:
:
News
Gelar Standarisasi Da’i, MUI: Ini Hanya Pilihan, Bagi Da'i yang Tidak Sertifikasi Tetap Boleh Berdakwah

gomuslim.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar program standarisasi Da’i. Agenda tersebut mengundang sekitar 50 pendakwah dari beberapa wilayah di Indonesia. MUI menegaskan standarisasi dai ini merupakan sebuah pilihan dan mempersilakan bagi dai yang tak ikut untuk terus berdakwah.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengatakan standardisasi ini dilakukan guna meningkatkan kualitas penceramah di Indonesia. Katanya, da’i yang ikut standarisasi ini tidak terkait dengan MUI.

"Jadi MUI tidak punya hukum yang mengikat untuk melaksanakan dakwah seseorang. Untuk itu kita dalam melakukan standarisasi, jangan sampai ada anggapan ‘kita dikandangin nih. MUI sudah ikut pemerintah," ujarnya Cholil di Kantor Pusat MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019).

Ia mengungkapkan, Usai dibekali, kata Cholil, para dai tersebut diperbolehkan meminta rekomendasi MUI ketika ingin berdakwah, misalnya ketika punya keinginan ceramah di stasiun TV.

"Direkomendsikan MUI kalau ada yang mau ceramah di televisi," ujar Kiai Cholil.

Sementara itu, Dewan Pimpinan MUI KH Masduki Baedlowi menyatakan, program standarisasi dai adalah bentuk kerja sama pemerintah dengan dai yang memiliki sertifikat dakwah MUI. Menurutnya dai yang akan mengisi ceramah di masjid pemerintah harus memiliki sertifikat tersebut.

 

Baca juga:

Kemenag Rancang Program Sertifikasi Da’i

 

"Tetapi dalam catatannya adalah yang ikut ini itu akan menjadi bagian dari kerja sama pemerintah. Nanti pemerintah juga akan membuat suatu kebijakan, dai yang akan melakukan dakwah, khotbah di masjid pemerintahan itu adalah bersertifikat," kata dia.

Ia mengatakan, selain di televisi, berdakwah di media sosial saat ini menjadi suatu keharusan bagi para dai di Indonesia. Sebab menurutnya, saat ini masa depan masyarakat, khususnya anak muda, yaitu ada di tangan generasi milenial. Dimana mayoritas dari mereka lebih condong terhadap sosial media.

"Saat ini bisa dikatakan berdakwah di media sosial sudah menjadi keharusan karena masa depan itu ada di tangan generasi milenial," terangnya.

Oleh karenanya, para pendakwah harus paham tentang fenomena saat ini, dan jangan sampai terpengaruh berita hoaks. Jangan sampai karena jadi korban hoaks, dai malah menyampaikan berita-berita yang belum terverifikasi.

"Artinya kita (red. Dai) bermedia sosial masih sangat terpengaruh. Kita sebagai yang berdakwah harus paham tentang fenomena saat ini," pungkasnya. (hmz/rilis)

 

Baca juga:

Kepala LSP LPPOM MUI: Kami Siap Lakukan Sertifikasi Auditor Halal

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store