuliskannya di garis yang tepat, di waktu yang tepat, saat saya membaca berikutnya. Saya menemukan diri saya di setiap halamannya. Saya membaca Alquran namun Alquran lah yang membaca diri saya,” tutur Prof. Lang.

Prof. Lang pun kemudian semakin giat mempelajari agama Islam. Ia bertanya kepada teman-teman muslim yang dikenalnya. Singkat cerita, ia kemudian bersyahadat dan menjalankan ajaran agama sebagaimana muslim yang lain. Di antara sekian ibadah dalam Islam, yang menjadi favorit Lang adalah salat Subuh. “Itu adalah salah satu ritual dalam Islam yang paling indah dan paling menyentuh,” ujarnya.

Kini, sudah puluhan tahun sang profesor berislam. Ia pun didaulat menjadi penasihat untuk Himpunan Mahasiswa Muslim di kampusnya. Prof. Lang juga menulis banyak buku tentang Islam. Salah satu bukunya yang menjadi best seller ialah “Even Angels ask; A Journey to Islam in America”. (Mr/aboutislam/md)

Responsive image
Other Article
Responsive image