:
:
News
IHW Minta Lembaga Pendidikan Indonesia Fokus Riset Industri Vaksin dengan Substitute Halal

gomuslim.co.id – Lembaga Pendidikan Indonesia diminta meriset industri vaksin halal dengan melakukan penelitian terhadap bahan-bahan keperluan medis. Tujuannya untuk mengganti vaksin tidak halal dengan substitute halal.

Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW), Ikhsan Abdullah meminta Indonesia untuk belajar dari Senegal yang mampu memproduksi dan mendapatkan keuntungan dari penjualan vaksin "Yellow Fever" halal.

"Kita harus dapat mengambil hikmah dari Senegal yang menemukan bahan vaksin 'Yellow Vever' dari bahan substitusi yang halal. Kini negara tersebut mendulang devisa dari perdagangan vaksin di kawasan Afrika Barat," katanya dalam keterangan tertulis pada Selasa (24/12/2019).

Menurutnya, bila Indonesia dapat mencontoh Senegal maka tidak perlu lagi membelanjakan triliunan rupiah untuk pengadaan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) untuk tuberkulosis, difteri, campak, cacar, meningitis, serviks dan lainnya.

"Ini sekaligus tantangan bagi Biofarma sebagai industri vaksin terbesar di Indonesia untuk mampu berkolaborasi dengan universitas untuk memperkuat riset," katanya.

 

Baca juga:

Ekspansi ke Afrika dan Negara-Negara OKI, Bio Farma Kembangkan Varian Vaksin

 

Menurutnya, pemerintah Indonesia harus dapat memacu riset agar dapat menghasilkan berbagai obat dan vaksin halal yang sampai saat ini masih didominasi materi berbahan baku nonhalal.

Ia mengatakan sebagai langkah awal Indonesia bisa mendorong kampus-kampus terkemuka untuk menguatkan risetnya dalam industri vaksin halal. Universitas di Indonesia agar fokus melakukan penelitian untuk dapat menghasilkan bahan pengganti obat dan vaksin yang tidak halal dengan bahan substitusi yang halal.

“Upaya tersebut wajib dilakukan dalam lima tahun tahun ke depan dimulai dari saat ini,” terangnya.

Ia menyatakan, Indonesia harus maksimal mengambil keuntungan dari bisnis produk halal yang sangat potensial dan besar pasarnya karena meliputi makanan, minuman, kosmetika, obat, busana dan pariwisata halal.

"Saat ini kita masih menempati posisi utama sebagai negara konsumen terbesar yang membelanjakan hampir 170 miliar dolar AS per tahun untuk produk halal, berdasarkan data Global Islamic Economy Indicator 2018/2019. Artinya bila kita dapat memasok kebutuhan sendiri, maka kita akan menghemat devisa sebesar Rp2.465 triliun per tahun," katanya.

Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah infrastruktur dalam negeri yang mengurusi sertifikasi halal harus terus diperkuat. Saat ini di dalam negeri masih terus berputar-putar pada persoalan sertifikasi halal.

“Bahkan sampai pada stagnasi proses pendaftaran sertifikasi halal. Alasannya, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) belum siap menyelenggarakan sertifikasi halal,” katanya.

Persoalan sertifikasi halal harus segera ada solusinya sembari terus membangun berbagai unsur pendukung agar Indonesia menjadi tuan rumah di negaranya sendiri dalam sektor industri halal.

"Yang harus dilakukan saat ini bagaimana Indonesia dapat menikmati keuntungan dari perdagangan industri halal dan Indonesia menjadi industri utama dunia dalam perdagangan produk halal. Karena sertifikasi halal itu hanya salah satu instrumen saja," pungkasnya. (hmz/antara/dbs)

 

Baca juga:

Mulai 2021, Jaket Kulit Hingga Wadah Makan Wajib Bersertifikasi Halal

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store