:
:
News
Wakil Ketua MUI : Rumah Sakit Syariah Jadi Prospek Masa Depan Umat Islam

gomuslim.co.id- Rumah Sakit Syariah menjadi salah satu prospek masa depan bagi umat Islam. Hal ini mengingat belum banyak rumah sakit yang berkonsep syariah, padahal kebutuhan masyarakat terhadap skema ini cukup tinggi. Untuk mendukung hal tersebut, perlu adanya edukasi bagi kalangan masyarakat tentang dan melakukan sosialisasi secara aktif sejak.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas baru-baru ini.  Menurutnya, dengan adanya RS Syariah, umat Islam tidak hanya bisa mendapatkan obat produk halal, tapi juga akan mendapatkan pelayanan yang ramah dan nyaman.

"Rumah Sakit Syariah ini saya yakin sangat prospek dan menjanjikan. Pasti umat Islam lebih senang dapat pelayanan yang bagus apalagi halal, gak usah ragu-ragu," ujarnya, Senin (28/8/2017).

Seperti diketahui, pendirian RS Syariah saat ini sedang diupayakan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) bekerjasama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hingga saat ini, baru satu RS yang sudah menjadi RS syariah, yaitu RS Sultan Agung Semarang, sedangkan RS Nur Hidayah Bantul segera menyusul untuk mendapatkan sertifikat RS Syariah.

Lebih lanjut, Wakil Ketua MUI ini berharap keberadaan RS Syariah tersebut menjamin umat Islam mendapatkan obat yang halal saat dirawat di rumah sakit. "Harus ada edukasi kepada masyarakat bahwa sesuai dengan ajaran Islam itu harus berobat secara Islam. Artinya, berobat lah tapi tidak boleh berobat dengan cara yang haram sehingga kalau berobat di RS Syariah ada jaminan untuk obat-obatnya dan lainnya," katanya.

Ia menambahkan, MUI sudah mengeluarkan semacam panduan RS Syariah. Di antaranya, jika RS Syariah mengurus pembiyaaan maka harus bermualat dengan perbankan syariah. Kemudian, dia melanjutkan, memproses asuransi juga menggunakan asuransi yang syariah.

Bahkan, kata dia, transaksi membeli obat-obatan juga harus syariah, di samping obat-obatnya juga sudah pasti bersertifikasi halal. "Selebihnya, lebih banyak kepada pelayanan yang Islami. Pelayanan yang Islami baik oleh dokter maupun perawat, lingkungan dan sebagainya yang serba ideal," jelasnya.

Sekadar informasi, saat ini MUI sudah memiliki pedoman penyelenggaraan rumah sakit berdasarkan prinsip syariah. Pedoman tersebut tercantum dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No. 107/DSN-MUI/X/106.

Yunahar menjelaskan, fatwa tersebut pada prinsipnya berisi lima hal, yakni tentang akad, pelayanan, obat-obatan dan pengelolaan dana finansial.  "Yang penting transaksi di dalam RS Syariah harus mengacu pada uhkum Islam fiqih mu’amalah. Dalam hal pelayanan memberikan yang baik, jelas antara hak dan kewajiban. Kalau bisa lebih, sesuai dengan standar panduan praktis klinis," ujarnya. 

Dia mengatakan akhlak dalam pelayanan rumah sakit harus santun, ramah, transparan, berkualitas, adil. Dalam menghitung biaya, juga harus ada kewajaran. "Walaupun punya otoritas untuk menetapkan, tapi perhitungan wajar tergantung hati nurani. Dalam pelayanan spiritual, mendoakan pasien dan untuk mendoakan anak kecil berbeda dengan orang dewasa. Dalam mendoakan pasien jangan terlalu boros menggunakan kata 'sabar'. Harus tunjukkan empati, kalau pasien kesakitan empati dulu jangan bilang 'sabar'. Misalnya, “saya bisa merasakan memang sakit”," ujarnya.

Sementara untuk obat harus yang halal dan diutamakan, harus sudah ada sertifikasi halal. "Supaya dokter dan rumah sakit tenang dan gampang. Kalau tidak ada sertikasi halal, harus hati-hati kalau diketahui tidak ada, tetapi diperlukan itu tindaan darurat boleh," ujarnya. (njs/dbs/foto:rs syariah)

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store