:
:
News
Ajang MQKN 2017 Sosialisasi Cara Cepat Baca Kitab Kuning

gomuslim.co.id- Salah satu keahlian yang dipelajari santri ketika belajar di Pondok Pesantren adalah membaca kitab kuning. Proses belajar membaca tulisan Arab gundul ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini karena santri harus mendalami gramatika Bahasa Arab yaitu Nahwu dan Sharaf.

Seiring perkembangan zaman, para ulama atau Kiai telah menemukan beberapa metode cepat untuk bisa membaca kitab kuning. Salah satunya adalah KH Habib Syakur yang telah menulis buku berjudul “Cara Cepat Bisa Baca Kitab Metode 33”. Buku ini sempat dibahas dan didiskusikan di ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara, Minggu (03/12/2017).

Pada kesempatan tersebut, sang penulis mengatakan bahwa buku ini ditulis sebagai upaya memberikan tawaran cara cepat dalam membaca kitab kuning. Pengasuh pondok pesantren Al-Imdad Yogyakarta ini mengaku tidak sedikit santri di pondok pesantren yang mengalami kesulitan dalam membaca kitab kuning sehingga diperlukan waktu yang relatif lama.

“Buku ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: buku kosakata, buku kaidah, dan buku latihan. Ketiga buku ini tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, karena proses pembelajarannya dilakukan di dalam satu paket pembelajaran yang tidak terpisahkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dosen UIN Yogyakarta ini menuturkan bahwa buku tersebut disusun tidak mengikuti bab-bab sebagaimana yang selama ini diajarkan dalam kaidah ilmu nahwu dan sharaf. Tetapi pengurutan materinya sesuai dengan struktur kalimat yang sering dijumpai pada saat santri membaca teks berbahasa Arab. Setelah itu berbagai struktur dan status kata yang kadang muncul kadang tidak.

“Saya berharap, buku ini dapat membantu dan memudahkan para santri dalam membaca kitab kuning sehingga mereka tidak terlalu lama untuk dapat membaca kitab kuning,” katanya.

Selain buku cara cepat baca kitab kuning, buku lainnya yang ikut dibedah adalah “Hermeuneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an” karya Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin. Menurut Sahiron, buku ini merupakan salah satu hasil penelitian dirinya dalam menggeluti disiplin kajian ulumul Quran.

“Penafsiran Alquran terus mengalami dinamikanya sendiri. Kita seringkali terjebak pada panfasiran Alquran secara literal, sementara aspek isyari dan maqashid al-syari’ah seringkali dinafikan,” papar alumni pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon itu.

Dosen UIN Yogyakarya yang juga doktor jebolan salah satu universitas ternama di Jerman ini mengungkapkan, dalam penafsiran Alquran diperlukan wawasan yang sangat luas. “Horizon teks, seperti bagaimana bahasa yang digunakan, tata bahasa nahwu sharf-nya dan aspek sejarahnya atau asbabun nuzul sebuah ayat, harus diketahui. Sisi lain, horizon penafsir pun harus difahami terlebih dahulu”, papar lulusan magister dari McGill Canada.

Di dalam buku yang dibedah ini, juga terdapat uraian atas sejumlah teori hermeneutik dan ulumul quran, termasuk penafsiran QS. Al-Maidah ayat 11. (njs/kemenag/foto:rokhim)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image