:
:
News
Kisah Muslim Nigeria Hadapi Ramadan Berbeda Akibat Pandemi Corona

gomuslim.co.id – Hampir serentak di beberapa Negara, awal Ramadan 1441 H masuk pada hari Jumat tanggal 24 April 2020. Akan tetapi, Ramadan tahun ini terbilang sangat berbeda karena pandemi COVID-19.

Dilansir dari publikasi VoA, Jumat (24/4/2020), Nasir Umar (27) seorang tukang listrik mobil, belum memperbaiki satu mobil pun dalam tiga minggu karena tindakan penguncian yang diumumkan oleh otoritas Nigeria pada akhir Maret untuk meratakan kurva coronavirus Nigeria.

Setelah mengirim istri dan anaknya ke rumah ayahnya di Maidiguri untuk mengurangi beban keuangan, ia kadang-kadang berjalan ke tokonya di dekat kediamannya, berharap mendapatkan pekerjaan.

Sekarang, tanpa uang untuk mengirim mereka dan dengan Ramadan mendekat, Umar mengatakan ia mungkin melewatkan pesta tradisional untuk berbuka puasa harian tahun ini. Makanan adalah dasar untuk kehidupan dan penting selama puasa, katanya, tetapi tanpa makanan, ia tidak bisa berpuasa. 

Ramadan tahun ini digambarkan banyak orang sebagai 'edisi kuncian'. Kebiasaan seperti doa bersama, buka puasa, dan sahur bersama, sekarang dibatasi oleh karantina wilayah COVID-19. 

 

Baca juga:

Stop Kegiatan Berjamaah Sesuai Perintah, Imam Masjid di Nigeria Ini Malah Dicopot

 

Ulama Muslim Abuja, Isa Mohammed, mengatakan kecuali larangan itu dicabut, umat yang beriman tidak dapat berkumpul di masjid untuk beribadah. Mereka harus puas melaksanakan doa-doa secara pribadi di rumah. 

Masjid-masjid di seluruh Nigeria telah ditutup. Banyak orang menggunakan internet dan media sosial untuk berkumpul melaksanakan doa bersama.

Namun, para cendekiawan Muslim seperti Sharafadeen Abdulsalam mengatakan beberapa rutinitas doa dan ritual tidak dapat dilakukan secara daring. Salah satunya, tidak bisa mengganti ibadah salat Jumat dengan menggunakan media daring.  

"Kamu tidak bisa meminta orang untuk membuat barisan di rumah masing-masing, dan mengikuti kamu ketika memimpin mereka dalam ibadah. Tidak, kamu tidak bisa melakukan itu. Ibadah Jumat harus secara fisik," kata Abdulsalam. 

Masjid Abuja tempat ia memimpin ibadah, biasanya dalam sehari mampu menampung 700 Muslim yang kurang mampu untuk makan besar berbuka puasa selama Ramadhan. Namun kini masjid tersebut telah ditutup selama hampir satu bulan.  

Abdulsalam mengatakan, mungkin lebih aman bagi beberapa jamaahnya untuk melewatkan puasa tahun ini, jika mereka tidak memiliki makanan.  

"Islam adalah cara hidup yang sederhana. Jika Anda tidak memiliki apa yang bisa dimakan saat Sahur, dan menyadari secara penuh jika berpuasa dapat memengaruhi kondisi kesehatan, maka puasa bisa ditinggalkan," kata dia. Ia menjelaskan, Islam tidak ingin umat-Nya merasakan sakit dan terbebani. (hmz/VoA/rep)

 

Baca juga:

Menteri Pakistan Imbau Umat Muslim Berdoa di Rumah pada Malam Peringatan Isra Mi'raj

Responsive image
Other Article
Responsive image