:
:
News
Bakal Jadi Rumah Sakit Syariah, Ini Kata Ketua Dewan Pengawas RS Nur Hidayah Bantul

gomuslim.co.id- Keberadaan Rumah Sakit Syariah memang masih sangat sedikit. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan bernafaskan Islam cukup tinggi. Baru-baru ini, Rumah Sakit (RS) Nur Hidayah Bantul DIY menyatakan akan segera menjadi RS Syariah.

Pernyataan ini disampaikan lansung oleh Ketua Dewan Pengawas RS Nur Hidayah Tri Ermin Fadlina. Ia mengatakan, sebenarnya pengajuan ini bersamaan dengan RS Sultan Agung yang sudah lebih dulu mendapatkan sertifikat RS Syariah.

“Tetapi Dewan Pengawas RS Syariah di RS Nur Hidayah belum clear dan baru kami ajukan kemarin ke MUI (Majelis Ulama Indonesia). Insya Allah kalau DPS sudah bisa diterima, sertifikat RS Syariahnya  keluar tahun ini,'' kata di Yogyakarta, Selasa (29/8/2017).

Ia menjelaskan bahwa proses pengajuan RS Syariah ini sudah sejak 2015. Kebetulan waktu itu RS yang sudah terakreditasi masih sedikit yakni RS Sultan Agung mewakili RS Tipe B, sedangkan RS Nur Hidayah mewakili RS Tipe C-D.  Sekarang di DIY RS Nur Hidayah baru satu-satunya RS yang akan mendapat sertifikat RS Syariah.

''Namun sekarang Rumah Sakit di DIY yang akan mengajukan  sebagai RS Syariah sudah ada dua yakni RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Jogja International Hospital,'' ungkap istri Sagiran yang merupakan pemilik RS Nur Hidayah dan juga Ketua Divisi RS Syariah MUKISI  (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) Pusat.

''RS Nur Hidayah menjadi RS Syariah, saya sebagai pemilik merasa lebih aman dalam melayani umat dan benar-benar akan bisa bermanfaat untuk karyawan. Karena yakin bekerja di lembaga halal. Sementara bagi masyarakat merasa semakin aman. Karena Insya Allah obat dan makanan yang disajikan harus halal. Di dapur RS Nur Hidayah sejak Juni lalu sudah mendapat sertifikat halal,''ungkapnya.

Sebagai rumah sakit syariah standar syariahnya dari semua aspek baik aspek manajemen keuanganan, manajemen pelayanan , organisasi dan visi dan misinya harus tesurat. ''Mulai dari pendaftaran sampai pemeriksaan harus menjaga aurat pasien. Apabila pemeriksanya berbeda kelamin harus ditemani dan bahkan di RS Hidayah ada selimut 'anti malu'.  Ketika pasien butuh pemeriksaan yang dibuka sedikit dan khusus bagian yang dibutuhkan saja,'' jelasnya.

Sebagai informasi, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) merupakan institusi yang menghimpun provider pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan kesehatan yang bernafaskan Islam di Indonesia. Dengan jumlah anggota lebih dari 300 rumah sakit dan lembaga pendidikan kesehatan, MUKISI menggulirkan gagasan tentang standardisasi rumah sakit berdasarkan prinsip syariah, yang dimulai sejak tahun 2009 dalam rakernas di Jawa Timur, kemudian dikawal secara berkelanjutan hingga pada tahun 2014 berhasil dirampungkan standar dan instrumen rumah sakit syariah edisi pertama versi 1436 (hijriah).

Dengan menggunakan standar tersebut, sejak 2014 MUKISI secara internal menjalankan pilot project sertifikasi rumah sakit syariah pada dua rumah sakit, yaitu RS Islam Sultan Agung Semarang dan RS Nur Hidayah Bantul Yogyakarta. Secara intensif melakukan komunikasi dengan Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga keluarlah fatwa DSN-MUI No. 107/DSN-MUI/X/2016 tanggal 16 Oktober 2016 tentang pedoman penyelenggaraan rumah sakit berdasarkan prinsip syariah. (njs/dbs/rsnurhidayah)

Responsive image
Other Article
Responsive image