:
:
News
LPPOM MUI Ungkap Alasan Pentingnya Kehalalan Jamu

gomuslim.co.id - Indonesia memiliki keunggulan dalam hal pengembangan jamu, karena ada sedikitnya 9.600 jenis tanaman obat yang dapat digunakan sebagai bahan dasar jamu. Penggemar jamu juga sangat beragam, mulai dari orang tua hingga anak-anak.

Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing dan Sistem Jaminan Halal, Ir. Muti Arintawati, M.Si, mengatakan jamu dan obat herbal tradisional berasal dari bahan-bahan tumbuhan yang sudah tentu terjamin kehalalannya. Namun pada kenyataannya, walaupun disebut berasal dari bahan herbal atau tumbuhan, ternyata ada pula jamu yang menggunakan bahan tambahan atau campuran dari bahan hewani. Bahkan ada pula yang menggunakan campuran bahan dari organ binatang buas. Sehingga status kehalalannya pun dapat diragukan, atau bahkan menjadi haram dikonsumsi bagi umat Muslim.

Lebih lanjut, Muti menjelaskan banyak beredar jamu herbal dari China, yang banyak dipergunakan untuk pasien setelah operasi besar. Misalnya untuk ibu-ibu setelah operasi cesar, atau pasien operasi usus buntu.

Konon, mengkonsumsi jamu-obat tradisional China itu memang membantu mempercepat pemulihan luka. Dan jamu atau obat herbal itu banyak dipakai secara umum, termasuk oleh masyarakat Muslim. Karena dianggap memiliki khasiat yang baik.

 

Baca juga:

Urus Sertifikasi Halal Anti Ribet, BPJPH Siapkan Sistem Informasi Halal

 

“Namun setelah komposisi kandungan bahannya dibaca dengan teliti, ternyata, jamu atau obat yang disebut herbal itu mengandung bahan hewani juga, di antaranya adalah darah ular,” tandasnya.

Padahal, darah itu secara umum terlarang dikonsumsi. Termasuk untuk obat sekalipun. Apalagi ini darah ular yang jelas diharamkan dalam Islam. Selain itu, ada pula bahan jamu atau obat herbal, terutama yang berasal dari tradisional China menggunakan berbagai bahan tambahan hewani. Seperti ada yang menggunakan tangkur buaya, kuku macan, hati beruang, dll.

Bagi kebanyakan orang awam, jamu herbal dianggap hanya berasal dari tumbuhan. Pada kenyataannya tidak demikian. Maka, menuru Muti jamu herbal itu harus diteliti dengan proses sertifikasi halal, guna meyakinkan bahwa semua kandungan bahan dan proses produksinya memang halal menurut kaidah syariah.

Saat ini, lanjutnya, ada pula bahan jamu herbal yang dimasukkan ke dalam cangkang kapsul. Menurutnya kapsul itu juga tentu harus diteliti dengan seksama. Karena pada dasarnya, cangkang kapsul itu dibuat dari bahan gelatin. Dan sebagian besar bahan gelatin itu berasal dari hewan, terutama babi yang diharamkan dalam Islam. Dan kalau menggunakan kapsul dari gelatin babi itu, tentu menjadi tidak halal pula dikonsumsi umat Islam.

Berdasarkan panduan Alquran dan Sunnah, sebenarnya sangat mudah untuk menentukan  kehalalan suatu obat. Hal ini terutama berlaku bagi jamu dan obat herbal, dimana semua tanaman (kecuali yang merugikan) dijamin kehalalannya untuk dikonsumsi. Namun, keterlibatan teknologi yang berkembang pesat dan perdagangan bebas membuat penilaian ini tidak mudah. Ada banyak aspek yang harus dipenuhi dan dikaji oleh para ahli sebelum obat dan jamu tradisional tersebut dinyatakan halal. (nov/lppommui)

 

 

Baca juga:

Kepala BPJPH: Sertifikasi Halal Masih Bersifat Sukarela, Tapi Mulai Oktober Semua Produk Wajib

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store