:
:
News
Dilarang Masuk ke Yerusalem, Begini Nasib Jemaah yang Tidak Bisa Kunjungi Masjid Al Aqsa

gomuslim.co.id- Tingginya minat masyarakat Indonesia beribadah umroh ke tanah suci menjadikan Indonesia sebagai negara dengan urutan nomor satu paling banyak mengirim jemaah umroh. Namun, saat ini untuk melakukan ziarah ke Masjidil Aqsa kian sulit. Hal ini diakui Sekjen Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji (Himpuh), H Anton Subekti, mengatakan para agen mendapat kerugian lumayan besar akibat tidak lagi bisa diterbitkannya 'ijin masuk' (laksana visa) untuk masuk Yerusalem oleh pihak Israel.

‘’Terutama pada bulan Ramadhan seperti ini, jumlah peziarah Indonesia yang ke Aqsa sekitar seribuan orang. Pada bulan biasa, animonya juga lumayan. Salah satu yang terpukul misalnya paket tour ‘Jelajah Bumi Rasul’ yang marak setahun terakhir ini. Mereka jelas terpukul,’’ ujar Anton, Rabu (30/05/2018).

Sampai saat ini, pihaknya masih belum tahu alasan yang pasti dari tidak akan dikeluarkannya visa ketika hendak masuk ke Yerusalem itu. Pihaknya masih bertanya-tanya apakah dicegahnya peziarah Indonesia masuk Yerusalem  yang kini dibawah pengawasan Israel itu akibat Indonesia juga tidak memberikan visa bagi orang Israel berkunjung ke Indonesia.

"Kami belum tahu apa alasan pastinya. Yang kami alami adalah mulai tanggal 8 Juni tidak bisa lagi peziarah Indonesia ke Aqsa. Perjalanan yang biasa dilakukan dengan melalui Mesir atau Yordanisa kini tak dapat lagi dilakukan. Padahal sebelumnya pengurusan visa untuk masuk ke sana butuh waktu beberapa pekan sebelum hari ke berangkatakan," paparnya.

Diakui Anton, selama ini paspor dari Indonesia tidak dicap ketika hendak masuk ke Yerusalamen oleh pihak imigrasi Israel. Para peziarah biasanya hanya sekedar mendapat semacam secarik surat izin (layaknya visa) saja. Sementara paspor tidak dikenai cap tanda masuk oleh pihak penjaga perbatasan di Yerusalem.

Namun saat ini, izin melalui secarik kertas itu pun kini dikabarkan tak bisa lagi didapatkan. Sebab, kalau paspor sempat dicap oleh pihak  imigrasi Israel, mereka nantinya akan ditolak ketika masuk ke negara Arab.

Selama setahun  belakangan, paket berziarah ke Masjidil Aqsa dari Indonesia memang mendapat sambutan antusias oleh peziarah. Apalagi biaya penerbangannya pun terbilang murah. Maskapai Oman Air hanya membandrol harga sebesar 740 dolar AS untuk biaya penerbangan bolak-balik ke sana.

"Saya yakin Oman Air juga terpengaruh atas pelarangan masuk Yerusalem pezairah asal Indonesia ini," pungkasnya. 

Santi seorang mantan peziarah beberapa bulan lalu yang sempat mengunjungi Yerusalem, mengatakan sangat beruntung bila dulu pernah sholat dan berziarah ke kota tua Yerusalem itu. Namun kini sayangnya, tak bisa lagi ke sana karena izin masuk tidak bisa lagi dikabarkan.

“Padahal kami bersama teman-teman pengin ke sana lagi. Dahulu masuk ke Yerusalem melalui Yordania dan ke luar melalui pintu imigrasi Mesir. Dan meski pun sempat masuk, suasana pengawasan oleh tentara Israel memang terasa sangat ketat. Mereka mengawasi barang bawaan para pejiarah melalui aneka alat yang sangat canggih,’’ ujarnya.

Selain peziarah Islam, berbagai peziarah dari agama Kristen Protestan dan Katolik memang juga marak ke Yerusalam. Mirip paket dari peziarah Islam, mereka pun membuka paket ziarah, misalnya menelusuri 'Jejak Yesus Kristus di Yerusalem'. Paket ini dilakukan dengan cara berjalan kaki menyelusuri rute-rute perjalanan hidup Yesus Kristusndalm waktu beberapa pekan.

Sebelum merebaknya perang di Suriah, paket ini banyak peminatnya. Banyak peziarah asal Amerika Latin yang menjadi pesertanya. Selain berjalan kaki menyusuri wilayah Yerusalem, mereka biasanya dengan menumpang bus mengunjungi Damaskus (Suriah), Beirut (Lebanon), hingga Mesir (Kairo).

Khusus bagi para peziarah, selama ini masuk Yerusalem pun sebenarnya terkesan untung-untungan karena tergantung keputusan para tentara Israel yang menjaga pintu masuk ke Yerusalem. Kunjungan bisa tiba-tiba dibatalkan kalau mereka merasa ada sesuatu hal yang mencurigakan atau tiba-tiba muncul kerusuhan di seputar kota Yerusalem.

"Saat ada kejadian seperti itu biasanya pintu perbatasan ditutup. Setiap orang, termasuk orang Palestina, tidak boleh melintasi perbatasan yang diberi pagar itu," pungkas Anton. (nat/rep/dbs/foto:wikipedia)

Responsive image
Other Article
Responsive image