:
:
News
Ini Proyeksi Dana Muslim Traveler Millennial pada 2020

gomuslim.co.id- Baru-baru ini, Arabian Travel Market menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pariwisata Halal Global di Dubai World Trade Center. Kegiatan ini memproyeksikan bahwa muslim traveler pada 2020 akan menghabiskan dana 157 miliar dolar AS.

Generasi wisatawan milenial diyakini menjadi faktor pendorong besarnya angka tersebut. Arab Saudi masih menjadi pasar perjalanan outbound terbesar, yang diproyeksi akan tumbuh sebesar 17 persen selama tiga tahun ke depan dan mencapai sebesar 27,9 miliar dolar.

Dalam seminar pertama bertajuk 'Pariwisata Halal, Seberapa Banyak yang Telah Diraih?', Pendiri dan CEO Salam Standard dan Tripfez, Faeez Fadhlillah, mengilustrasikan pentingnya melirik wisatawan Muslim milenial sebagai perubahan tren sosio-ekonomi global.

Ia juga menggarisbawahi potensi yang terpendam dari pasar wisata Muslim. Menurutnya, negara-negara terbesar dan beberapa negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia ditemukan di Asia dan Timur Tengah. "Daerah-daerah ini biasanya memiliki populasi Muslim besar yang muda dengan kelas menengah yang makmur," ujarnya seperti dilansir dari publikasi Khaleej Time, Jumat (27/04/2018).

Di sisi lain, komunitas Muslim generasi kedua dan ketiga di negara maju seperti Eropa dan Amerika Utara saat ini memiliki daya beli jauh lebih besar. “Secara keseluruhan, pertumbuhan gabungan dari mereka menghasilkan peningkatan permintaan untuk perjalanan dan pariwisata berbasis agama,” katanya.

Kemudian, dalam seminar kedua yang mengangkat tema 'Perjalanan Halal Menjadi Arus Utama', pendiri dan CEO Sociable Earth, Omar Ahmed, mengungkapkan beberapa hasil penting dari survei terbaru. Survei diikuti 35 ribu pelancong Muslim berpartisipasi. "Tentu saja, pasar perjalanan halal telah lulus dari status fungsionalnya menjadi kekuatan yang membentuk industri, dalam dirinya sendiri. Ini telah menjadi arus utama," ungkapnya.

Ia mengatakan, organisasi pariwisata dan perjalanan arus utama sekarang harus menjadi jauh lebih proaktif. Hal itu jika mereka ingin menarik semakin banyak wisatawan halal dan memanfaatkan potensi pasar yang sangat besar. Bahkan, menurutnya, destinasi wisata di negara-negara barat dapat berbuat lebih banyak.

"Kampanye yang kami kelola untuk Pariwisata Jenewa sekarang dapat digunakan sebagai patokan. Bersama-sama kami mendapatkan tambahan 70 ribu pengunjung unik ke situs web mereka," paparnya.

Sementara itu, para panel dalam diskusi tersebut menyepakati pariwisata halal memiliki banyak sisi yang berbeda dan fakta itu berarti ada hal-hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Hal itu tergantung pada nilai-nilai Islam mereka sendiri, apakah konservatif atau lebih liberal.

Ahmad mengatakan, mereka juga harus terus mendidik pelancong tentang istilah 'Perjalanan Halal'. “Banyak yang masih tidak menyadari apa arti yang sesungguhnya. Kampanye kesadaran ini akan selalu berjalan, konstan dan berubah selamanya,” ungkapnya.

Dalam survei Sociable Earth, salah satu penemuan utama adalah responden mengatakan negara-negara non-Muslim harus meningkatkan ragam makanan halal di hotel (61,3 persen), masjid terdekat (61,1 persen), restoran halal (55,2 per cent), dan menawarkan vila kolam renang pribadi (14 persen), untuk menarik lebih banyak tamu Muslim.

Ahmed menyarankan, para pemangku kepentingan di seluruh spektrum pariwisata dan perhotelan sekarang perlu memanfaatkan temuan-temuan ini dan harus memahami tren yang menentukan sektor tersebut dan beradaptasi. Hal itu seperti, konfigurasi ruang yang fleksibel, kegiatan rekreasi yang tepat dan pilihan makan.

"Memfasilitas kenyamanan bagi wisatawan Halal, ketika menjelajahi destinasi non-Muslim yang baru," kata Ahmed.

Meskipun, ia mengatakan mereka juga memfokuskan upaya pada perjalanan solo Muslim dan juga liburan yang bebas jilbab. Namun, data mereka menunjukkan potensi besar bagi wanita yang bepergian bersama dalam kelompok untuk menikmati liburan dan pengalaman bebas jilbab. "Tren yang kami rasa akan menjadi semakin populer," tutupnya. (njs/khalejtimes/dbs)

Responsive image
Other Article
Responsive image