:
:
Khazanah
Alquran Isyaratkan Matahari sebagai Pusat Tata Surya

gomuslim.co.id - Alquran sebagai sebuah kitab suci, ternyata tidak hanya mengandung ayat-ayat yang berdimensi aqidah, syari'ah dan akhlaq semata. Tetapi juga memberikan perhatian yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Jika membaca dan memahami Alquran secara seksama, akan kita temukan sangat banyak ayat-ayat mengenai matahari sebagai pusat tata surya.

Berikut beberapa fakta yang disebut Alquran sebagai bukti matahari sebagai pusat tata surya:

 

Baca juga:

Sejalan dengan Sains, Begini Bentuk Bumi dalam Alquran

 

1. Bukti Teori Heliosentris dalam Alquran

Fenomena teori Heliosentris (matahari pusat tata surya) dan geosentris (bumi pusat tata surya) sebenarnya masih menjadi perbincangan yang cukup serius di kalangan ilmuan Islam, beberapa diantara meyakini bahwa teori Heliosentris adalah teori yang mendekati kebenaran, sementara beberapa yang lain pun meyakini hal serupa bahwa teori Geosentris adalah teori yang mendekati kebenaran.

Adapun mengenai teori heliosentris, Alquran telah mengisyaratkan di dalam surat Yasin ayat 38-40.

(وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (38) وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40

 

“(38) dan Matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (39) dan telah Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. (40) tidaklah mungkin bagi Matahari mendapatkan Bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin:38-40)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Matahari dan Bulan beredar pada garis edarnya masing-masing sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Matahari tidak mungkin bergerak mendahului Bulan karena garis edar dan pusat peredaran keduanya berbeda, Bulan bergerak mengitari Bumi sedangkan Matahari bergerak mengitari pusat galaksi Bimasakti.

Inipun didukung oleh para ilmuan dibidang astronomi, salah satunya Nicolaus Copernicus kekuatan gravitasi matahari yang sangat besar membuatnya mampu menahan benda langit yang mengelilinginya tetap beredar pada orbitnya sehingga tidak bertabrakan satu dengan yang lainnya.

 

Baca juga:

Alquran Sebutkan Fakta Ilmiah Garis Edar Tata Surya 

 

2. Matahari sebagai Penunjuk Waktu

Matahari memiliki fungsi, salah satunya sebagai penunjuk waktu sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Yunus ayah 5:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (QS. Yunus:5)

Ayat di atas menggunakan pilihan kata حسبان untuk menjelaskan perhitungan Matahari dan Bulan. Kata حسبان berasal dari kata حساب artinya perhitungan, penambahan alif dan nun pada kata tersebut menunjukkan arti kesempurnaan dan ketelitian.

Oleh karena itu, kata حسبان pada ayat ini dapat diartikan bahwa Matahari dan Bulan sejak awal penciptaannya telah berada pada sistem yang sangat teliti dan rumit namun akurat dan teratur.

Pendapat lain mengatakan bahwa حسبان menunjukkan arti bahwa pergerakan Matahari dan Bulan adalah dapat diketahui kadar perhitungannya oleh manusia.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia dapat memperhitungkan posisi dan pergerakan Matahari dan Bulan karena keduanya bergerak secara teratur, kemudian mengambil manfaat dari hal-hal yang ditimbulkan, salah satunya yakni dalam perhitungan waktu siang dan malam, waktu salat dan waktu perhitungan tahun.

Allah Swt berfirman dalam QS Al-Isra‟ ayat 78 bahwa umat Islam diperintahkan untuk menunaikan salat dengan melihat petunjuk waktu pelaksanaannya melalui posisi matahari.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksakan pula shalat) Subuh. Sungguh, shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”(QS Al-Isra: 78)

Quraish Shihab dalam tafsir al-misbah menafsirkan ayat tersebut menjelaskan mengenai waktu-waktu salat wajib, dimulai dari tergelincirnya matahari yaitu condong dari pertengahan langit sampai muncul gelapnya malam.

3. Cahaya Matahari sebagai Penerang Tata Surya

Matahari diciptakan sebagai benda langit dengan cahaya kuat yang berasal dari pijaran bola gas panas yang sangat luar biasa. Kuatnya cahaya yang dimiliki benda langit ini demikian terang. Cahayanya yang kuat dapat menerangi semua sudut alam raya yang berada dalam lingkup tata surya.

Matahari berfungsi menjadi sumber cahaya terbesar dalam kehidupan dibumi. Cahaya matahari yang terpancar merupakan cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri. Alquran menyebutkan bahwa Allah Swt telah menjadikan matahari sebagai siraj (pelita). Nadiah Thayyarah menjelaskan bahwa sesuatu tidak disebut dengan siraj (pelita) kecuali karena ia mempunyai panas dan dapat menyinari. Sebagaimana firman Allah SWT berikut:

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

“Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)” (QS. An-Naba:13)

Secara umum dikatakan, matahari memancarkan energi panas yang menghangatkan Bumi, dan pancaran cahaya tersebut berfungsi sebagai pelita yang menerangi tata surya. Planet-planet, asteroid, komet dan bulan semuanya mendapat penerangan dari cahaya matahari.

Selain itu, cahaya matahari juga membantu kelangsungan semua makhluk hidup yang ada di Bumi. Contohnya, tanaman membutuhkan cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis.

 

Baca juga:

Alquran dan Sains Ungkap Rahasia Elemen Besi bagi Kehidupan Manusia

 

4. Padamnya Matahari Tanda Kiamat

Dalam buku 'Alquran vs Sains Modern menurut Dr Zakir Naik', beberapa ayat Alquran juga telah menyebutkan bahwa matahari akan berhenti memancarkan sinarnya pada waktu yang telah ditentukan Allah yaitu kehancuran dunia dan terjadinya kiamat.

Sebagaimana firman Allah Swt berikut:

 

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ


“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu”. (QS. Ar-Ra’d: 2)

 

Wallahu A'lam Bishawab

Sumber:

Rahmat Abdullah, Benarkah Matahari Mengelilingi Bumi

Agustinus Gunawan Admiranto, Menjelajahi Tata Surya

Tafsir Al-Misbah

Nadiah Thayyarah, Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an

Muhammad Hasan, Benda Astronomi dalam Al-Quran dari Perspektif Sains

Responsive image
Other Article
Responsive image