:
:
News
Petakan Pola Penyebaran COVID-19, Pemprov Jabar Gelar Rapid Tes di Pesantren Pekan Ini

gomuslim.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berencana melakukan rapid tes COVID-19 di lingkungan pesantren dengan asrama. Pemprov Jabar memprioritaskan tes ini di pesantren yang berada di zona merah penyebaran virus corona seperti Depok, Bekasi, Bogor, Cirebon, dan Bandung. 

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengatakan, data hasil rapid test yang lengkap penting untuk disampaikan kepada pemerintah pusat untuk menetapkan status PSBB di Jawa Barat. Ia juga menilai rapid tes ini dilakukan untuk mengetahui pola penyebaran virus di provinsi yang dipimpinnya. 

"Minggu ini breakingnya, kita akan mulai mengetes pesantren-pesantren yang berasrama dan didahulukan di zona merah. Jabar akan selalu mengambil keputusan berdasarkan data," ujarnya di Gedung Pakuan, Bandung, Senin (6/4/2020).

Kang Emil, sapaan akrabnya, mengungkapkan keberhasilan Jabar melakukan rapid tes masif adalah menemukan pola baru. Di antaranya virus ini beredar di sekolah berasrama yang dikelola oleh lembaga kenegaraan. "Kami melaksanakan rapat koordinasi gugus tugas, kemudian mengimbau daerah daerah, kota/kabupaten yang belum menyerahkan data dengan lengkap, agar segera melaporkan," tuturnya.

 

Baca juga:

Imbas Corona, Pesantren Tebuireng Pulangkan Ribuan Santri

 

Berdasarkan catatannya, Rapid test sudah dikirim lebih dari 60 ribu. Tapi, laporan yang masuk baru sekitar 18 ribu. Padahal menurutnya, semakin cepat data masuk, maka semakin mudah untuk memetakan penyebaran virus. "Nah, kemanakah yang 50 ribuannya? Ini harus segera ditindaklanjuti. Saya imbau kepala daerah untuk mengecek ke Dinkes masing-masing untuk melaporkan secepatnya," tegasnya.

Selanjutnya, ia pun menjelaskan tentang kemungkinan hasil hitungan potensi puncak virus yang diprediksi akan terjadi akhir bulan Mei mendatang. Berdasarkan studi dari Universitas Padjajaran (Unpad) dan beberapa universitas yang dilaporkan pada presiden, salah satu skenario dari studi tersebut, puncaknya yakni pada bulan Mei dan menurunnya akan berlangsung pada bulan Juni. 

"Tapi studi ini berbeda-beda memang. BIN kan melakukan studi yang berbeda juga. (Data) ini yang dikelola universitas. dengan catatan kalau social distancingphysical distancing disiplin berjalan dengan baik. Kalau tidak, lupakan Juni kita masih panjang durasinya," paparnya.

Untuk treatmen pemudik, lanjut Emil, prosedurnya sebenarnya seragam. Artinya, pemudik langsung statusnya ODP yang harus karantina diri. "Yang harus dilacak media adalah apakah ada mereka yang mudik tapi tidak karantina diri. Kalau ada harus ada tindakan. Saya belum ada laporan secara nyata ODP pemudik yang kabur-kabur itu belum ada laporan," pungkasnya. (mga/Rep/foto:antara)

 

Baca juga:

Wagub Jabar Minta Umat Islam Tidak Abaikan Ibadah dan Tetap Jaga Wudhu

Responsive image
Other Article
Responsive image