:
:
News
Muslim Houston AS: Ramadhan 2020 Penuh Tantangan, Tapi Selalu Ada Hikmahnya

gomuslim.co.id – Ramadhan 2020 akan terlihat berbeda mengingat seluruh dunia saat ini sedang dihadapkan dengan pandemi COVID-19. Ancaman ini sebelumnya tidak pernah tebayangkan oleh kebanyakan Muslim.

Namun, banyak dari umat beriman di Houston, Texas, Amerika Serikat mempunyai pandangan berbeda. Bulan suci Ramadhan tahun ini justru mereka anggap sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada Allah, dan memperkuat iman.

Pasangan suami istri Omar Navarro dan Nidah Chatriwala dari Pasadena, Texas, keduanya baru-baru ini kehilangan pekerjaan akibat krisis kesehatan yang sedang berlangsung. Mereka tinggal bersama orang tua Chatriwala, yang salah satunya menderita kanker. Tak perlu disebutkan, ada stres dan ketidakpastian saat Ramadhan tiba.

"Kegiatan rutin kami yang biasa seperti pergi salat di masjid, berbuka puasa di rumah masing-masing, pergi ke penggalangan dana, tidak ada yang mungkin dilakukan di bulan Ramadhan. Ini memaksa kami menjalani rutinitas baru, dan itu akan melakukannya lagi di bulan Ramadhan," ujarnya seperti dilansir dari publikasi About Islam, Kamis (16/4/2020).

Rubina Zaman, seorang dokter gigi daerah Houston, mengatakan dirinya juga akan melewatkan pertemuan yang merupakan bagian dari ritual Ramadhan. "Aku akan sangat sedih tentang itu," katanya.

Tetapi kedua wanita itu mengatakan ada hikmah yang bisa diambil atas apa yang mereka akui sebagai masa-masa sulit dan menantang.

Ujian Iman

Chatriwala, yang hingga saat ini bekerja di pemasaran digital untuk sebuah perusahaan konstruksi, memandang situasi ini sebagai ujian iman.

"Keyakinan saya adalah apa yang membuat saya tetap kuat dan berhasil melewati semua cobaan, besar atau kecil. Selama saya dan keluarganya sehat dan bebas virus, maka saya dapat fokus pada kebaikan yang saya lihat di sekeliling. Saya sangat positif tentang situasi ini karena bahkan dengan yang buruk akan selalu ada yang baik," kata Chatriwala.

Ia menambahkan, jumlah kematian memang meningkat, tetapi ada bisnis yang masih aktif memproduksi peralatan pelindung pribadi untuk petugas kesehatan. Dirinya bahkan pernah melihat beberapa anak membuat masker dan pelindung wajah. Mereka ambil bagian untuk menjadi pahlawan lokal, dan itu bagus untuk dilihat.

 

Baca juga:

Dianggap Pahlawan COVID-19, Dokter Muslim Amerika Ini Dapat Kejutan dari Warga 

 

Sementara Zaman, yang hanya menjenguk satu atau dua pasien gawat darurat dalam seminggu, mengatakan ini akan menjadi Ramadhan pertama dalam beberapa tahun terakhir bahwa ia tidak akan bekerja penuh waktu.

Dia berharap tidak kelelahan dan lebih fokus pada sifat spiritual bulan ini serta memasak makanan sehat untuk iftar keluarga. Sesuatu yang belum dapat dia lakukan di bulan Ramadhan sebelumnya. “Saya merasa bahwa melambat adalah berkah,” katanya.

Tantangan Mualaf

Navarro, suami Chatriwala, setuju dengan istrinya bahwa situasi ini adalah ujian dari Allah. Tetapi dia khawatir itu mungkin akan menjadi beban bagi para mualaf Muslim lajang yang akan sendirian ketika mereka berbuka puasa.

“Banyak dari mereka tidak memiliki keluarga (yang merayakan Ramadhan atau Idul Fitri) sehingga mereka biasanya berbuka puasa di masjid. Sekarang mereka tidak punya tempat untuk pergi," kata Navarro.

Sebagai seorang mualaf, Navarro mengatakan bahwa dia berbicara dari pengalaman tentang betapa sulitnya bagi seorang Muslim lajang untuk mempraktikkan iman mereka sendiri, terutama selama bulan suci puasa ketika pertemuan adalah hal yang biasa.

"Saya khawatir tidak ada yang memikirkan mereka dan itu mungkin mendorong mereka menjauh dari Islam. Saya benar-benar ingin melihat penjangkauan komunitas untuk mereka,” tuturnya.

Chatriwala mendorong semua Muslim untuk menyadari dan menjangkau satu sama lain sebanyak mungkin pada Ramadhan ini, karena kemungkinan tidak akan ada pertemuan bersama di masjid-masjid.

Dia mengatakan orang-orang harus mengambil keuntungan dari teknologi untuk saling memeriksa, mungkin menggunakan teknologi video untuk berbagi makanan berbuka puasa bersama dan mengirim foto-foto `pakaian Idul Fitri baru bahkan jika mereka tidak dapat bergabung bersama dalam salat Id.

“Kita masih bisa bersenang-senang dan merayakan dan bersikap positif,” katanya.

Sementara itu, Zaman mulai bersenang-senang lebih awal. Dia baru-baru ini meminta putranya yang berusia 12 tahun, Jad Choucair, untuk mulai mendekorasi rumah mereka dengan dekorasi liburan.

"Saya tidak melihat hal-hal akan kembali normal begitu saja, jadi kami akan melakukan yang terbaik dari itu," katanya. (jms/aboutislam)

 

Baca juga:

Pemerintah Perpanjang Lockdown, Muslim AS Ungkap Kesedihan Jelang Ramadhan

Responsive image
Other Article
Responsive image