:
:
News
Ketua Halal Lifestyle Center Dukung Indonesia Jadi Produsen Produk Halal Global

gomuslim.co.id- Perkembangan industri produk halal semakin mengingkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang gaya hidup halal atau halal lifestyle. Sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar dunia, Indonesia mempunyai peluang untuk menjadi pelaku utama, dalam hal ini bisa menjadi produsen halal global.

Demikian disampaikan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar, dalam Seminar Nasional Halal Lifestyle bertajuk “Industri Halal; Konsep Bisnis Halal, Peluang dan Tantangan” baru-baru ini. Menurutnya, global market dari industri halal saat ini justru dikuasai oleh Negara-negara yang mayoritas non muslim.

“Sektor industri produk halal seperti makanan, keuangan, pakaian, pariwisata, media, farmasi, kosmetik, pendidikan, seni dan budaya ini terus meningkat setiap tahun. Namun sayangnya, peluang besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh kita,” ujarnya.

Ia menyebutkan ada beberapa peluang yang perlu dimanfaatkan untuk menunjang global market, namun masih banyak segmen bisnis yang belum ada pelaku usahanya sebagai populasi muslim terbesar di dunia. “Indonesia hanya 5,3 persen pangsa pasar keuangan syariah Indonesia,” katanya.

Untuk itu, ia mengimbau kepada para ulama agar ikut serta aktif dalam mendidik umat mengenai produk halal di indoensia. Meskipun ada beberapa tantangannya yang dihadapi, diantaranya administrasi yang panjang karena pemerintah ingin memastikan halal, karena beberapa kasus membuat Indonesia dianggap kelolosan produsen halal palsu.

Selain itu, konsep halal di masyarakat Indonesia masih diangap seeuatu yang biasa, karena ada angggapanm semuanya yang diproduksi di Indonesia adalah halal. “Padahal masih ada produsen yang memproduksi produk halal tanpa menjadi alur perusuhaan yang tepat, sehingga untuk menjadi global produk masih sulit,” ungkapnya.

Sebelumnya, Halal Lifestyle Center menandatangani kesepakatan dengan Dinar Standard untuk membuat penelitian terkait industri halal di Indonesia. Sapta mengatakan selama ini Indonesia tidak memiliki data atau penelitian yang bisa menggambarkan kondisi industri halal. Padahal, perkembangan industri halal global dan Indonesia terus menunjukkan peningkatan.

 “Arah kerja sama dalam bentuk pembuatan penelitian. Dinar Standard sudah berpengalaman membuat penelitian, terutama mengenai industri halal dunia. Indonesia merupakan pasar yang signifikan untuk industri makanan halal. Saya kira data yang dihasilkan dari penelitian Dinas Standar juga akan memberikan acuan bagi Indonesia untuk menguasai pasar domestiknya,” tuturnya.

Sekadar informasi, berdasarkan Global Islamic Economy Report 2015/2016, konsumsi produk makanan halal dan gaya hidup halal diprediksi tumbuh 10,8 persen per tahun hingga 2019, atau menambah nilai keekonomian USD 3,7 triliun.

Pasar terbesar di segmen makanan halal adalah Indonesia dengan nilai mencapai US$190 miliar, diikuti oleh pasar Turki senilai US$168 miliar, dan Pakistan senilai USD 108 miliar. (njs/dbs/foto:halhalal)

Responsive image
Other Article
Responsive image