:
:
Hikmah
Kisah Bisyr bin Haris, Sufi yang Tak Pernah Pakai Alas Kaki

gomuslim.co.id - Bisyr bin Haris, atau lebih masyhur dengan julukan Bisyr al-Hafy (yang bertelanjang kaki) adalah seorang tokoh sufi besar, ulama, dan salah seorang yang menurut cerita, namanya harum dan amat dikenal masyarakat. Konon harumnya nama beliau berkat disebabkan suatu peristiwa “kecil” yang pernah beliau alami.

Syahdan, suatu ketika beliau tengah berjalan, ditengah perjalanan beliau mendapati secarik kertas tergeletak diatas tanah. Beliau pungut kertas tersebut, ternyata disitu termaktub lafal basmalah. Tanpa pikir pajang beliaupun lantas mengusap dan membersihkan kertas tersebut, lalu segara menyimpannya di dalam jubah yang beliau kenakan.

Beliau lantas bergegas pergi menuju sebuah toko. Hari itu beliau hanya memiliki uang dua dirham. Tak ada sepeserpun uang lain yang beliau pegang kala itu. Dan uang terakhir yang beliau miliki tersebut beliau belikan wewangian. Kertas bertuliskan basmalah yang beliau temukan tadi diusapi dengan wewangian.

 

Baca juga:

Kisah Uwais al Qarni, Gendong Ibu dari Yaman ke Makkah untuk Pergi Haji

 

Malam harinya ketika beliau tidur, beliau bermimpi, seperti ada yang berkata memanggil, “Wahai Bisyr bin Haris, kau angkat ‘nama-Ku’ dari tengah jalan, dan kau harumkan. Maka Aku harumkan namamu di dunia dan akhirat”. Demikian suara tersebut menggugah malam Bisyr.

Dan segalanya menjadi kenyataan tak berapa lama berselang. Mimpi itu menjadi semacam isyarat akan datangnya masa depan, mimpi-mimpi yang dialami orang-orang terdekat-Nya. Nama Bisyr al-Hafy menjadi harum. Ia dikenal baik oleh masyarakat. Berkat “sebuah minyak wangi”.

Namun tak ada manusia yang tak punya kesalahan. Dan tak semua manusia jadi orang baik sejak lahir. Kadang butuh proses, dan butuh belajar dari kesalahan-kesalahan di hari kemarin. Dahulu sebelum menjadi seorang sufi yang shalih dan taat, masa lalu Bisy al-Hafy konon banyak diisi dengan “masa kelam”.

Dan ada satu hari yang begitu bersejarah bagi beliau, hari dimana beliau menemukan jalan terang. Suatu ketika, seperti biasa di rumahnya beliau menggelar pesta. Para sahabat dan kawan karib turut diundang memeriahkan pesta tersebut. Semua larut dalam hiruk pikuk.

Tepat saat itu juga seorang lelaki shalih melewati kediaman Bisyr. Lelaki tersebut mengetahui apa yang sedang terjadi didalam rumah. Suara gempita dan gelak tawa mempertajam dugaannya. Mengetahui akan hal tersebut, ia menyempatkan mampir dan mengetuk pintu.

Seorang budak wanita pelayan Bisyr datang membukakan pintu, tanpa basa-basi, lelaki shalih tersebut langsung berkata, “pemilik rumah ini apakah merdeka atau budak?” Ditanya demikian, budak pelayan yang tak mengenal sama sekali “tamu” dihadapannya itu menjawab, “tentu saja beliau merdeka.”

Lelaki shalih tersebut lantas menimpali, “kau memang benar, andaikan saja dia budak, pastinya dia akan menjalankan etika seorang ‘hamba’. Lalu meninggalkan bermain-main dan bersenang-senang.” Hanya itu yang dikatakan, lalu tamu tersebut langsung pamit tanpa berkenan masuk.

Tak sengaja percakapan kedua orang tersebut sempat diketahui samar-samar oleh Bisyr. Apa yang dikatakan sang pemuda shalih tadi menohok perasaan Bisyr sampai ke ulu hatinya. Ia penasaran, siapa gerangan lelaki itu.

Bisyr lantas bergegas berlari menuju pintu rumahnya. Saking buru-burunya, hingga tak sempat mengenakan alas kaki. Ia bertanya pada si budak, “celakalah! Siapa yang berbicara padamu didepan pintu?”

Budaknya dengan jujur menceritakan apa yang baru saja dialaminya. “Ke arah mana dia pergi?“ Sambung Bisyr penuh tanda tanya. “Kesana.” Si budak menunjuk ke suatu arah dimana perginya lelaki tadi, dan Bisyr buru-buru mengejar sang lelaki.

 

Baca juga:

Kisah Penggali Kubur yang Jadi Ulama Besar

 

Beruntung, Bisyr berhasil menemuinya. “Tuanku! Engkaukah yang tadi berdiri di depan pintu dan berbicara dengan budakku?” Tanya Bisyr tergopoh-gopoh. “Ia”. Jawab lelaki tu. “ulangilah kata-katamu tadi untukku.”

Lalu lelaki tersebut mengulanginya. Bisyr tersungkur mendengar kalimat tersebut. Kata-kata itu seperti telah menusuk-nusuk perasaannya. Beliau mendapati makna mendalam dibalik kalimat tersebut.

Telah dilupakan “kehambaan”nya dan dilalaikan kehidupan kelak. Sadar, jika setiap insan sejatinya hanyalah seorang hamba. “Bukan! Aku seorang hamba! Aku seorang hamba!” Kata Bisyr. Dan sejak hari itu beliau bertobat dan menjadi orang shalih.

Bisyr bin Haris lantas dikenal dengan julukannya al-Hafy. Karena sejak hari itu juga beliau tak pernah berkenan memakai alas kaki hingga beliau wafat. Beliau betelanjang kaki kemananpun pergi.

Ketika ditanya, “mengapa engkau selalu bertelanjang kaki?” Dijawab, karena hari dimana aku bertaubat adalah hari dimana aku bertelanjang kaki mengejar guruku. “Karena guruku menyadarkanku saat aku tengah bertelanjang kaki, maka aku akan terus begini hingga datang kematian nanti.”

Sumber: Kitab al-Tawwabin. Karya Ibn Qudamah al-Maqdisi Hal. 229-230. Cet. Dar Kitab al-Araby.

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store