:
:
News
Ini Imbauan IKANU Terkait Pengeras Suara Masjid

gomuslim.co.id-  Penggunaan pengeras suara di masjid belakangan ini menjadi sorotan. Ikatan Alumni Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir (Ikanu) menilai penerapan aturan ini perlu mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat sekitar yang tidak sama.

Sekjen Ikatan Alumni Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir (Ikanu) Anis Mashduqi menyebut dalam hal ini pemerintahlah yang harus mempertimbangkan aspek kesesuaian dengan tradisi, sosial, dan budaya masyarakat. 

"Kami mendukung aturan itu, tetapi tidak bisa dipukul rata penerapannya," ujar Anis Mashduqi di Yogyakarta, Sabtu (01/09/2018).

Sebab, kata Anis, banyak perkampungan yang tidak mempersoalkan penggunaan pengeras suara di masjid baik untuk adzan maupun untuk salawatan.

"Baik adzan, bacaan Alquran, maupun pujian (salawatan) dengan speaker luar masjid selama ini banyak tempat yang tidak ada masalah. Akan tetapi di tempat lain mungkin itu bermasalah," pungkasnya.

Tidak sedikit warga yang justru berterimakasih dengan dilantunkannya bacaan ayat suci Alquran maupun salawatan melalui pengeras suara dalam maupun luar masjid.

"Dalam imajinasi orang religius di kampung justru bacaan-bacaan Alquran maupun salawatan membawa kedamaian," kata dia.

Anis berharap penerapan regulasi itu sebaiknya khusus menyasar daerah-daerah yang terindikasi memiliki potensi resistensi lebih besar apabila penggunaan pengeras suara masjid atau mushola di luar aturan.

"Kalau sekitar masjid ada warga yang beragama lain misalnya, atau komplain di situ baru masjidnya dikenai regulasi itu. Tetapi kalau masyarakatnya Muslim semua dan tidak ada masalah maka tidak perlu diterapkan," paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) RI meminta kantor wilayah kembali menyosialisasikan aturan tentang penggunaan pengeras suara di masjid. Dirjen Bimas Islam Kemenag Muhammadiyah Amin menjelaskan aturan tentang tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan mushola sudah ada sejak 1978. 

Aturan itu tertuang dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978, dan hingga saat ini, belum ada perubahan. Kata Amin, penggunaan pengeras suara juga bisa mengganggu orang yang sedang beristirahat atau penyelenggaraan upacara keagamaan. Untuk itu, diperlukan aturan dan itu sudah terbit sejak 1978.

Instruksi tersebut memaparkan bahwa pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu sholat.

“Bacaan sholat atau doa cukup menggunakan pengeras suara dalam,” ujarnya. (nat/antara/dbs/foto:eramuslim)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store