:
:
News
Museum Seni Budaya Islam Shangrila Siap Aktif Kembali

gomuslim.co.id - Museum Seni, Budaya, dan Desain Islam Shangri La, di Honolulu kini mencoba menjangkau lebih banyak pengunjung, di antaranya lewat acara perburuan serta menampung seniman yang bertugas mengeksplorasi budaya Muslim juga Hawai lewat cara baru.  

Diketahui, seseorang dari Lithuania yang tinggal di Hawai bernama Laura Berry, tengah menjalankan sebuah misi. Berdiri di sebuah ruangan yang menyimpan keramik abad ke-13 dan tempat shalat dari Iran. Dia mencoba menghitung berapa banyak manusia yang berjajar di ambang pintu. 

Dilansir kantor berita The New York Times pada Jumat, (25/10/2019), itu merupakan bagian dari acara 'Perburuan Pemburu: Tokoh dalam Seni Islam' yang digelar baru-baru ini di Museum Seni, Budaya & Desain Islam Shangri La, di Honolulu. Museum tersebut dibangun pada 1937 sebagai rumah bagi pewaris miliuner Amerika Doris Dulke.

 

Baca juga:

Muslim Travelers, Ini 10 Kota Wisata Terbaik 2020 versi Lonely Planet

 

Maka pada 2002, rumah itu diresmikan menjadi museum. Dalam museum tersebut ditampilkan banyak benda yang dikumpulkan Duke dari perjalanannya ke seluruh dunia. 

Hanya saja, dia meninggal ketika usia 80 atau pada 1993 lalu. Ia kemudian berwasiat, agar properti itu bisa digunakan untuk sarjana, mahasiswa, dan orang lain yang tertarik pada kelanjutan serta pelestarian seni Islam. 

Beberapa tahun sebelumnya, ada residensi yang menampilkan beragam bentuk seni tradisional seperti miniatur dan kaligrafi. Hanya saja baru-baru ini lebih banyak partisipan yang terlibat seperti musisi The Reminders, komedian Hari Kondabolu, presenter kondang Taz Ahmed dan Zahra Noorbakhsh, serta lainnya. 

Direktur Eksekutif Museum, Konrad Ng, mengatakan sejak 2016, ia ditugaskan untuk mengaktifkan tempat tersebut melalui cara-cara baru.

Katanya, pada bulan ini, sebuah kelompok dari Indonesia yakni Papermoon Puppet Theatre yang menampilkan pertunjukan kontemporer pada wayang kulit tradisional turut hadir di Museum. Selanjutnya bulan depan, museum akan menjadi tuan rumah dari pertunjukkan Anida Yoeu Ali.  

"Idenya adalah untuk menjadi lebih luas dalam jangkauan kami ke publik dan untuk bereksperimen, jadi benar-benar memikirkan museum sebagai garasi inovasi untuk ide-ide," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, museum memiliki peran khusus dalam demokrasi. Maka dirinya siap melawan meningkatnya xenofobia. Kini, seniman atau pemikir budaya yang terlibat dalam misi, koleksi, memahami potensi, dan menafsirkannya.

"Dalam banyak hal, jadilah kompas moral yang menentukan ke mana museum ini seharusnya pergi,” pungkasnya. (hmz/thenewyorktimes)



Baca juga:

Festival Budaya Rusia Hadir Perdana di Riyadh Saudi

Responsive image
Other Article
Responsive image