:
:
News
Anggota DSN MUI: Zakat Produktif Sangat Penting untuk Pemberdayaan Umat

gomuslim.co.id – Pengelolaan dana zakat melahirkan sebuah sistem pemberdayaan umat. Pada perkembangannya, pergerakan penghimpunan zakat terdorong menjadi lebih fleksibel dan luas. Salah satu yang muncul dalam proses ini adalah alternatif zakat yang dikenal dengan zakat produktif.

Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Adiwarman Azwar Karim menilai zakat produktif sangat penting, terlebih jika dikorelasikan dengan sektor pertanian. Hal tersebut mengingat pertanian merupakan salah satu komoditas utama masyarakat Indonesia.

Menurutnya, dengan melimpahnya jumlah petani dan lahan pertanian di Indonesia, jika tidak disertai pengelolaan yang baik maka hanya akan menjadi catatan angka belaka. Karena itu, korelasi zakat dengan pertanian sangat bisa untuk terus didorong.

Dewan Pengawas Lembaga Perbankan Syariah ini menjelaskan, berdasarkan penerimanya, zakat dibagi atas dua bagian. “Yaitu fii dan lii. Kalau lii, memang tidak bisa kita apa-apakan, hanya untuk penerima saja. Tapi kalau yang untuk lii, Insya Allah sesuatu yang bisa dijadikan zakat produktif," ujarnya baru-baru ini.

Adiwarman mengatakan jika bicara zakat produktif pada sektor pertanian, ada tiga yang bisa dimanfaatkan. “Pertama adalah lii tadi, karena banyak petani yang fuqara (fakir) dan masakin (miskin), ini bisa kita kasih tapi jumlahnya terbatas. Kedua, ada yang fii tadi, tapi jumlahnya tidak banyak juga karena banyak golongan lain yang harus dikasih selain petani tadi,” paparnya.

Adapun, pemanfaatan dana zakat yang ketiga yakni melalui crowdfunding atau praktik penggalangan dana dalam sektor pertanian. Menurut Adiwarman, jika zakat dikembangkan untuk menjadi penarik crowdfunding, maka jumlah dana yang terhimpun akan jauh lebih besar sehingga bisa membangun pertanian yang lebih maju.

 

Baca juga:

Pusat Studi Zakat Kini Hadir di UNISNU

 

Namun, ada ada dua hal yang harus diupayakan  mengembangkan zakat produktif pada sektor pertanian ini, yakni timing dan transparansi. “Timing harus tepat antara uang zakat untuk menarik crowdfunding. Kemudian wajib adanya transparansi, karena orang kalau bayar zakat tapi nggak tahu uangnya jadi apa, orang jadinya nggak senang. Tapi kalau dia tahu, uangnya jadi apa, pasti dia akan senang," tuturnya.

Ia berharap bahwa dana zakat yang dikelola dengan metode yang baik ini dapat menarik pemerintah untuk ikut berpartsipasi agar perataan kesejahteraan masyarakat akan terlaksana dengan efisien. "Semoga para petani bisa merasakan dampaknya dari zakat ini," imbuhnya.

Sebab, jika pertanian tak dikembangkan dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia maka akan berakibat pada krisis kedaulatan pangan. Vietnam dan Thailand merupakan negara yang memasok beras ke Indonesia. Adiwarman menilai, jika kedua negara tersebut memutuskan untuk tidak lagi mengekspor berasnya ke tanah air, maka akan jadi masalah untuk negara dan seluruh warganya.

“Karenanya pertanian dari sisi ilmu pertahanan Nasional merupakan salah satu pilar yang harus dijaga, sehingga, penyelenggaraannya harus dilakukan secara berjamaah agar hasil yang didapatkan lebih maksimal,” tuturnya.

Sektor pertanian juga menjadi fokus PPPA Daarul Qur’an dalam mengelola dana zakat. Salah satunya melalui Daqu Agrotechno yang hasilnya dimanfaatkan untuk keberlangsungan pangan sehari-hari para santri penghafal Alquran di pesantren-pesantren tahfizh Daarul Qur’an. (jms/daqu)

 

 

Baca juga:

Baznas Kaltim Gelar Kunjungan ke Baitul Mal Aceh untuk Belajar Pengelolaan Zakat

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store