:
:
News
Muslimah Bercadar Bukti Keberagaman Islam di Indonesia

gomuslim.co.id - Adanya perbedaan antar umat Muslim menggugah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) mengajak masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam untuk tidak menempelkan stigma pada cadar. BKMT mengatakan polemik soal pemakaian cadar lantaran kesan radikal tak perlu ada.

Ketua BKMT, Syifa Fauzia mengatakan, di Indonesia, belum banyak orang yang memahami dan belum banyak orang yang memakai cadar dalam kesehariannya.

“Jadi banyak orang tidak biasa melihat perempuan bercadar," tutur Syifa, Kamis (28/02/2019).

Menurut Syifa, stigma terhadap cadar muncul karena masyarakat belum terbiasa melihat orang memakai cadar. Ada yang sampai mengira perempuan bercadar identik dengan orang radikal.

Seorang Muslimah bercadar jamak terlihat saat melaksanakan umroh dan haji. Bahkan, perempuan Indonesia banyak yang ikut menggunakan cadar saat berada di Arab Saudi.

“Setiap pengguna cadar tentu memiliki motivasi tersendiri ketika memutuskan untuk menggunakan penutup wajah hingga tinggal mata saja yang terlihat,” lanjutnya.

Alasan paling mendasar penggunaan cadar umumnya ialah keinginan untuk menutup sempurna tubuh perempuan dari pandangan lawan jenis. Namun, ada saja orang yang mengiranya berlebihan dalam beragama atau terafiliasi organisasi radikal.

"Kita di negeri yang mayoritas Muslim nggak usah seperti itu karena ini pilihan masing-masing Muslimah," kata Syifa.

 

Baca juga:

Ini Imbauan Menag untuk Muslimah Bercadar

 

Muslimah berhijab di Indonesia menampilkan dirinya dengan sangat beragam. Ada yang nyaman hanya dengan menggunakan hijab dan ada juga yang memilih menutup aurat sampai kaki. Sedangkan, ada pula Muslimah yang terbiasa menggunakan hijab sampai menutup dada atau memakai cadar. Menurut Syifa, keberagaman itu tidak perlu diperdebatkan di negeri mayoritas Muslim.

Syifa juga berpendapat masyarakat tidak perlu memperdebatkan siapa yang lebih agamis dan shalehah, antara orang yang bercadar dan tidak bercadar. Menggunakan cadar dan menutup aurat tidak menggambarkan kesholehaan seseorang, juga tidak menggambarkan sebagai orang radikal.

Dengan cadar, kata Syifa, tidak menghalangi aktivitas Muslimah. Mereka dapat menjalani aktivitasnya seperti biasa.

Senada dengan Syifa, Ketua Majelis Ulama Indonesi (MUI) Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazahar mengimbau masyarakat agar tidak memusuhi Muslimah yang menjalankan syariat agama dengan menggunakan cadar. Terlepas dari hukumnya wajib atau sunah, penggunaan cadar merupakan cara berpakaian yang dulu diterapkan oleh istri nabi Muhammad SAW.

"MUI tidak suka hal-hal yang sebenarnya syariat, apapun itu hukumnya wajib atau sunat malah dilarang. Jangan sampai memakai cadar itu tercetak di benak generasi muda kita kalau itu sebuah hal yang salah," kata Gusrizal.

Ada fakta yang membuktikan bahwa cadar melekat di keluarga Nabi sehingga tidak salah bila Muslimah menirunya sebagai bagian dari syariat Islam.

"Cadar melekat pada istri-istri nabi kita. Jadi kalau ada yang ingin meniru atau menajalankan syariat, jangan dimusuhi," ujarnya. (nat/rep/dbs/foto:istimewa)

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store