:
:
News
Fintech Jadi Peluang Bagi Industri Keuangan Syariah untuk Optimalkan Ekonomi Digital

gomuslim.co.id- Kehadiran financial technology (fintech) seharusnya menjadi peluang bagi industri keuangan syariah untuk mengoptimalkan ekonomi digital. Hal tersebut sekaligus mendorong inovasi dalam bidang keuangan dan mempercepat target inklusi keuangan.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dalam konferensi keuangan syariah ke-3 atau The 3rd Annual Islamic Finance Conference di Makassar, Sulawesi Selatan, baru-baru ini. Ia menilai perkembangan teknologi ini sangat bermanfaat untuk meraih pangsa yang lebih besar dan tingkat ketercakupan yang lebih luas.

“Tidak hanya meningkatkan peluang terhadap akses pembiayaan, namun juga meningkatkan literasi keuangan syariah. Pemenuhan akses ke berbagai institusi finansial termasuk pemanfaatan Fintech sangat krusial, karena juga bisa mengurangi angka kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja," paparnya.

Hanya saja, sambung dia, kehadiran fintech juga bisa memunculkan beberapa tantangan seperti risiko kegagalan teknologi, masalah ketenagakerjaan, kekosongan regulasi, perlindungan konsumen serta pemenuhan prinsip syariah bagi konsumen keuangan syariah.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suahasil Nazara. Ia memastikan berbagai inovasi dalam layanan ekonomi digital bisa mendorong perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia.

"Salah satu inovasi untuk mendukung industri keuangan syariah tersebut adalah pemanfaatan Financial Technology (Fintech) untuk memperoleh akses pembiayaan," kata Suahasil.

Menurut dia, hal tersebut bisa diwujudkan mengingat saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan permintaan untuk penggunaan instrumen syariah dalam setiap lini kehidupan sedang tinggi.

"Fintech ini sudah berkembang dengan berbagai macam ide dan kreativitas untuk memperlancar proses intermediasi perbankan, tapi kita harus mendiskusikan ini. Karena kita ingin pastikan Fintech ini memenuhi 'syariah compliance'," ujarnya.

Suahasil menambahkan saat ini banyak Fintech yang menawarkan jasa pembiayaan konvensional. Namun jumlah Fintech syariah yang memberikan layanan produk pembiayaan syariah dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, masih minim.

Untuk itu, pemahaman atas proses bisnis syariah harus lebih dikembangkan kepada para pelaku Fintech agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang merugikan masyarakat dan teknologi digital bisa memberikan dampak positif ke perekonomian.

"Cara membuat Fintech seperti ini membutuhkan 'syariah compliance' karena tidak hanya meminjam uang dan membayar bunga, apalagi di syariah tidak ada bunga. Ini yang perlu kami kembangkan, dan dunia usaha perlu lebih mendalam untuk mengetahui aturan syariah," ujarnya.

Ia menambahkan koordinasi dengan instansi terkait seperti MUI dan OJK juga sangat penting untuk meningkatkan literasi keuangan syariah di Indonesia yang saat ini masih rendah dan berpotensi untuk tumbuh lebih optimal.

"MUI bisa mengeluarkan fatwa sesuai dengan prinsip syariah, tapi dari sudut OJK, produk perbankan juga memerlukan pengawasan agar jangan merugikan konsumen," kata Suahasil.

Dengan berbagai upaya tersebut, ia menyakini industri keuangan syariah bisa memperoleh pangsa pasar yang lebih besar dengan tingkat ketercakupan yang lebih luas, apalagi dengan dukungan inovasi teknologi digital seperti Fintech.

"Kami ingin menyampaikan kepada dunia usaha, bahwa pasar ini memang ada 'demand'nya. Jadi kita mendorong tidak hanya layanan Fintech 'syariah compliance', tapi juga konvensional, sebagai alternatif dari reguler, dengan mendorong proses bisnis dan perlindungan konsumen," tutupnya. (njs/antara/tempo/foto:medium) 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store