:
:
News
CSRC UIN Jakarta Paparkan Hasil Penelitian Corak Keberagamaan Aktivis Muda Muslim Indonesia

gomuslim.co.id- Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta baru-baru ini memaparkan hasil penelitian tentang arah dan corak keberagamaan aktivis muda muslim di Indonesia. Hasilnya, secara umum sikap dan perilaku kaum muda muslim bisa dikategorikan moderat.

Menurut Koordinator Peneliti CSRC Chaider S Bamualim, penelitian ini dilakukan secara kualitatif melibatkan 935 aktivis muda muslim. Mereka terdiri dari 555 narasumber in-depth interview dan 380 narasumber FGD dengan varian ideologi yang sangat beragam di 18 kota/kabupaten.

“Secara umum kalangan aktivis muda muslim ini moderat. Namun pada saat yang sama tren konservatisme dengan ciri skriptural plus komunal juga menguat. Mereka perlu dikenalkan pelajaran keragaman dengan cara persuasif dan populer,” ujarnya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kaum muda muslim “jaman now” pada dasarnya terbuka terhadap nilai dan prinsip moderatisme dengan penghargaan yang cukup baik kepada kebebasan individu dan HAM, sekalipun dibatasi norma agama dan budaya. “Sikap seperti itu juga tercermin dari bagaimana mereka menceritakan hubungan-hubungan sosial mereka dengan kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan fenomena Hibridasi Identitas yang relatif dominan terjadi pada kaum muda muslim sekarang. Hibridasi identitas ini ditandai adanya proses persilangan afiliasi dan orientasi keagamaan berdasarkan dinamika dan interaksi sosial politik keagamaan yang dialami di lingkungan sosialnya.

"Pengalaman yang didapatkan sejak usia anak-anak, remaja, dan atau sampai masa studi di kampus menjadi penyebab terjadinya hibridasi identitas kaum muda muslim. Semuanya saling mempengaruhi dalam pembentukan sikap mereka," katanya.

Chaider menyebutkan bahwa media sosial (medsos) saat ini telah menjadi sahabat sekaligus tempat bertanya bagi anak muda dalam belajar agama. Medsos, kata dia, telah mempengaruhi peran pendidikan agama anak muda.

“Anak muda umumnya menyukai para ustadz yang digital friendly. Karena mereka dapat mengakses ceramah ataupun tausiyahnya secara mudah di manapun dan kapan pun menginginkannya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar UIN Jakarta Komaruddin Hidayat mengatakan saat ini banyak tokoh intelektual muslim yang masuk politik, sehingga banyak mubalig baru yang mengisi ceramah-ceramah di masjid. Para mubalig baru ini karena adanya kebebasan berekspresi menyampaikan aspirasinya tanpa terpantau.

“Sentimen etnis sekarang semakin kendur. Dari situasi ini, semestinya yang menguat adalah citizenship. Namun, kewarganegaraan ini malah terinterupsi oleh semangat keagamaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Deputi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Anas Saidi menilai, penelitian yang dilakukan CSRC ini seharusnya bisa mengukur tingkat kedalaman,  bukan sekadar memberikan gambaran soal corak keberagaman. Ia menyayangkan penelitian tidak memberikan angka mengenai corak keberagamaan kaum muda Muslim.

“Akibat dari kejelasan itu, treatment-nya akan susah untuk kelompok moderat dan konservatif. Berapa yang dianggap moderat dan radikal, seharusnya ada angkanya dari 935 informan,” katanya. (njs/csrc)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store