:
:
News
Ini Fakta Film Hayya, Film Indonesia Pertama yang Syuting di Palestina

gomuslim.co.id – Setelah sukses  memproduksi film 212 The Power of Love pada tahun 2018 lalu, Warna Pictures kembali merilis film terbaru yang merupakan sekuel dari film sebelumnya yakni Hayya The Power of Love 2. Namun film ini memiliki cerita yang berbeda dan mengambil latar di dua negara yakni Indonesia dan Palestina.

Film dengan durasi 101 menit ini diperankan oleh Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, Ria Ricis, Meyda Safira, Asma Nadia juga pendatang baru cilik yakni Amna Hasanah Shahab sebagai Hayya, tokoh utama film ini.

 

Memiliki Pesan Kemanusiaan

Dalam jajaran produser, terdapat Erik Yusuf dan Oki Setiana Dewi. Erik mengaku, hal tersebut dilakukannya semata-mata agar kita tidak lupa bahwa cukup menjadi manusia untuk peduli dengan manusia lainnya. Tak harus menjadi seiman, tak perlu sesuku, sebangsa untuk peduli sama yang lain.

“Nah dari film ini kami berharap semua penontonnya, melepaskan seluruh predikatnya dan kembali jadi manusia yang peduli dengan manusia yang lainnya. Inilah pesan dari film ini,” ujarnya saat konferensi pers pasca pemutaran perdana film Hayya di XXI Epicentrum Walk, Ahad (8/09/2019).

Menurut Anggota komisi pembinaan seni budaya MUI ini, masalah anak-anak terlebih di daerah konfik bukan hanya urusan bangsa tersebut tapi urusan semua umat manusia.

“Karenanya, film ini bernilai universal juga memberikan alternatif, film-film positif untuk tontonan anak-anak dan milenial di bioskop,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Oki Setiana Dewi, menurutnya persoalan Palestina adalah persoalan sepanjang masa.

 

 

“Saya berharap dari film ini yang merupakan film Indonesia pertama yang syuting di Palestina, mudah-mudahan menjadikan ingatan penonton menjadi terpatri tentang Palestina. Kadang kalau hanya ceramah dari satu masjid ke masjid lainnya memerlukan waktu yang lama untuk menyebarkan kecintaan akan Palestina. Tapi kalau lewat film Insya Allah menjadikan semua orang ingat kembali Palestina,” katanya.

Oki juga berterimakasih pada adiknya, Ria Ricis yang berhasil membawakan peran dengan baik. "Ricis bagus banget, bahasa Melayunya lumayanlah. saya nggak nyangka Ricis pintar bahasa melayu dan membuat film jadi lebih hidup," tambahnya.

 

Sempat Kesulitan Mencari Pemeran Hayya

Tokoh Hayya diperankan oleh pendatang baru artis cilik yakni Amna Shahab. Sang sutradara, Jastis Arimba mengaku hal tersebut menjadi tantangan besar baginya. Menemukan pemeran karakter Hayya terjadi di momen-momen terakhir sebelum proses syuting di mulai awal tahun ini. Tim produksi telah mencoba mencari melalui agen artis hingga mendatangi beberapa tempat yang menjadi lingkungan keturunan Timur Tengah.

Jastis bahkan mendatangi tempat-tempat suaka yang terdapat orang-orang asal Timur Tengah. Usaha tersebut namun berakhir sia-sia karena tidak menemukan kecocokan untuk peran itu.

"Akhirnya ketemu anak Condet, namanya Amna Sahab, dia punya bakat," ujar Jastis.

 

 

Sejak proses kasting, Jastis merasa menemukan ikatan ketika pertama kali bertemu Amna. Sosok anak kecil berusia enam tahun ini dinilai memiliki bakat dalam seni peran.

Setelah terpilih Amna pun mendapatkan bimbingan untuk melakukan dialog Bahasa Arab. Dia pun bisa melakukan segala permintaan untuk memerankan karakter Hayya sebagai anak dari Palestina yang telah merasakan konflik sejak usia dini.

"Kalau tidak ada bakatnya bisa kacau ini karena harus sekolahkan dulu, makanya pas kasting saya langsung bukan casting director," tuturnya.

 

Film Hayya dibukukan dalam sebuah Novel

Produser sekaligus penulis Helvy Tiana Rosa, menuliskan film Hayya menjadi sebuah novel.

“Film ini ditulis berdasarkan scenario yang ditulis oleh Jastis Arimba kemudian saya dan Beni Aras yang menuliskan dalam bentuk novel. Endingnya beda, nanti kalau mau lihat seperti apa ya beli novelnya,” katanya.

Menurutnya, hal ini menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai jihad budaya.

“Jika kita nggak bisa nolongin anak-anak Palestina secara langsung jadi paling tidak, kita bisa doakan kita bisa sumbang harta kita, kreativitas kita. 100% keuntungan dari penjualan buku itu disumbangkan untuk Palestina,” tandasnya.

“Kami bersyukur karena idealisme kita dihargai. Dan insya Allah kita akan bikin film-film yang mungkin berlawanan dengan pasar, tapi kami percaya kalau film ini dibutuhkan,” ujarnya.

 

Gandeng Banyak NGO

Film berdurasi 101 menit ini menggandeng beberapa NGO salah satunya Aman Palestina yang merupakan NGO terbesar dan bemarkas di Gaza.

“Persoalan akan-anak Indonesia, Palestina, Suriah yang kurang beruntung. Sebagian keuntungan dari film ini kami bagikan ke semua anak-anak yang kurang beruntung baik anak Palestina, Palestina, Suriah maupun Indonesia itu sendiri melalui beberapa lembaga kemanusian. Ada Aman Palestina, INH Human Community, juga Rumah Zakat yang sudah mendukung kami menyelenggarakan film ini,” tandas Helvy.

 

Impian Sang Sutradara Sejak Kecil

Dua sekuel film The Power Of Love ini disutradarai oleh satu orang yang sama, yakni Jastis Arimba. Baginya, proses pembuatan film hingga penayangan perdananya sangat menguras emosi.

“Film ini memberikan rasa sebagaimana saat pertama kali saya membuat karya.  Membuat film bertema Palestine adalah cita-cita saya sejak kuliah. Saya nerveous luar biasa, asam lambung saya juga naik,” kata Jastis Arimba.

Dia berharap, penonton film ini nantinya punya rasa syukur bahwa kita hidup di negara yang aman, damai, dimana anak-anak bisa bermain tanpa rasa takut, dan bisa sekolah.

 

Aktor Adhin Abdul Hakim Sempat ditahan Tentara Israel

Film Indonesia yang pertama kali mengambil latar Palestina ini bukan tanpa tantangan. Salah satu pemeran penting dalam film ini, yakni Adhin Abdul Hakim sempat ditahan tentara Israel saat akan memasuki daerah Gaza.

“Jadi otoritas disana kan memang sudah banyak dipegang Israel ya, jadi gua sempat dicurigai ntah sebabnya apa. Mungkin style gua kalo kemana-mana kan gondrong, brewokan, pake tas ransel sepatu boot. Dan nama gua mungkin terlalu gimana bagi orang sana.  Dibanding Jastis Arimba, Ria dan OSD. Akhirnya saya ditanya nama dan asal, mereka nggak percaya. Apalagi passport Indonesia nggak ada bin/binti dan di sebelah saya ada yang dari Malaysia ada bin nya. Mereka mempermasalahkan itu,” paparnya kepada gomuslim.

Rekanan lain, kata Adhin dapat lolos hanya dengan beberapa pertanyaan formalitas.

“Gua sampe sekitar 1 jam untuk diinterogasi. Sampai dipanggil salah satu kepala penjaga untuk ngurus gua. Gua dibawa ke salah satu ruangan, one on one ditanya dengan pertanyaan yang sama, nama dan asal akhirnya mereka capek juga, lalu dipersilakan masuk,” jelasnya.

 

 

“Saya sih nggak takut, saya yakin niat saya baik kok, berkarya yang bermanfaat, nggak ada niatan buat kerusuhan keributan. Bagi saya nggak serem malah menyenangkan,” tuturnya.

Adhin juga mengaku bersyukur memiliki kesempatan untuk mengunjungi Gaza. “Karena yang orang Palestina aja belum tentu bisa ke Gaza. Karena otoritasnya udah berbeda jadi susah masuk ke Gaza,” katanya.

 

Gaet Seniman Asal Lampung, Humaidi Abbas Untuk Pemeran Abah

Dari kedua sekuel film ini, peran Abah Zaenal sebagai ayah Rahmat (Fauzi Baadila) cukup disorot publik. Selain karena perannya yang cukup penting dalam cerita, juga karena kemampuan aktingnya yang sukses mencuri perhatian penonton.

 

 

Tokoh tersebut diperankan oleh Humaidi Abbas yang merupakan seniman tradisi dari Teater 1 Lampung. Pria berusia 61 tahun itu juga Pensiunan Taman Budaya Provinsi Lampung.

“Film 212 sama Hayya tentu ada bedanya, kalau dulu lebih meyakinkan umat untuk sayang pada siapa aja. Sebagai abah Zaenal mengenalkan pada banyak orang bahwa Islam itu Rahmatan lil alamin. Kalau yang sekarang, menunjukkan kecintaan pada Palestina, pada keluarga, dan tanggung jawab orangtua kepada anak,” jelas seniman gambus lunik (kecil) ini. (nov/gomuslim)

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store