:
:
News
Ini Penjelasan Peneliti Mushaf Alquran Kuno Nusantara di ASEAN

gomuslim.co.id- Tim Peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) telah melakukan penelitian mushaf kuno Alquran nusantara di ASEAN. Hasil penelitian tersebut kemudian dipaparkan dalam sebuah seminar bertajuk ‘Migrasi Manuskrip Alquran Nusantara di Asia Tenggara’ baru-baru ini.

Hadir sebagai pembicara, selain para peneliti LPMQ, antara lain: Kepala Balitbang-Diklat Kemenag Abd Rahman Mas’ud,  Filolog UIN Jakarta Oman Faturahman, Filolog UI Titik Pudjiastutik, Filolog Leiden Dick van der Meij,  Kepala Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Wawan Ridwan.

Menurut Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi, mushaf kuno Alquran Nusantara menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan umat Islam secara umum, khususnya Islam di Tanah Air. Ia menjelaskan bahwa proses penelitian mushaf ini dilakukan dengan menghadirkan naskah kuno Al-Quran agar berbicara tentang zamannya.

“Bagaimana mushaf Nusantara dengan iluminasi dan tulisan yang sangat indah ini menunjukkan kejayaan dan kecintaan masyarakat saat itu terhadap Alquran. Hasil temuan penelitian ini dapat dijadikan pelajaran dan dikembangkan. Misalnya, ketika mushaf kuno banyak ditulis dengan kaidah imla’i, bukan berarti ulama Nusantara tidak tahu perdebatan boleh tidaknya mushaf ditulis dengan kaidah selain Rasm Usmani. Boleh jadi di antara mereka mengetahui,” paparnya.

Penulisan imla`I ini mereka dukung karena memperhatikan kearifan lokal. Menurutnya, orang non arab lebih menyukai kaidah imla`i karena sama tulisan dengan bunyinya. Karenanya, penyusun mushaf standar mempertimbangkan taisirul ‘amah (kepentingan umum). Aspek kearifan lokal menjadi pertimbangan, dan hal ini yang tidak dipahami oleh penyusun mushaf di negara Arab.

“Saya kira keberadaan mushaf kuno Alquran menjadi bukti kesadaran akan kearifan lokal yang ada pada masyarakat Indonesia. Bahwa ulama terdahulu berijtihad dengan menghadirkan mushaf yang akrab dengan masyarakat muslim kebanyakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Hakim Syukrie yang meneliti Mushaf Nusantara di Malaysia menuturkan bahwa Indonesia menjadi salah satu tempat perburuan manuskrip Alquran dan manuskrip lainnya oleh negara-negara serumpun Melayu.

“Indonesia menjadi tujuan utama karena memiliki sebaran manuskrip merata dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Kurang lebih sudah 700 manuskrip Alquran kuno Aceh keluar ke negara tetangga. Itu baru manuskrip Al-Quran, belum manuskrip Islam lainnya. Dan itu baru dari Aceh, belum lagi dari daerah lainnya di Indonesia,” jelasnya.

Di Malaysia, ungkapnya, sebagian besar manuskrip Alquran-nya berasal dari Indonesia. Beberapa tempat penyimpanan manuskrip Alquran nusantara antara lain di Islamic Art Museum of Malaysia, Perpustakaan Negara, museum-museum, serta kolektor naskah.

Selain di Malaysia, manuskrip Alquran Indonesia juga banyak berada di Pattani. Hal tersebut diungkap oleh Ali Akbar, pakar mushaf kuno yang meneliti di Thailand. “Thailand Selatan, selain menjadi tempat ‘perburuan’, juga melakukan ‘perburuan’ naskah dari negara kawasan, di antaranya Indonesia,” katanya.

Ali Akbar mengungkapkan bahwa 90% manuskrip Alquran di Pattani dan Yala Thailand Selatan diduga kuat berasal dari Indonesia. “Berdasarkan perbandingan atas ragam hias dan informasi dari tetua masyarakat di sana, mushaf yang ada di Thailand selatan berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Mushaf-mushaf tersebut awalnya dibawa oleh masyarkat Indonesia yang menyebar ke Thailand Selatan. Selain itu, ada juga yang dibeli dari Indonesia oleh para kolektor naskah. Uniknya, manuskrip Thailand Selatan juga diperjualbelikan ke negara lain, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Manuskrip Alquran  menyimpan sejarah perkembangan ilmu kequranan, seperti ilmu rasm, tanda baca, tanda wakaf, dan perbedaan qiraat. Tentunya, selain kandungan ilmu kodikologinya. Dengan adanya mushaf kuno Alquran, umat Islam zaman sekarang mengetahui bagaimana orang membaca Alquran pada masa lalu.

Menurutnya, hal tersebut bisa menelisik akar tradisi baca Alquran masyarakat Indonesia. Jika manuskirp-manuskrip itu berada di negeri orang, maka para pelajar Indonesia akan kesulitan mengakses data tersebut. Pada gilirannya, hal itu bisa memutus mata rantai sejarah Islam di Indonesia.

Temuan yang sama disampaikan peneliti lainnya, Musaddad. Bahkan, dia harus membayar hanya untuk sekedar memfoto naskah mushafnya.

“Untuk sekali mengambil gambar foto naskah di salah satu tempat, kami diharuskan membayar 5 Sen. Itu sama saja kami harus membayar tiga ribu Sen untuk bisa meneliti satu mushaf. Padahal itu naskah berasal dari Indonesia,” ungkap Musadad yang melakukan penelitian mushaf Alquran Nusantara di Brunei.

Menurutnya, untuk memperkuat akar Identitas Melayu, Sultan Brunei sudah memberikan titah untuk mengumpulkan manuskrip Alquran. (njs/kemenag/dbs)

Responsive image
Other Article
Responsive image