:
:
News
Diskriminasi Terhadap Muslim India Makin Memprihatinkan Setelah COVID-19 Mewabah

gomuslim.co.id – Pandemi COVID-19 yang mewabah di dunia tidak hanya berdampak pada kesehatan, sosial dan ekonomi, tetapi juga kemanusiaan. Hal itu terjadi kepada umat muslim di India. Tindak diskriminasi terhadap pasien, bahkan tim medis COVID-19 muslim India sangat memprihatinkan.

Seperti dilansir dari Iqna, Rabu (23/4/2020), berdasarkan laporan dari publikasi Telegraph mengabarkan bahwa baru-baru ini ini dua bayi baru lahir meninggal dunia setelah salah satu rumah di India menolak untuk menerima mereka lantaran sang ibu merupakan seorang muslim.

Ada pula seorang wanita muslim bernama Rezvaneh Khatoon (30) yang datang ke Rumah Sakit MGM di Kota Jamshedpur, bagian Jarkand, India ketika sedang mengalami pendarahan ditolak pihak rumah sakit. Khatoon dituduh telah menyebarkan virus corona bahkan sempat dianiaya dan disuruh membersihkan darahnya sendiri.

Selanjutnya, seorang bayi yang meninggal dunia di wilayah Bharatpur di Rajasthan akibat rumah sakit milik pemerintah menolak untuk menerimanya lantaran sang ibu merupakan seorang muslim. Hal itu menjadi contoh gelombang baru Islamophobia di India yang tengah meningkat selama pandemi COVID-19 berlangsung.

 

Baca juga:

Organisasi Muslim India Siapkan Rumah Sakit dan Gedung Madrasah untuk Karantina

 

Sementara itu, salah satu anggota partai Bharatiya Janata yang saat ini dipimpin oleh Narendra Modi sempat mengumumkan bahwa penyebaran virus corona di India muncul setelah pertemuan kelompok Muslim di New Delhi pada pertengahan Maret lalu. Akan tetapi, tindakan diskriminasi tersebut tidak hanya terhadap pasien Muslim yang terinfeksi corona aja, tetapi semua umat muslim yang ada di sana.

Untuk itu, Komisi Hak Asasi Manusia Islam di London mengumumkan bahwa rumah sakit di wilayah Kashmir yang didominasi umat Muslim di bawah kendali India tidak memiliki cukup dokter dan staf medis. Bahkan, pusat-pusat kesehatan ini menghadapi kekurangan perlindungan yang memadai untuk staf medis yang memerangi tengah virus corona.

Selain itu, kecepatan internet di daerah ini sangat lambat sehingga dokter mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengakses atau mendownload instruksi penting yang diperlukan untuk melawan virus corona.

Komisi Hak Asasi Manusia Islam pun telah meminta kepada semua aktivis untuk bekerjasama dengan organisasi-organisasi internasional, termasuk Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, untuk memprotes situasi kesehatan di Kashmir tersebut. (mga/Iqna)

 

Baca juga:

Begini Kisah Muslimah Korban Kerusuhan New Delhi yang Kini Produksi Masker

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store