:
:
News
Berkah Idul Adha, Pengrajin Tusuk Sate Banjir Orderan

gomuslim.co.id – Jelang hari raya idul adha, pengrajin tusuk sate turut mendapatkan berkahnya. Salah satunya, para warga yang umumnya lansia di Dusun Desa, Desa Saguling, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kampung tersebut dikenal sebagai salah satu sentra tusuk sate di Kabupaten Ciamis sejak dulu dan memproduksi tusuk sate yang dibuat manual menggunakan tangan.

Menjelang Idul Adha atau Hari Raya Kurban, banyak berdatangan pengepul dari berbagai daerah untuk membeli tusuk sate. Nantinya akan dijual dan disebar ke daerah lain. Sehingga, para pengrajin tak perlu repot memasarkannya. Bahkan kali ini tusuk sate produksi para lansia tersebut jadi rebutan para pembeli. Tusuk sate tradisional dari Ciamis ini masih banyak peminatnya, meski harus bersaing dengan tusuk sate produksi mesin.

 

Baca juga:

Ini Keistimewaan Orang yang Berkurban

 

Menurut salah satu pengrajin tusuk sate, Odah (55) mengatakan daging yang ditusuk tidak akan merosot dibanding menggunakan tusuk sate mesin yang mengkilap. Odah sudah sejak belasan tahun memproduksi tusuk sate tradisional. Terutama menjelang Lebaran Kurban, ia lebih bersemangat karena banyak yang datang membeli produknya.

"Jualnya mudah, kalau hari biasa yang ambil seminggu sekali. Tapi kalau sekarang mau kurban hampir setiap hari ada yang datang," ujar Odah.

Lebih lanjut, Odah menjelaskan hampir setiap rumah di kampungnya memproduksi tusuk sate. Namun kebanyakan dilakukan oleh para lansia sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.

"Daripada jenuh diam di rumah, ya membuat tusuk sate karena mudah, lumayan menghasilkan. Jadi kalau ada waktu luang, kalau tidak ke sawah, ya terus produksi," ucapnya.

Odah menjelaskan membuat tusuk sate sebanyak 1 kodi atau 20 ikat berisi 250 tusuk sate biasanya memerlukan waktu 3 sampai 5 hari. Prosesnya, mulai memotong bambu, kemudian meraut jadi kecil-kecil, lalu menjemurnya selama 2 hari sampai mengering, lalu membersihkan menggunakan ban dalam bekas, kemudian mengikatnya sesuai hitungan, dan terakhir menjualnya.

Pengepul akan datang untuk mengambil dan membayarnya sebesar Rp 24 ribu. Namun ia juga biasa menjual tusuk sate eceran, harganya Rp 5.000 untuk dua ikat.

"Satu kodi itu dibuat dari 1 batang bambu. Kadang satu kodi lebih. Bambunya biasa beli Rp 10 ribu," katanya. (nov/dbs/kompas/det)

 

 

Baca juga:

Beli Hewan Kurban Hanya dengan Rp 1 di Flash Sale Bawa Berkah

Responsive image
Other Article
Responsive image