:
:
News
BI Kenalkan Cara Baru Berwakaf dengan 'Wakaf Tunai'

gomuslim.co.id – Dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2018, di hari terakhir diadakan satu forum yang khusus membahas tentang ekonomi dan keuangan syariah sebagai topik usulan atau inisiasi Indonesia sebagai tuan rumah. Dalam forum itu pula, diperkenalkan inovasi keuangan syariah dengan konsep besar cash waqaf atau wakaf secara tunai.

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Anwar Bashori menyebut bahwa wakaf tidak hanya fixed asset, tidak hanya tanah, tetapi sekarang termasuk cash waqf.

“Selama ini konsep wakaf lebih banyak diartikan dalam bentuk memberikan aset tetap atau aset tak bergerak untuk kepentingan umum. Dengan wakaf tunai ini, praktik berwakaf jadi lebih luas karena dananya akan dikelola oleh manajer investasi dalam kurun waktu tertentu sehingga manfaat bagi kepentingan umum jadi lebih besar,” papar Anwar, Minggu (14/10/2018).

 

Baca juga:

IMF Bahas Potensi Keuangan Syariah untuk Dorong SDGs


Konsep ini, lanjut Anwar, sekaligus sebagai satu bagian penting dari Prinsip-prinsip Pokok Tata Kelola Wakaf dan Wakaf Uang Berbasis Sukuk. Anwar mencontohkan, seseorang yang ingin mewakafkan secara tunai sebesar Rp 100 juta, melalui prinsip baru ini maka tinggal diserahkan ke lembaga pengelola wakaf agar uang tersebut diputar dalam jangka waktu tertentu, sehingga, uang wakaf yidak langsung ke masjid, melainkan diproduktifkan terlebih dahulu, dalam hal ini ada nadzir atau pengelola wakaf.

“Dia (pengelola wakaf) harus tahu risk management, seperti di Al Azhar, Dompet Dhuafa, itu sangat profesional,” tutur Anwar.

Upaya ini dinilai lebih efektif ketimbang cara terdahulu, di mana saat seseorang ingin memberi wakaf untuk membangun masjid atau sekolah hanya dengan memberi uang sekali dalam jumlah besar.

Dengan dikelola terlebih dahulu, akan ada dampak rentetan yang diyakini sejalan dengan prinsip menambah pahala. Dikarenakan cara ini terhitung masih baru, maka instrumen yang dipakai untuk investasi wakaf uang adalah di sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara Ritel. Hal ini dilakukan untuk memastikan wakaf uang tersebut dapat kembali setelah jangka waktu berakhir dan mendapatkan return atau imbal hasil atas investasi yang bisa dipakai untuk kegiatan sosial lainnya.

"Dana dari cash tadi, dimasukkan ke wakaf, dikelola risk management dan keuangannya supaya bisa ditanamkan, intinya tetap ada dan menghasilkan. Hasilnya, return itu, dipakai untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti untuk berzakat," pungkas Anwar.

Dua minggu yang lalu, BI sudah meluncurkan produk wakaf uang berbasis sukuk. Sampai saat ini, minat untuk berwakaf secara tunai disebut makin tinggi dan akan terus dikembangkan sejalan dengan prinsip ekonomi dan keuangan syariah. (nat/kompas/dbs/foto:chetor)

 

Baca juga:

Pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali Akan Bahas Pengembangan Keuangan Syariah 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store