Responsive image
Responsive image
Home / News
Responsive image
25 Mar 2020

Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang Sebut 'Diam di Rumah' saat Wabah Bernilai Ibadah

Mega  - News
Responsive image

gomuslim.co.id – Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf menyebut, diam di rumah (stay at home) adalah salah satu ikhtiar pemerintah dan masyarakat mencegah penyebaran virus corona. Diam di rumah bisa bernilai ibadah dan memberi pahala jika didasari niat yang baik dan ikhlas. Diam di rumah juga masih bisa tetap belajar, tetap produktif, dan juga tetap menghasilkan.

"Stay at home saat terjadinya wabah itu berpahala, bahkan pahalanya seperti orang mati syahid," tegas Gus Yusuf berdasar Kitab Fathul Bari juz 10, Rabu (25/3/2020).

Sebelumnya, pemerintah sendiri telah mengimbau kepada masyarakat untuk tetap berada dan beraktivitas di rumah akibat wabah virus corona atau Covid-19 yang melanda. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan masyarakat untuk tetap produktif dalam berbagai hal. Termasuk kegiatan belajar bagi para pendidik, pelajar, santri, dan mahasiswa pun tidak terputus.

Berbagai elemen masyarakat bahkan ada yang memanfaatkan media internet untuk tetap menuntut ilmu sebagai sebuah kewajiban bagi setiap individu. Hal tersebut juga dilakukan oleh Gus Yusuf yang tetap istiqomah dengan ngaji onlinenya melalui akun Gus Yusuf Channel.

 

Baca juga:

LBM PBNU: Pasien Covid-19 yang Wafat Termasuk Golongan Syahid

 

Gus Yusuf pun juga tetap menyampaikan kajian secara Daring (dalam jaringan) membahas berbagai bab agama yang diikuti oleh warganet. Berbagai kitab dan permasalahan dijelaskan secara online termasuk kondisi saat ini di mana pemerintah menerapkan kebijakan di rumah saja.

Ia pun menjelaskan, dalam hadits yang diceritakan dari Aisyah RA, Rasulullah mengatakan bahwa sesungguhnya tha’un (sejenis wabah penyakit menular) itu merupakan peringatan Allah bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan rahmat bagi orang-orang beriman.

"Tiada orang yang pada saat musim wabah tha’un melanda dan dia berdiam diri di negaranya dengan sabar dan beribadah kepada Allah, meyakini bahwa dia tidak akan terkena suatu bencana kecuali atas takdir Allah atas dirinya, maka dia akan dicatat mendapatkan pahala orang syahid," jelas Gus Yusuf.

Dengan berdiam diri di rumah, lanjutnya, masyarakat tidak berarti tidak peduli dan hanya berpangku tangan terhadap kondisi yang ada. Hakikatnya, diam diri di rumah merupakan wujud membantu para tenaga medis yang sedang bekerja di rumah sakit dengan tidak menambah pasien lagi.

Seperti diketahui bahwa untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengambil kebijakan menjaga jarak fisik (physical distancing) bagi masyarakat. Langkah tersebut diambil secara hati-hati setelah melihat penanganan Covid-19 di sejumlah negara.

Dengan kebijakan ini pemerintah ingin agar kontak fisik sesama masyarakat diminimalisir. TNI-Polri beserta aparat daerah pun akan membubarkan masyarakat yang berkumpul demi mencegah penyebaran Covid-19.(mga/NUOnline)

 

Baca juga:

Ingatkan Umat tentang Bahaya Corona, Ketua NU Kota Semarang Ciptakan Syiir COVID-19

Responsive image
BACA JUGA
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
KOMENTAR
Responsive image
TULIS KOMENTAR
Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka

Responsive image
Responsive image