:
:
News
Begini Kata Gubernur Senior BI Soal Penggunaan Uang Kertas Rupiah untuk Mahar

gomuslim.co.id – Penggunaan uang kertas rupiah untuk digunakan sebagai mahar dalam pernikahan kini menjadi sorotan. Maraknya riasan unik berbahan uang kertas ini pun turut menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). Pasalnya, uang kertas dikreasikan sedemikian rupa seperti dilipat, dilem dan distapler.

Terkait hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara meminta masyarakat untuk selalu menjaga dan memelihara kondisi uang. Ia tidak melarang penggunaan rupiah sebagai mahar, asalkan kondisi uang sesuai kondisi semestinya atau tidak dirusak.

"Kalau ditanya boleh atau enggak uang kertas jadi mahar, ya boleh saja. Tapi jangan dilipat-lipat. Intinya BI punya kampanye bagaimana kita memelihara uang, jangan dilipat, jangan dicoret-coret, jangan distaples, jangan dibasahi, dan jangan diremas-remas," ujarnya baru-baru ini.

Ia menjelaskan, dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang disebutkan bahwa rupiah tidak boleh dirusak dengan cara apapun. Setiap orang, dilarang merusak, memotong, menghancurkan, dan atau mengubah rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan rupiah sebagai simbol negara.

 

Baca juga:

BI dan KNKS Kembangkan Keuangan Syariah

 

Dalam UU tersebut bahkan terdapat ancaman sanksi denda dan pidana bagi para pelaku yang merusak rupiah. Tak main-main, ancaman pidananya 5 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. Uang kertas yang dilipat menjadi perhatian khusus karena bisa dikategorikan dalam merusak rupiah.

Mirza bahkan menyarankan agar masyarakat menggunakan uang elektronik sebagai mahar pernikahan. Sebab, hal tersebut mendukung gerakan pembayaran non tunai (cashless). "Atau tidak harus rupiah kan juga bisa, misalnya bisa juga pakai e-money (uang elektronik), non tunai begitu," cetusnya. (jms/kompas/cnn)

 

 

Baca juga:

Bank Indonesia Sumut Catat Penarikan Uang Capai Rp 5 Triliun Saat Lebaran 2019

 

Responsive image
Other Article
Responsive image