:
:
News
Sertifikasi Hotel Syariah Minim, DSN MUI Akui Keterbatasan Sumber Daya 

gomuslim.co.id- Kesadaran pelaku industri pariwisata terhadap wisata halal di Indonesia sangat penting, khususnya para pelaku perhotelan untuk melakukan sertifikasi syariah terhadap hotelnya. Hal ini mengingat perkembangan wisata halal di Tanah Air cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Demikian disampaikan Sekretaris Bidang Bisnis dan Ekonomi Syariah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), M. Dawud Arif Khan baru-baru ini. Menurutnya, sejak berkembang mulai 2000-an, hanya ada dua hotel yang telah mendapatkan sertifikat syariah dari MUI. Kedua hotel tersebut berada di Jakarta dan Solo.

“Hotel syariah dan rumah sakit syariah menjadi salah satu penopang perkembangan industri wisata halal,” ujarnya.

Dawud menyebutkan, penyebab minimnya hotel yang mengantongi sertifikat syariah adalah karena keterbatasan sumber daya yang ada. Menurut dia, DSN tidak hanya membidangi pariwisata halal dan hotel syariah saja, tetapi juga keuangan syariah, meliputi pelayanan asuransi, perbankan, hingga pasar modal.

“Proses sertifikasi hotel syariah hanya mengandalkan kesadaran dari tiap-tiap pelaku perhotelan. Kita berharap untuk perhotelan dapat didukung asosiasi, karena boleh jadi pada prakteknya sudah  banyak hotel berprinsip syariah tetapi belum berstandar, bersertifikasi. Pengawasannya belum ada, padahal itu penting,” paparnya.

Ada beberapa indikator yang menjadi aspek penilaian sertifikasi hotel syariah antara lain, terdapat fasilitas mushala, tidak menjual makanan dan minuman yang haram, termasuk alkohol dan rokok, serta tidak menyediakan hiburan malam yang tidak sesuai dengan syariah Islam.

Direktur Utama Sofyan Hotel Ruhadi Widiargo menjelaskan, pihaknya menjadi hotel pertama yang mengantungi sertifikat syariah sejak 2004 untuk kedua cabang hotelnya yang berada di Jakarta. Dia menyebut rata-rata okupansi untuk hotel bintang tiga tersebut mencapai 70% setiap tahunnya, dan diharapkan dapat tumbuh 10% pada tahun ini.

“Sejauh ini, mayoritas pelanggan hotelnya masih berasal dari dalam negeri. Sementara wisatawan mancanegara yang menjadi tamunya biasanya dari negara tetangga seperti Malaysia, dan Brunei Darussalam. Untuk wisman yang berasal dari Timur Tengah, biasanya lebih memilih hotel berbintang lima,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan tak sulit untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Menurutnya, antusiasme yang rendah untuk melakukan sertifikasi hotel syariah lebih dikarenakan minimnya sosialisasi dari pihak terkait. Meski demikian, pihaknya mengaku siap mendorong sertifikasi hotel syariah. “Kami ada anak usaha di bidang operator, namanya Sofyan Hospitality. Saat ini memegang 20 hotel. Klien hotel itulah yang akan kami dorong untuk sertifikasi hotel syariah,” ungkapnya

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sudrajat mengatakan pihaknya mendukung upaya pengembangan pariwisata halal di Indonesia. Dia mengaku siap berkomitmen dalam mendorong hotel yang terhimpun dalam PHRI untuk melakukan sertifikasi syariah.

“Kita harus bahu-membahu di dalam mengembangkan hotel yang halal. Prospek bisnis hotel ini masih cukup menarik, dengan pertumbuhan kelas menengah Muslim di Indonesia,” ujarnya.

Country Market Manager Traveloka John Safenson menyatakan, pangsa pasar hotel syariah cukup luas. Tak hanya cocok bagi muslim, hotel syariah juga dianggap cocok bagi pelanggan yang memiliki keluarga.

“Tamu yang menginap di hotel syariah tidak semuanya muslim, karena semuanya mencintai keluarga. Hotel syariah memiliki fasilitas yang nyaman bagi keluarga,” jelasnya.

Dia menyatakan, hingga saat ini terdapat total 730 hotel yang mengklaim syariah dan terdaftar sebagai mitra Traveloka. Namun, tidak semuanya telah mendapatkan sertifikat dari MUI.  Meski tak menyebut angka persisnya, tetapi dia menilai kamar dan keuntungan yang diraih hotel syariah pun menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir.

Sekadar informasi, Halal Travel Konsorsium (HTK) dan Asosiasi Travel Wisata Halal Indonesia (ATHIN) akan menggelar Temu Bisnis Wisata Halal untuk ketiga kalinya. Event tahunan ini rencananya akan diselenggarakan pada Sabtu 2 Juni 2018 di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Acara ini bakal dihadiri 1.000 pelaku bisnis wisata halal Indonesia dan 20 pebisnis wisata halal dari negara Jepang, Korea, New Zealand, Turki, Mesir, China, Maroko, Rusia, Uzbekistan, dan negara Eropa lainnya. Ajang ini adalah Business to Business (B2B) Wisata Halal terbesar di Indonesia. (njs/bisnis/dbs/foto:shs)

Responsive image
Other Article
Responsive image