Responsive image
Responsive image
Home / Figur
Responsive image
14 Mar 2020

Sadar Dosa Riba, Begini Kisah Hijrah El Chandra Tinggalkan Jabatan Tinggi di Bank

 

Mega  - Figur
Responsive image
Founder Komunitas Xbank Indonesia

gomuslim.co.id – Riba merupakan salah satu dosa yang paling besar dan perbuatan yang sangat dibenci Allah SWT. Bahkan disebutkan bahwa dosa riba lebih besar daripada dosa zina dan durhaka terhadap orang tua sekali pun.

Berangkat dari pemahaman itulah, El Candra, seorang mantan pegawai bank nasional memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan hijrah karena menyadari dosa riba. Padahal di perusahaan tersebut, dia sudah memiliki jabatan tinggi dan kehidupan yang mapan.

El (sapaan akrabnya) mengisahkan, dirinya sudah bekerja di dunia perbankan sejak tahun 1993. Suatu kebanggaan bagi El muda untuk bisa bekerja disebuah bank nasional ternama yang memberikan harapan masa depan baik.

Pesan Sang Ibunda

Singkat cerita, pada tahun 2004 ketika karirnya berjalan, sang ibunda mengalami jatuh sakit dan memintanya untuk datang. Saat bertemu, sang ibunda menanyakan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Ibu saya bilang, ‘Kamu ini kerja ditempat yang benar atau tidak?’ sontak, pertanyaan itu membuat saya terkejut. Saya kerja di bank ini kan sejak tahun 1993, mungkin beliau memang sudah tahu kalau saya kerja di bank, tapi beliau menanyakan hal itu,” kisah El kepada gomuslim beberapa waktu lalu.

Sebagai manusia biasa yang masih sangat awam terhadap ilmu agama, El akhirnya mencari tahu tentang pekerjaannya tersebut. Tapi, pencariannya hanya sebatas sampai bagian kulit saja. Kesimpulan pertamanya saat itu tentang riba adalah rentenir.

“Saya pun meyakinkan ibu saya dengan pengetahuan yang minim itu tentang pekerjaan saya di bank. Dengan penuh semangat, saya menjelaskan dan meyakinkan ibu bahwa pekerjaan saya benar. Lalu ibu saya bilang ‘pesenku, kamu jangan menggadaikan akhiratmu hanya gara-gara duniamu’,” paparnya.

Setelah percakapan itu selesai, El kembali ke rumah. Dua bulan kemudian, sang ibu meninggal dunia. “Mungkin kalimat terakhir ibu saya itu adalah pesan terakhirnya untuk saya,” ucapnya.

Waktu terus berlalu, El tetap pada pendiriannya, bekerja di tempat yang memberikannya kemapanan hidup. Bahkan, El sempat menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya. Pesan terakhir sang ibu pun perlahan mulai terlupakan.

Keluar dari Pekerjaan

Pada tahun 2010, El melaksanakan ibadah haji. Saat ibadah di Tanah Suci itulah, El mengalami sejumlah kejadian aneh. “Ketika berada di Masjid Nabawi, saya mengalami kejadian aneh yang membuat saya teringat kembali dengan pesan terakhir ibu saya,” ulasnya.

Kejadian tersebut mulai dari ditegur oleh jamaah asing yang tiba-tiba langsung menanyakan profesinya. Lalu diberi tahu ayat Alquran yang menjelaskan tentang riba.

El pun selalu mendapat jawaban sama secara berulang-ulang saat menanyakan tentang pekerjaannya dan riba kepada salah satu ustadz kondang asal Indonesia, Aa Gym.

“Sepulangnya dari Baitullah ke Tanah Air, saya mulai serius mencari tahu lagi tentang pekerjaan saya. Apakah selama ini saya benar atau salah? Sebagai manusia biasa, saya cari pembenaran lagi, cari second opinion. Tapi Allah sepertinya tidak memberi ruang kepada saya untuk diskusi. Jadi intinya, ujungnya, saya harus keluar dari pekerjaan saya saat itu,” paparnya.

Masih di tahun yang sama, El mengajukan permohonan resign kepada managemen. Namun akhirnya, ia baru benar-benar keluar dari pekerjaan itu pada tahun 2013.

Cobaan Saat Hijrah

Keluar dari pekerjaan yang telah memberikan kehidupan mapan bagi dirinya dan keluarga tentu saja sesuatu yang sangat berat bagi El. Keluarga banyak yang menentang keputusannya itu. Namun, ia anggap hal itu sebagai konsekuensi dari menjauhi riba.

“Ketika saya memutuskan untuk benar-benar berhijrah, saya pindah ke Jogja. Anak-anak yang masih kecil hanya bertanya kenapa pindah. Sementara istri saya sangat menentang dan tidak terima dengan keputusan saya saat itu. Tapi ya sudah, saya berusaha ikhlas dan tetap pada pendirian saya untuk hijrah,” ungkapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, El mengaku sempat merasa ada yang salah dengan proses hijrahnya. Meski sudah meninggalkan lingkaran riba secara fisik, namun merasa masih belum benar-benar hijrah secara batin.

“Ketika berhijrah, saya meninggalkan pekerjaan, bahkan tempat tinggal. Tapi di situ saya benar-benar belum merasa tentram. Saya masih gelisah. Galau. Saya pikir, pasti ada yang salah dengan hijrah saya,” pikirnya.

El pun menyadari bahwa niatnya hijrah keluar dari pekerjaan bukan karena Allah. Ia berani keluar karena merasa sudah punya usaha dan uang sebagai gantinya. “Bagi orang-orang yang berhijrah, dua hal itu (usaha dan uang) sudah kombinasi yang sangat bagus. Jadi saya tidak benar-benar keluar dan meninggalkan pekerjaan saya itu untuk berhijrah karena Allah,” jelasnya.

Ia merasa karena niatnya yang salah itu, Allah tersinggung dan akhirnya tidak memberikan ketenangan. Pada dirinya. “Karena saya tidak bergantung kepada Allah, ketika saya bekerja, saya bergantung pada gaji. Ketika saya keluar dari pekerjaan, saya malah bergantung sama usaha. Lalu, kapan saya bergantung sama Allah-nya? Disitulah saya akhirnya mengulang proses hijrah saya lagi,” kisahnya.

Membuat Komunitas Xbank

Selanjutnya, El mulai meluruskan niatnya berhijrah. Ia mulai menyusun konsep pendirian komunitas Xbank bersama teman-temannya. El menganggap teman-temannya itu adalah orang-orang yang Allah kirimkan untuk membantunya dalam proses hijrah yang lebih baik.

 

Baca juga:

Komunitas Xbank Indonesia Ajak Masyarakat Sadar Haramnya Riba

 

Komunitas Xbank akhirnya resmi berdiri pada 15 Juli 2019 di Yogyakarta. Komunitas ini bertujuan mengajak masyarakat atau para pelaku ribawi untuk sama-sama berhijrah demi mendapat ridha Allah SWT.

“Xbank Indonesia ini adalah komunitas tempat ngumpulnya orang-orang dari lembaga ribawi, bisa perbankan, koperasi, leasing, finance, asuransi, dan perusahan pembiayaan lainnya yang berhubungan dengan ribawi. Mereka yang sudah menyatakan diri keluar, akan keluar dari lembaga tersebut, atau berniat keluar tapi belum berani, boleh itu untuk bergabung di komunitas ini,” tuturnya.

Ia menjelaskan, komunitas Xbank Indonesia dibentuk sebagai tempat sharing, tempat saling memotivasi dan saling menguatkan antar member yang sedang atau baru berhijrah.

Selain itu, komunitas ini juga sebagai wadah untuk memberikan peluang seperti info lowongan pekerjaaan yang lebih syar'i, training usaha tentang bagaimana membuat usaha baru yang lebih syariah. Tentu agar para member atau calon member bisa mendapatkan kesempatan peluang pekerjaan yang terhindar dari riba.

“Hijrah sendiri itu berat, maka harus ada yang saling menguatkan dan mengingatkan. Nah, setelah keluar, orang-orang yang mau berhijrah ini harus banyak berkumpul atau bertemu dengan orang-orang yang sudah se-visi dan misi. Karena yang namanya setan akan menggoda terus. Dan ini saya lakukan agar orang-orang tidak melakukan kesalahan yang sama seperti saya ketika memulai proses berhijrah dulu,” tutup El mengakhiri perbincangan. (mga)

 

 

Responsive image
BACA JUGA
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
Responsive image
KOMENTAR
Responsive image
TULIS KOMENTAR
Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka

Responsive image
Responsive image