:
:
News
Museum Aceh Kembali Gelar Pameran Temporer Bertema ‘Siklus Kehidupan’

gomuslim.co.id - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalui UPTD Museum Aceh akan kembali menggelar pameran temporer dengan mengangkat tema “Siklus Kehidupan” selama lima hari mendatang. Pameran yang dijadwalkan berlangsung 25 sampai 30 April nantinya akan memamerkan lika-liku kehidupan dalam masyarakat Aceh.

“Pameran edukasi kebudayaan ini berisikan berbagai tata cara yang dilakukan masyarakat Aceh dari mulai dari proses menjelang kelahiran bayi hingga prosesi kematian,” jelas Kepala Museum Aceh Junaidah Hasnawati, Rabu (24/04/2019).

Adanya pameran ini, sebut Junaidah dinilai sangat penting bagi masyarakat Aceh yang saat ini sudah memiliki pemikiran milenial.

”Masyarakat kita banyak yang tidak tahu proses lengkap persiapan kelahiran seorang bayi hingga prosesi meninggalnya seorang di Aceh, maka kami sebagai salah satu instansi pemerintah dalam ruang lingkup kebudayaan, merasa penting semua ini ditampilkan,” pungkasnya.

 

Baca juga:

Aceh Seriusi Wisata Halal, Ini Peta Kawasannya

 

Junaidah juga menambahkan, kegiatan yang digelar oleh Museum Aceh ini juga mengandung makna baik tersurat maupun tersirat yang tujuannya jelas sebagai pembelajaran yang langsung di hantarkan pada masyarakat melalui penjelasan gambar, ayat-ayat Al Qur’an, penjelasan tertulis dan lain-lain.

“Ada hal-hal yang mungkin banyak orang sudah melupakannya, di pameran ini kami coba untuk tampil kembali di Museum Aceh ini dengan harapan semua yang kami sajikan nanti dapat membekas di hati para pengunjung nantinya,” harap.

Kita juga berharap, tambah Junaidah, adanya kegiatan pameran ini bisa memberikan pemahaman bagi masyarakat.

”Ada hal membekas bagi pengunjung dengan datang dan melihat sendiri pameran yang kita sajikan. Serta ini terbuka bagi masyarakat juga untuk wisatawan yang berkunjung ke Museum Aceh,” tambahnya.

Selain itu, acara ini bisa menjadi tolok ukur bagi semua lapisan masyarakat jika ada sanak familinya akan menghadapi kelahiran, dengan difahaminya tata laksana atau prosesi menjelang kelahiran bayi, sudah pasti tidak akan bingung menghadapinya, karena semuanya ditampilkan dalam pameran temporer tersebut.

Untuk diketahui, Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus  sampai 15 November 1914.

Setelah Indonesia Merdeka, Museum yang berlokasi di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah No.10, Peuniti, Baiturrahman, Kota Banda Aceh  menjadi milik Pemerintah Daerah Aceh yang pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh. Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tanah seluas 10.800 m2. Setelah pemindahan ini pengelolaannya diserahkan kepada Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat. (fau/disbudparaceh/foto:museumaceh)

 

Baca juga:

Museum Tsunami Aceh Jadi Museum Populer Sepanjang Tahun 2018

Responsive image
Other Article
Responsive image