:
:
News
Cegah Radikalisme, Pemerintah Indonesia Bangun Asrama untuk Pelajar di Mesir

gomuslim.co.id- Komplek asrama Indonesia di Mesir, yang meliputi empat gedung asrama dan satu dapur umum dicanangkan akan menampung 900 mahasiswa Indonesia dan 300 mahasiswa Mesir pada Tahun Akademik 2017/2018.

Pada Selasa (12/09/2017) asrama mulai dihuni mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar, Kairo. Saat ini kompleks asrama dijadikan sebagai tempat menimba ilmu dan kegiatan belajar ilmu keislaman yang mengusung nilai-nilai moderatisme dan anti radikalisme.

Kemudian, visi tersebut semakin diupayakan dan ditanam kepada para mahasiswa asal Indonesia di Mesir, menyusul kasus deportasi enam mahasiswa Indonesia di Mesir.

Enam mahasiswa Indonesia di Mesir dalam dua bulan terakhir ini telah dideportasi oleh otoritas Mesir karena dugaan terlibat atau bersimpati pada kelompok radikal di Mesir. Sementara, kompleks asrama yang proses pembangunannya selesai pada akhir 2015 itu, dibangun atas biaya dari dana pemerintah Indonesia.

Pembangunan asrama tersebut digagas pada masa Duta Besar AM Fachir (kini Wakil Menlu RI) dalam lokakarya dukungan terhadap peningkatan prestasi mahasiswa Indonesia pada April 2008, yang dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan dari Indonesia dan Mesir.

Berkaitan dengan hal tersebut, Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzy, di depan para mahasiswa baru yang akan menempati asrama itu mengatakan Universitas Al Azhar sudah banyak memberikan kemudahan kepada  mahasiswa Indonesia.

“Grand Sheikh Al Azhar Prof. Dr. Ahmad Tayeb memberikan perhatian yang sangat serius kepada mahasiswa Indonesia, karena beliau berharap kalian semua nantinya akan menjadi duta-duta Al Azhar yang menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan toleran di Tanah Air,” ujar Fauzy. 

Pihaknya menilai keberadaan kompleks asrama Indonesia di Mesir itu, sebagai upaya menghindarkan mahasiwa Indonesia dari pengaruh pemikiran radikal dan pemahaman Islam yang menyimpang.

“Fungsi asrama juga untuk menjaga keamanan fisik dan  hak milik mahasiswa karena  kondisi keamanan di Mesir saat ini masih belum kondusif,” tambah dia.

Penasehat Grand Sheikh Al Azhar, Dubes Abdel Rahman Musa, di depan para mahasiswa asal Indonesia itu mengatakan Al Azhar tidak ingin putra putrinya belajar dan mencari tambahan ilmu di tempat yang orientasinya berbeda dengan Al Azhar.

"Dilarang keras pergi ke tempat lain untuk mencari tambahan ilmu dari sebuah lembaga atau instansi yang secara prinsip berbeda dengan Al Azhar,” katanya.

Dengan demikian, Al Azhar bersama KBRI Kairo akan selalu berusaha membantu untuk mengikuti proses belajar mengajar dan pendidikan di Al Azhar ini berhasil dengan baik.

Seperti diketahui, enam mahasiswa Indonesia yang ditangkap dan kemudian dideportasi dalam dua bulan terakhir ini, karena diduga belajar di lembaga di kota Samanud (sekitar 130 km arah utara kota Kairo) yang orientasinya berbeda dengan Al Azhar.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Dr Usman Syihab MA; Kepala Lembaga Asrama Mahasiswa Asing Al Azhar, Brigjen Ismail, dan Kepala Kantor Urusan Mahasiswa Asing Al Azhar, Prof Dr Said. (nat/dbs/foto:kompas)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image