:
:
News
Menpar Sebut Aceh Jadi 'Core Economy' Daerah untuk Halal Tourism

gomuslim.co.id- Aceh memilliki kekayaan budaya dan wisata yang beragam. Salah satu yang unik dari Aceh adalah adanya lomba pacuan kuda tradisional di dataran tinggi Gayo, Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kopi Gayo yang sudah mendunia akan semakin dikenal dengan perlombaan ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi terselenggaranya perlombaan tradisional pacuan kuda di dataran tinggi Gayo. Kolaborasi antara kopi Gayo dengan kekuatan budaya dan pemandangan alam menjadi atraksi yang menarik bagi pariwisata Aceh secara keseluruhan. Termasuk wisata halal yang menjadi ikon Provinsi Aceh.

“Sudah betul, bila Aceh menempat Halal Tourism sebagai core economy daerah,” ujar Arief beberapa waktu lalu.

Lulusan Program Doktor Unpad Bandung itu mengungkapkan ada beberapa penting mengenai pangsa wisata halal. Pertama, sejak 2014 terjadi ledakan pasar wisata halal di dunia. Besarnya pasar wisata halal itu sangat signifikan, dari 6,8 miliar penduduk dunia, 1,6 miliar merupakan muslim dan 60 persen di bawah 30 tahun. Bandingkan dengan total penduduk Tiongkok 1,3 miliar orang dengan 43 persen di bawah 30 tahun.

“Total pengeluaran wisatawan muslim dunia US$ 142 miliar, hampir sama dengan pengeluaran wisatawan Tiongkok USD 160 miliar, yang sekarang ini menjadi rebutan seluruh negara di dunia, terutama yang mengembangkan pariwisata,” jelas lulusan Surrey University Inggris ini.

Kedua, lanjut mantan Dirut PT Telkom ini, dari sisi sustainability atau growth wisata halal, juga naik signifikan, 6,3 persen. Lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dunia 4,4 persen, lebih besar dari rata-rata growth China 2,2 persen dan ASEAN 5,5 persen.

Data dari Comcec Report February 2016, crescentrating tahun 2014 ada 116 juta pergerakan halal traveler. Mereka memproyeksikan pada 2020 akan menjadi 180 juta perjalanan, atau naik 9,08 persen. Di Indonesia juga naik dalam 3 tahun terakhir rata-rata 15,5 persen. “Semakin kuat, size-nya besar, sustainability-nya juga besar,” ungkap Arief.

Ketiga, lanjut dia spread atau benefit-nya juga besar. Rata-rata wisman dari Arab Saudi itu membelanjakan USD 1.750 per kunjungan. Uni Emirate Arab (UAE) US$ 1.500 per kepala. Angka itu jauh lebih besar dari-rata-rata wisman dari Asia yang berada di kisaran US$ 1.200.

“Karena itu sudah memenuhi syarat 3S, size, sustainable, dan spread. Ini menjadi alasan paling kuat, mengapa Aceh harus menetapkan pariwisata sebagai portofolio bisnis-nya. Menjadikan halal tourism sebagai core economy-nya,” tegas lulusan ITB Bandung ini.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi mengatakan bahwa kegiatan pacuan kuda ini telah menjadi tradisi dan semangat dalam menyatukan masyarakat di dataran tinggi Gayo. Seperti Aceh Tengah, Bener Meriah dab Gayo Lues yang selalu diselenggarakan pasca panen padi dan jelang peringatan HUT kemerdekaan RI.

Hal tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala kerja keras dan keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat setempat. “Dengan kekuatan tradisi dan alamnya tersebut, maka perlombaan tradisional pacuan kuda merupakan salah satu atraksi wisata unggulan yang akan digelar tahunan yang terangkum dalam Calendar of Event Aceh, maupun Calendar of Event Kementerian Pariwisata dalam rangka mewujudkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2019,” ungkap Reza.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh Rahmadhani Rahmadhani menambahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh terus bersemangat untuk mendukung setiap penyelenggaraan atraksi wisata unik dan berkarakteristik daerah serta mampu mendatangkan wisatawan. “Tentu saja atraksi wisata ini harus dilaksanakan sesuai dengan semangat Syariah dalam rangka mendukung Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia," ungkapnya. (njs/dbs)

 

Responsive image
Other Article
Responsive image
gomuslim
Get it on the play store