:
:
News
Pakar Ekonomi Syariah: Perkembangan Industri Halal Indonesia Semakin Tumbuh

gomuslim.co.idPakar ekonomi Syariah, Irfan Syauki Beik menyatakan perkembangan industri halal global terus bertumbuh, begitu juga di Indonesia terutama sektor makanan dan minuman serta pariwisata. Edukasi gaya hidup halal harus terus disosialisasikan dalam upaya mewujudkan Indonesia menjadi pusat halal dunia.

“Di saat ekonomi dunia melambat, industri halal tetap laju. Bahkan untuk makanan halal atau halal food itu pertumbuhannya 10 sampai 12 persen per tahun,” kata Irfan di Menteng, Jakarta pada Rabu, (18/12/2019).

Ia mengungkapkan, edukasi tentang halal ini harus terus disosialisasikan kepada pelaku industri atau pelaku usaha. Karena halal ini sudah menjadi gaya hidup tidak hanya terkungkung pada frame agama Islam saja.

Dan tentu penerapan atau aplikasinya harus dilakukan secara bertahap. Dengan memasukkan unsur bisnis dalam industri tersebut. Seperti di Italia dan Korea mengembangkan industri halal sebagai bisnis, yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi negaranya.

 

 

Baca juga:

Alhamdulillah, Sejumlah Bank Pembangunan Daerah Tertarik Konversi ke Syariah

 

 

“Kita memandangnya dengan kacamata ideologis yang sempit. Itu saja masalahnya. Padahal kalau menilainya dari bisnis persaingan, kita bisa mewajibkan untuk semua produk luar bersertifikasi halal. Kita menjadi penghambat masuknya barang dari luar negeri,” ujarnya.

Untuk peningkatkan pertumbuhan halal di Indonesia lebih signifikan lagi, Irfan menyarankan agar para pelaku usaha memasukkan unsur bisnis dalam industrinya, bukan hanya agama.

“Soal halal, Italia dikembangkan untuk pusat halal negara Eropa barat. Di Italia, halal itu gaya hidup yang market-nya tidak terbatas muslim saja,” ujar Irfan.

Dia juga menjelaskan, saat berkunjung ke Korea, dirasakan Irfan sangat mudah untuk menikmati makanan halal di negara non-muslim tersebut.

“Di Korea, wisatawan muslim bisa akses informasi halal. Contohnya, saat saya berkunjung ke sana, itu di stasiun saja minta peta restoran halal. Kita bisa langsung dapat brosur berbahasa Indonesia tentang lokasi tempat makan bersertifikasi halal,” jelasnya.

Terkait pengalaman tersebut, Irfan menilai bahwa negara Korea mempersiapkan dengan maksimal segala kebutuhan halal wisatawan muslim dari berbagai negara, termasuk Indonesia yang berkunjung ke negaranya.

“Brosur bahasa Indonesia itu menarik, dan Korea pintar sekali cara memikat wisatawan berkunjung ke sana. Itu bisa jadi approach model sebagai salah satu solusi agar persoalan halal ini bisa diwujudkan. Kita dorong industri halal menerapkan model itu,” ujar Irfan Syauki Beik yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB.

Dia mengimbau agar setiap pelaku usaha menyadari untuk kemudian memperhatikan aspek halal dalam pengembangan bisnisnya. Apalagi pemerintah berkomitmen menjadikan Indonesia pusat halal dunia tahun 2024.

Menurutnya, Indonesia memang mulai berkembang, tapi belum berkapitalisasi dengan baik industri halalnya. Sehingga masih harus belajar dari Korea, Italia, dan Malaysia untuk menangkap potensi halal.

Memang saat ini 21 persen dari ekspor makanan Indonesia merupakan produk halal. Berdasarkan data Indonesia Halal Lifestyle Center, ekspor makanan halal, farmasi dan kosmetik telah menghasilkan pendapatan sebesar 100 juta dolar AS.

“Potensi ekspor makanan halal memang sudah signifikan, tapi diharapkan pemerintah bergerak cepat merealisasikan dukungan lebih kongkret kepada pelaku industri agar Indonesia menjadi pusat halal dunia,” pungkasnya. (hmz/dbs/cdn)

 

 

Baca juga:

DSN MUI Segera Umumkan Fatwa Skema Lembaga Keuangan Syariah

Responsive image
Other Article
Responsive image