:
:
News
Gencar Salurkan Pembiayaan, Sejumlah Bank Syariah Siap Tekan NPF

gomuslim.co.id- Sejumlah perbankan syariah Tanah Air semakin gencar menyalurkan beragam  pembiayaan. Namun demikian, penekanan terhadap non performing financing (NPF) atau dikenal dengan laju pembiayaan bermasalah tetap menjadi perhatian.  

Sebagai contoh, PT Bank BCA Syariah baru-baru ini menyatakan akan berusaha menjaga NPF berada di level rendah. Pada pencapaian akhir kuartal I 2018, NPF BCA Syariah menjadi salah satu yang paling rendah secara industri.

Menurut Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih, per Kuartal I 2018 lalu rasio NPF perseroan berada di level 0,53% secara gross. Sementara secara net terjaga di batas rendah 0,3%. John menyebut, tahun ini pihaknya tetap akan menjaga prinsip kehati-hatian agar laju NPF dapat terbatas. "Kalau di BCA Syariah, kami konsisten saja dengan praktek prudent banking. Meski NPF sudah rendah, kami tidak boleh lengah," ujarnya.

Anak usaha bank swasta terbesar di Indonesia ini menjelaskan dalam penyaluran pembiayaan, praktis seluruh segmen memiliki resiko masing-masing. Tergantung dari upaya tiap bank dalam menyalurkan pembiayaannya. "Semua memiliki resiko, dan memang sangat terkait dengan kondisi pasar, kondisi perusahaan dan bagaimana bank melaksanakan prinsip prudent," katanya.

Tercatat, sampai kuartal I 2018 pembiayaan BCA syariah tercatat sebesar Rp 4,3 triliun atau tumbuh 14% secara tahunan atau year on year (yoy). Pembiayaan ini tersebar pada sektor perdagagan, industri, perkebunan, dan transportasi.

Bank lainnya yang turut menekan NPF adalah PT Bank BNI Syariah. Anak usaha PT BNI Tbk ini menarget NPF akan dijaga di bawah 3% pada 2018. Target tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi NPF secara gross per akhir Maret 2018 yang mencapai 3,18%. Bila dilihat dengan periode tahun sebelumnya, praktis NPF BNI Syariah selalu berada di atas 3%.

Direktur BNI Syariah Dhias Widhiyati, penyumbang pembiayaan bermasalah terbesar perseroan antara lain disumbang dari dua sektor, yaitu industri pengolahan dan perdagangan. "Kami akan berusaha menjaga NPF tidak lebih dari 3%. NPF terbesar dari industri pengolahan dan perdagangan," ungkapnya.

Perseroan pun sudah menyiapkan segelintir strategi. Salah satunya dengan melakukan evaluasi penyaluran pembiayaan yang lebih pruden dan selektif. BNI Syariah juga telah melakukan monitoring perjalanan usaha nasabah dan monitoring pembiayaan dengan intensif. "Mulai dari penarikan fasilitas, penggunaan fasilitas sesuai dengan keperluannya, ketepatan pembayaran kewajiban bank, dan lain-lain," jelasnya.

Di sisi lain, perseroan juga akan melakukan restrukturisasi lebih dini bila debitur terlihat mengalami gangguan dalam pembayaran kewajiban. Hal ini dilakukan agar resiko tersebut tidak turun menjadi pembiayaan macet.

Khusus untuk cara ini, BNI Syariah hanya selektif melakukan restrukturisasi lebih awal bagi debitur yang masih bisa diselamatkan atau memiliki rekam jejak yang positif.

Sebagai tambahan informasi, BNI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 23,75 triliun atau naik 11,7% pada kuartal I 2018. Komposisi pembiayaan per Maret 2018 ini disumbang mayoritas dari segmen konsumer sebesar Rp 12,19 triliun dengan porsi 51,3%.

Diikuti segmen kecil dan menengah sebesar Rp 5,16 triliun atau 21,7%. Serta segmen komersial Rp 4,58 triliun atau 19,3% dan segmen mikro Rp 1,43 triliun sebesar 6%. Sementara sisanya disumbang dari pembiayaan kartu pembiayaan BNI Syariah sebesar Rp 380,47 miliar atau setara 1,6% dari total kredit perseroan.

Hal serupa juga akan dilakukan BRI Syariah. Sekretaris Perusahaan PT Bank BRI Syariah Tbk Indri Tri Handayani menargetkan tahun ini laju NPF akan dijaga di bawah level 4%.

Target tersebut terbilang optimis, lantaran pada kuartal I 2018 lalu perseroan mencatatkan NPF cukup tinggi sebesar 4,92% secara gross. Bahkan secara NPF net pun masih berada di atas 4% yakni 4,1%. Bila dibandingkan dengan kuartal I 2017, kualitas pembiayaan tersebut mengalami peningkatan dari 4,71% gross dan 3,33% net.

Adapun, total penyaluran pembiayaan yang berhasil disalurkan anak usaha bank nomor wahid PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) ini mencapai Rp 19,53 triliun atau tumbuh 8,62% secara yoy pada tiga bulan pertama 2018.

Untuk diketahui, berdasarkan statistik perbankan syariah yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Per Februari 2018 NPF bank umum syariah (BUS) masih terbilang tinggi yakni 5,21% atau naik dari posisi Februari 2017 4.78%. Berbeda dengan BUS, NPF unit usaha syariah (UUS) justru mengalami perbaikan dari 3,55% per Februari 2017 menjadi 2,52% pada Februari tahun ini. (njs/kontan/dbs/foto:annualreport)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image