:
:
News
Negara Ini Kembangkan Halal Big Data Pertama di Dunia

gomuslim.co.id- Kebutuhan akan produk halal di Thailand makin meningkat. Hal ini disampaikan oleh Asisten Direktur The Halal Science Center Chulalongkorn University, Paradorn Sureephong pada seminar Halal Lifestyle Conference di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat (3/10/2018).

Tuntutan tersebut didorong oleh meningkatnya pertumbuhan populasi muslim yang saat ini sudah mencapai 5 juta jiwa atau 8 persen dari total penduduk Thailand. Kata Sureephong, banyak bermunculan perusahaan penyedia komoditas halal, baik milik pemerintah dan swasta, namun tanpa adanya pengawasan ketat dari sistem kesyariahannya.

Lemahnya sistem pengawasan sesuai standar syariah tersebut disebabkan oleh minimnya informasi terkait dengan profil perusahaan, produk, serta mekanisme pembuatannya yang didapat lembaga sertifikasi halal di Thailand.

“Karena itu, kami membantu mereka untuk memperoleh informasi lengkap untuk pertama kalinya di dunia melalui digitalisasi sertifikasi halal atau Halal Big Data (Habida),”paparnya.

Untuk mendapat laporan yang komprehensif, sambung Sureephong, cara kerja Habida mencakup beberapa hal. Pertama, melacak serta menghimpun sebanyak-banyaknya kuantitas atau volume.

Kedua, mencari beberapa variabel keterangan yang terkait. Selanjutnya, memeriksa serta mempublikasikannya secara rinci kesesuaian (veracity) fakta-fakta yang telah diperoleh.

Ketiga, menyimpannya secara lengkap dalam sebuah platform digital supaya dapat diakses lebih cepat oleh para lembaga sertifikasi halal.

“Keberadaan Habidah diharapkan bisa membantu mempermudah pertimbangan saat menyerahkan informasinya terhadap komite rendah sertifikasi halal yang jumlahnya saat ini mencapai 39 lembaga yang tersebar di beberapa propinsi di Thailand untuk kemudian diserahkan ke majelis tinggi sertifikasi halal,” paparnya.

Lebih lanjut, Sureephong menjelaskan Habidah bukan hanya meneliti informasi mengenai kelayakan komoditas-komoditas halal, tapi juga turut memeriksa perusahaan-perusahaan yang menjadi produsen halal supaya bisa mendorong produknya sesuai dengan standar kesyariahan.

Selain itu, hal ini dimaksudkan agar komite sertifikasi halal mampu menentukan mana saja produsen yang barang-barangnya telah sesuai dengan hukum Islam, serta bisa mencegah munculnya perusahaan yang berpotensi besar mengabaikan prinsip syariah.

Literasi Halal

Sebagaimana di Indonesia, pemahaman konsumen dan produsen di Thailand terkait komoditas halal juga masih menjadi kendala terbesar. Untuk mengatasinya, Sureephong mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan komite rendah sertifikasi halal untuk membuat sistem edukasi melalui digital.

“Edukasi terkait halal digital ini dijadikan satu platform dalam beberapa kanal dengan disertai bukti sertifikasi halalnya,” ujarnya.

Karena itu, tutur Sureephong, tribune HalalThai.com yang telah dibuat lembaganya bukan cuma mencakup informasi perusahaan berserta produk halalnya. Aplikasi ini memuat pembelajaran bagaimana seharusnya barang-barang disesuaikan dengan nilai Islam, dan penjelasan seperti apa dan bagaimana mengenai produk halal tersebut.

“Sebagai konsultan, lembaga kami bukan hanya membantu badan pemerintahan, namun untuk semuanya, termasuk mulai perusahaan skala kecil dan menengah hingga pemain industri besar,”tandasnya.

Sementara itu, untuk membantu peningkatan produk halal pihaknya juga menjalin mitra dengan Pattani Office yang sebelumnya telah fokus pada pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), perusahaan rintisan (start up), dan semacamnya. (hlc/dbs/foto: ilustrasi)

 

 

Responsive image
Other Article
Responsive image