:
:
News
Begini Kiat Membangun Keluarga Islami yang ‘Saling’ Bukan ‘Paling’ 

gomuslim.co.id- Hijab Motion kembali menggelar Kajian Rutin Keluarga Islami (Karugami) di Aula Mabrur Annisa Travel, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (18/03/2018). Kali ini, kajian yang bekerjasama dengan gomuslim sebagai media partner mengambil tema ‘Tak Seindah Pernikahan Cinderella’.

Seperti kajian sebelumnya, narasumber utama dalam kajian ini adalah Ustadz Asep Supriatna atau yang dikenal dengan Ustadz Asep Fakhry. Puluhan muslim dan muslimah turut hadir dalam kajian rutin bulanan ini.

Dalam pemaparannya, Ustadz Asep menjelaskan bahwa sejatinya tidak ada pernikahan yang tanpa masalah dalam menjalankannya. Maka dari itu, seseorang yang siap menikah berarti siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

“Pernikahan tidak selalu hangat, rukun dan harmonis. Ada kalanya pasangan itu menghadapi masalah. Jangan bayangkan yang indahnya saja dari penikahan, tetapi juga sebaliknya. Menikah itu untuk mencari berkah, bukan sekedar bahagia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustadz Asep mengatakan pernikahan merupakan bagian dari seleksi tentang siapa yang akan diangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Jangankan seorang muslim biasa, sekelas Rasul pun pernah menghadapi masalah dalam bahtera rumah tangganya.

“Menikah itu tahap pendewasaan diri, dan sudah pasti Allah akan uji. Karena menikah itu ujian, ada yang berhasil, ada yang mengulang, ada pula yang justru gagal,” ungkapnya.

Berdasarkan data, sepanjang kurun 2010-2015 jumlah perceraian di Indonesia meningkat 15-20 persen. Angka tersebut menunjukan, terjadi 40 sidang perceraian setiap jam. Penggugat cerai didominasi oleh kalangan perempuan yang mencapai angka 70 persen, dan 30 persen dari laki-laki.     

Ada empat alasan utama pasangan di Indonesia bercerai, di antaranya adalah karena hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggungjawab, kehadiran pihak ketiga, dan persoalan ekonomi.

Ustadz Asep pun memberikan tips kepada setiap pasangan agar memfokuskan diri menjadi pasangan yang bertakwa. Selanjutnya, menyamakan standard amal seperti wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Selain itu, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pernikahan. Pertama, saling kenal (taaruf), kedua saling bersatu (taaluf), ketiga saling faham (tafahum), keempat saling bantu (taawun), dan kelima saling cinta (tahabbu). 

“Berusahalah untuk menjadi pasangan terbaik dan mendoakan yang terbaik untuk pasangan. Pernikahan itu bukan karena pinter, kaya atau cerdasnya, tetapi dari hatinya. Menikah itu melatih kebersamaan. Karena nilainya ibadah, semua interaksinya harus bertandard pada syariah,” jelasnya. (njs)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image