:
:
News
Begini Potret Toleransi di Pondok Pesantren Bali Bina Insani

gomuslim.co.id- Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya muslim. Meski demikian, toleransi antarumat beragama sangat kental di negeri ini. Seperti yang tergambar dari Pondok Pesantren Bali Bina Insani, Bali. Pesantren ini berada di sebuah perkampungan Hindu yang sangat kental.

Letaknya berada di Desa Meliling Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan, Bali (11 KM barat Kota Tabanan/32 KM dari kota Denpasar). Pesantren yang berdiri di area seluas 5.700 m2 itu menjadi potret nyata gambaran indahnya toleransi umat antarumat beragama di Indonesia.

Toleransi dan hubungan yang harmonis selalu dijaga dan dibina bersama oleh keluarga besar pesantren dan masyarakat Hindu sekitar. Hubungan harmonis ini ditunjukkan dengan sikap toleran pesantren dengan melibatkan sejumlah guru beragama Hindu sebagai guru tetap pada  kegiatan mengajar.

Pondok Pesantren yang berada dibawah naungan Yayasan La Royba ini berdiri  secara resmi tahun 1996. Pesantren ini merupakan lembaga pendidikan dengan konsep boarding school (asrama). Sebanyak 247 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan 120 siswa Madrasah Aliyah (MA) menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sebagai bahasa  pengantar di  lingkungan pesantren.

Keberadaan Pondok ini diterima baik oleh masyarakat setempat karena beberapa faktor di antaranya, faktor kesejarahan yang tidak pernah mengalami konflik etnis dan agama, serta faktor toleransi (tasamuh), kebersamaan serta kesetaraan (musawwah).

Ni Wayan Wartini, salah satu guru  dari 15 guru yang beragama Hindu mengatakan selama mengajar dan mengabdi di BBI ini, ia sangat merasakan persaudaraan yang hangat dan tidak pernah membeda-bedakan antara guru yang beragama Islam dan beragama Hindu. “Semua diperlakukan dan mendapatkan hak yang sama, murid-muridnya juga sangat menghormati  guru itulah yang membuat kami  senang mengajar di BBI ini," ungkap

Ketua Yayasan, H Ketut Imaduddin Jamal, mengatakan hadirnya pesantren ini bertujuan untuk membentuk generasi dengan penguatan karakter Islami. Selain itu, kata dia, pihaknya ingin menyampaikan bahwa Islam sebagai rahmatan lil alamin melalui berbagai kegiatan aktivitas pengabdian masyararakat.

"Di Pesantren BBI ini, pluralisme sudah menjadi hal nyata yang sesuai fakta bukan hanya  sebatas isu belaka, kami sangat mengutamakan kebersamaan tanpa memikirkan adanya perbedaan," ujarnya.

Lebih lanjut, Ketua Pengadilan Agama Denpasar ini menjelaskan maksud pemilihan nama "Bali Bina Insani" yaitu, Bina berarti pendidikan atau pembinaan, sedangkan Insani berarti manusia atau generasi muda. “Jadi lembaga pendidikan ini untuk seluruh masyarakat khususnya generasi muda di Bali," jelasnya.

Sementara itu, Yuli Syaiful Bahri, kepala Madrasah Tsanawiyah dan Ida Lailatul Qoyimah selaku kepala Madrasah Aliyah mengakui bahwa jumlah pendaftar peserta didik baru dari tahun ke tahun terus meningkat. 

Ponpes BBI dan mayarakat Hindu sekitar telah membuktikan adanya hubungan yang harmonis karena adanya toleransi, para santri  bisa dengan tenang dan nyaman melakukan kegiatan belajar  di tengah kehidupan masyarakat Hindu di Tabanan, warga selalu siap membantu dan terlibat dalam kegiatan ponpes jika diperlukan, begitu juga warga pondok siap hadir dan dilibatkan  jika mendapat undangan dari masyarakat sekitar.

Salah satu warga di sekitar Pesantren menuturkan bahwa ia merasa tidak ada halangan untuk hidup rukun berdampingan walaupun dengan adanya perbedaan. “Semoga sama-sama bisa membangun dan terus memberikan hal positif  dengan perbedaan yang ada. Kami pun cukup terbantu  dengan keberadaan pondok karena adanya pondok, warga kami bisa berdagang di sekitar pondok. Jadi  banyak orang yang berkunjung ke desa kami. Kehidupan keagamaan kami  sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran pondok, karena tidak ada kepentingan yang bersinggungan dengan agama," tuturnya. (njs/kemenag/foto:liputan6)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store