:
:
News
Mantan Pastor Putuskan Jadi Mualaf Setelah Melihat Keindahan Islam 

gomuslim.co.id - Idris Tawfiq mempunyai kisah menarik untuk dibagikan. Mualaf asal Inggris ini dulunya menjadi pastor selama bertahun-tahun di sebuah gereja.

“Saya menikmati menjadi seorang pastor yang membantu orang-orang selama beberapa tahun” katanya seperti dilansir dari publikasi All American Muslim, Senin (13/4/2020).

Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tidak bahagia dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Untungnya, dan itu adalah kehendak Tuhan, beberapa peristiwa dan kebetulan dalam hidup saya membawa saya ke Islam," tuturnya.

Perjalanan ke Mesir

Dulu Tawfiq menganggap Mesir hanya dikenal sebagai negara piramida, unta, pasir, dan pohon-pohon palem. Ia mengambil penerbangan charter ke Hurghada.

Di sana, ia terkejut karena menemukan itu mirip dengan beberapa pantai Eropa. Dia naik bus pertama ke Kairo dan menghabiskan minggu paling indah dalam hidupnya. 

Perjalanan tersebut menjadi pengantar pertamanya tentang muslim dan Islam. Dia memperhatikan bagaimana orang Mesir adalah orang yang lembut dan manis, tetapi juga sangat kuat.

 

Baca juga:

Begini Cerita Mualaf Asal Skotlandia yang Islamkan Semua Keluarga dan 30 Temannya

 

“Seperti semua orang Inggris, pengetahuan saya tentang muslim sampai saat itu tidak melebihi apa yang saya dengar dari TV tentang pelaku bom bunuh diri dan teroris, yang memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang bermasalah. Namun, ketika memasuki Kairo saya menemukan betapa indahnya agama ini,” ungkapnya

Ia terkesima saat melihat pedagang muslim di jalan yang meninggalkan dagangan mereka saat mendengar panggilan adzan dari masjid. "Mereka memiliki keyakinan yang kuat akan kehadiran dan kehendak Allah. Mereka berdoa, berpuasa, membantu yang membutuhkan dan bermimpi untuk melakukan perjalanan ke Makkah dengan harapan tinggal di surga di akhirat," ucapnya.

Mengajar tentang Agama

Saat kembali ke negaranya, dia melanjutkan pekerjaan lamanya yakni mengajar agama. Satu-satunya mata pelajaran wajib dalam pendidikan Inggris adalah Studi Agama. Dia mengajar tentang agama Kristen, Islam, Yahudi, Budha, dan lainnya. Setiap hari, dia harus membaca tentang agama-agama ini untuk dapat mengajarkan pelajaran kepada para siswanya, termasuk siswa yang merupakan pengungsi muslim dari Arab. Dengan kata lain, mengajar tentang Islam mengajarinya banyak hal.

"Tidak seperti banyak remaja bermasalah, para siswa ini memberikan contoh yang baik tentang bagaimana menjadi seorang muslim. Mereka sopan dan baik hati. Maka terjalin persahabatan di antara kami dan mereka bertanya apakah mereka bisa menggunakan ruang kelas saya untuk salat selama bulan puasa Ramadhan. Untungnya, kamarku adalah satu-satunya yang memiliki karpet. Jadi saya terbiasa duduk di belakang, memperhatikan mereka berdoa selama sebulan. Saya berusaha untuk mendorong mereka dengan berpuasa selama bulan Ramadhan dengan mereka, meskipun saya belum menjadi seorang Muslim," paparnya.

Suatu ketika sambil membaca terjemahan Alquran di kelas, dia menemukan ayat ini:

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri)”. (Al-Quran 5:83)

Yang mengejutkan setelah membaca ayat ini, dia meneteskan air mata. Tapi dia berusaha keras untuk menyembunyikannya dari para siswa.

"Pengalaman saya sebelumnya dengan muslim membawa saya ke arah yang berbeda. Saya mulai bertanya-tanya ‘Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama atas tindakan teroris yang kebetulan adalah Muslim, ketika tidak ada yang menuduh Kristen melakukan terorisme ketika beberapa orang Kristen bertindak dengan cara yang sama?," ungkapnya.

Bertemu dengan Yusuf Islam

Suatu hari, Tawfiq pergi ke Masjid terbesar di London untuk mendengar lebih banyak tentang agama Islam. Saat masuk ke Masjid Pusat London, ada Yusuf Islam, mantan penyanyi pop, duduk dalam lingkaran berbicara kepada beberapa orang tentang Islam. Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Apa yang sebenarnya Anda lakukan untuk menjadi seorang Muslim?"

Yusuf Islam menjawab bahwa seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, berdoa lima kali sehari dan puasa selama Ramadhan. Tawfiq menyela dan mengatakan bahwa dirinya percaya semua ini dan bahkan berpuasa selama bulan Ramadhan. Lalu, Yusuf bertanya lagi "'Apa yang kamu tunggu? Apa yang menahan Anda? "Saya berkata: ‘Tidak, saya tidak bermaksud untuk jadi mualaf’," tuturnya. 

 

Baca juga:

16 Tahun Hidup Tanpa Agama, Pria Ini Putuskan Jadi Mualaf Setelah Mengenal Islam

 

Pada saat itu, panggilan adzan berkumandang, semua orang bersiap-siap dan berdiri dalam barisan untuk salat. Sementara Tawfiq hanya duduk di belakang, dan dia menangis seraya berkata pada dirinya sendiri, "Siapa yang aku coba bodohi?"

Setelah muslim selesai salat, Tawfiq mendatangi Yusuf Islam dan memintanya untuk mengajarinya dua kalimat syahadat. "Setelah menjelaskan artinya kepada saya dalam bahasa Inggris, saya mengucapkan syahadat dalam bahasa Arab. Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, saya tidak bisa menahan air mata saya," ucapnya.

Setelah masuk Islam, Tawfiq memutuskan untuk menulis buku "Gardens of Delight: Pengantar Sederhana untuk Islam". Buku tersebut memberikan ide kepada non-Muslim tentang prinsip-prinsip dasar Islam. Lewat buku itu pula, dia mencoba memberi tahu orang-orang betapa indahnya Islam, bahwa Islam memiliki harta yang paling luar biasa, salah satu yang terpenting adalah kecintaan umat Islam terhadap satu sama lain.

"Nabi bersabda, 'Senyum terhadap saudaramu adalah amal (sedekah)'," katanya mengutip sebuah hadits.

Idris Tawfiq sendiri merupakan seorang penulis Inggris, pembicara publik, dan konsultan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi kepala pendidikan agama di berbagai sekolah di Inggris. Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang imam Katolik Roma. Dia meninggal dengan tenang di Inggris pada Februari 2016 karena sakit. Semoga Allah SWT mengasihani dia, dan menerima amal baiknya. (Mr/All American Muslim)

Responsive image
Other Article
Responsive image