:
:
News
Bersama Ribuan Umat, Menag Shalat Gerhana di Masjid Raya Hasyim Asyari

gomuslim.co.id- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama ribuan umat Islam melaksanakan salat gerhana bulan atau khusuf di Masjid Raya Hasyim Asyari di bilangan Daan Mogot, Jakarta Rabu malam (31/01).

Shalat Khusuf digelar usai shalat Isya di Masjid megah dengan lima menara berornamen Betawi itu. Di barisan depan, selain Menteri Agama Lukman Hakim, tampak juga Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Desa Percepatan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Gubernur DKI Anies Baswedan dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja serta tokoh nasional lainnya.

Shalat Gerhana digelar bersamaan peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdatul Ulama ke-92 yang mengusung tema ‘Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama: Memperkokoh Ukwuwah Wathoniyah untuk Indonesia Sejahtera'.

Ketua Panitia Harlah NU ke-92, Syaefullah mengatakan, tema tersebut sengaja diangkat demi merajut benang perbedaan  terutama dalam menyambut tahun politik 2018. Pada Harlah NU ke-92 ini panita juga menyiapkan sebanyak 1929 tumpeng untuk jemaah yang hadir. Selain itu, tampak juga, Duta Besar Arab Saudi dan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti.

Selain itu, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ribuan umat Islam Lombok dan sekitarnya untuk mengikuti Shalat Gerhana Bulan (Khusuf). Mereka memadati Islamic Center (IC) Hubbul Wathan Nusa Tenggara Barat.

Shalat Gerhana Bulan dimulai pukul 21.00 WITA. Selaku imam, Ust Zaeni Al Hafidz. Lantai dua IC tidak dapat menampung jemaah hingga banyak yang shalat di lantai bawah.

Usai shalat, Gubernur NTB TGB. Zainul Majdi menyampaikan khutbah. Menurutnya, Islam cinta kebenaran dan pengetahuan. "Kalau pada masa lampau gerhana dimaknai secara mistis, Islam mengenalkan bahwa gerhana bagian tanda kebesaran Allah," tutur Zainul Majdi.

"Janganlah kalian menyembah kepada matahari dan bulan, namun bersujud lah kepada Pencipta alam raya," sambungnya.

Menyitir salah satu hadits, Gubernur yang hafal Al Qur'an ini berkisah tentang peristiwa gerhana zaman Rasulullah yang berbarengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi. Sebagian sahabat saat itu mengkaitkan gerhana dengan kematian Ibrahim. Lalu Rasulullah menjelaskan  pemahaman yang sebenarnya bahwa matahari dan bulan dan seluruh geraknya tidak terkait hidup matinya seseorang

"Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah," tegasnya. (fau/kemenag)

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store