:
:
Belajar Islam
Lima Golongan yang Wajib Bayar Fidyah Puasa

gomuslim.co.id – Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang sudah aqil baligh. Bagi mereka yang memiliki udzur dan ada kemungkinan udzurnya hilang sesudah Ramadan, maka puasa dikerjakan dengan cara qadha’.

Sementara, bagi kaum muslimin yang sudah tidak mampu lagi berpuasa seperti orang tua renta dan orang sakit yang tak ada harapan sembuh, Allah memberikan keringanan kepada mereka dengan memberi makan orang miskin sebagai ganti puasanya, atau yang disebut fidyah.

Secara bahasa kata fidyah فدية berasal dari bahasa Arab فدى yang artinya memberikan harta untuk menebus seseorang. Sedangkan secara istilah atau menurut syara’, kata fidyah memiliki makna sebagai berikut:

al-Fidyah adalah sinonim dari al-Fida’ yang artinya suatu pengganti (tebusan) yang membebaskan seorang mukallaf dari sebuah perkara hukum yang berlaku padanya.”

Fidyah puasa adalah mengeluarkan makanan pokok yang kemudian diberikan kepada orang-orang fakir dan miskin. Ukuran atau banyaknya adalah satu mud, dan satu mud ini volumenya sama dengan ukuran dua telapak tangan orang dewasa normal.

Orang-orang yang Wajib Membayar Fidyah

1. Lansia (Orang Tua)

Orang tua yang kondisi fisiknya sudah lemah dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka tidak diwajibkan untuk berpuasa. Sebagai gantinya, hanya diwajibkan untuk membayar fidyah sebanyak hari yang ditinggalkan.

“…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS. al-Hajj : 78).

Dan juga tidak dibebankan untuk mengqadhanya. Mengapa demikian? logikanya, kondisi fisik orang tua akan semakin lemah seiring bertambahnya usia, dan bukan sebaliknya semakin bertambah kuat.

Karena itu agama tidak membebaninya dengan kewajiban-kewajiban yang meberatkannya. Sebagai gantinya, kewajiban membayar fidyah lah yang harus dilakukan. Baik oleh dirinya sendiri atau oleh keluarganya.

“…dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah : 184).

2. Orang Sakit

Golongan kedua yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan hanya membayar fidyah adalah orang sakit. Maksudnya bukan mereka-mereka yang sakit yang kemudian sembuh, atau punya potensi untuk sembuh kembali.

Namun yang dimaksud orang sakit di sini adalah mereka yang mengidap penyakit dan membuat fisik mereka menjadi lemah sehingga tidak memungkinkan untuk berpuasa. Atau penyakit yang membuat mereka tidak bisa untuk tidak mengonsumsi obat-obatan alias ketergantungan obat.

Mereka-mereka inilah yang dibolehkan untuk tidak berpuasa dan sebagai gantinya, lagi-lagi hanya wajib membayar fidyah.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. AL-Baqarah 286)

3. Wanita Hamil dan/atau Menyusui

Diantara mereka yang boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah adalah wanita hamil dan/atau menyusui. Namun para ulama berbeda pendapat dalam kasus wanita hamil dan/atau menyusui. Apakah membayar fidyah saja atau qadha dan fidyah.

Jumhur ulama dari empat madzhab sepakat bahwa wanita hamil dan/atau menyusui kemudian mereka tidak berpuasa, maka mereka tidak diwajibkan untuk membayar fidyah, yang wajib adalah mereka tetap harus mengqadhanya setelah selesai bulan Ramadan.

Kasus seperti ini berlaku bagi mereka yang ketika tidak berpuasa karena khawatir terhadap dirinya saja. Misalkan karena khawatir lemas sehingga tidak kuat berpuasa dikarenakan sedang menyusui atau hamil. Hukum ini diqiyaskan kepada orang sakit yang masih ada potensi untuk sembuh.

Atau atas dirinya dan bayinya, maka secara umum jumhur ulama pun sepakat bahwa wanita yang kasusnya seperti itu, tidak diwajibkan membayar fidyah, tetapi wajib mengqadha puasanya di luar bulan Ramadan.

Dasarnya adalah firman Allah SWT :

“…Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. ( QS. al-Baqarah : 184)

Khilafiyah di antara ulama fiqih terlihat pada kasus wanita hamil dan/atau menyusui kemudian tidak berpuasa karena khawatir terhadap bayinya saja.

Menurut madzhab Hanafi, wanita yang seperti ini tidak wajib membayar fidyah, justru mereka tetap wajib menqadha puasanya.

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda : Sesungguhnya Allah menggugurkan bagi musafir setengah salat dan puasa, begitu juga bagi wanita hamil dan menyusui. (HR. an-Nasaai).

Pendapat Maliki memisahkan antara wanita hamil dan menyusui. Adapun wanita hamil, maka dalam madzhab ini mereka harus mengqadhanya, tidak membayar fidyah. Sedangkan wanita menyusui, mereka wajib melakukan dua-duanya, mengqadha dan membayar fidyah.

Sementara menurut madzhab Syafi’i, wanita hamil dan/atau menyusui wajib melakukan dua-duanya, yakni qadha dan membayar fidyah. Hal ini persis yang dilakukan oleh wanita hamil dan/atau menyusui kemudian berbuka karena khawatir terhadap diri dan anaknya.

Jika (wanita hamil dan/atau menyusui) khawatir terhadap anaknya, bukan dirinya, maka mereka boleh berbuka dan mengqadhanya dengan pasti, sedangkan kewajiban membayar fidyah, pendapat-pendapat yang disebutkan penulis ini (paragraf sebelumnya) maka yang paling sahih menurut kesepakatan ulama kami adalah wajib.”

Begitu juga dalam pandangan madzhab Hambali, mereka sependapat dengan kalangan madzhab Syafi’i, di mana setiap wanita hamil dan/atau menyusui jika berbuka karena khawatir terhadap anaknya, maka wajib bagi mereka mengqadha dan membayar fidyah.

4. Meninggal dan Berutang Puasa

Pada kasus orang yang meninggal dan masih memiliki utang puasa, paling tidak ada dua kemungkinan atau kondisi. Pertama, dia meninggalkan karena puasa karena udzur syar’i, seperti sakit, kemudian dia sembuh, dan punya kesempatan untuk mengqadhanya namun belum dilaksanakan sampai datang ajalnya.

Kedua, dia meninggalkan ibadah puasa juga karena udzur syar’i, namun sampai selesainya bulan Ramadan kondisinya tidak kunjung membaik sehingga tetap tidak mungkin untuk berpuasa sampai datang ajalnya.

Dari dua gambaran kasus di atas, para ulama memberikan status hukum yang berbeda. Untuk kasus yang pertama semua ulama, jumhur, kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa dia tidak ada kewajiban apapun terhadap ahli warisnya. Tidak wajib qadha, dan tidak wajib membayar fidyah.

“Kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat : Orang yang meninggal dan pernah meninggalkan puasa karena sakit, bepergian, atau udzur-udzur lainnya kemudian belum memungkinkan untuk mengqadhanya samapai dia meninggal, maka tidak ada kewajiban apa-apa, tidak dipuasakan dan tidak dibayarkan fidyahnya.”

Sedangkan kasus yang kedua para ulama tidak satu suara alias beda pendapat. Menurut jumhur ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, dan Hambali, keluarga si mayit wajib membayarkan fidyahnya.

“Jika tidak juga berpuasa (qadha) sampai ajal datang, wajib baginya berwasiat dengan fidyah, yaitu memberikan makan setiap hari untuk satu orang miskin. Karena hukum qadha wajib baginya, kemudian dia tidak mampu untuk mengerjakannya karena kelalaiannya maka berubah lah dari kewajiban mengqadha menjadi fidyah sebagai gantinya.”

Sedangkan dalam madzhab Syafi’i, ada perbedaan pendapat di internal kalangan ulama madzhabnya.

“Keadaan kedua : Mempunyai kesempatan untuk mengqadhanya, entah meninggalkan puasanya karena udzur atau bukan lalu tidak juga mengqadhanya sampai meninggal, maka ada dua pendapat; yang pertama pendapat yang paling kuat menurut penulis (Imam al-Nawawi) dan mayoritas ulama dan itulah yang tertulis dalam pendapat yang baru (jadid) yaitu wajib atas keluarganya memberikan makan seukuran satu mud setiap hari kepada seorang miskin, dan tidak sah berpuasa untuknya (si mayit); sedangkan yang kedua, pendapat lama yang (dianggap) kuat oleh ulama sebagian ulama kami dan menjadi pilihan mereka bahwa boleh dan sah bagi keluarganya untuk berpuasa dan bisa menjadi pengganti fidyah. Dan tanggung jawab mayit sudah tertunaikan.”

Dalilnya adalah hadits Nabi Muhammad SAW

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasul SAW bersabda : Barang siapa yang meninggal dan punya utang puasa, maka ahli warisnya wajib berpuasa untuknya.( HR. al-Bukhari).

5. Menunda Qadha ke Ramadan Berikutnya

Pada dasarnya menunda-nunda melunasi utang puasa (qadha) sampai datang bulan Ramadan berikutnya dibolehkan dalam Islam, dengan catatan ada alasan atau udzur yang dibenarkan menurut sudut pandang agama, misalnya karena sakit.

Maka dalam kasus ini, seandainya nanti ada kesempatan untuk mengqadhanya, maka wajib. Kalau tidak maka ada konsekuensi tambahan.

Jumhur ulama dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa jika ada seseorang yang dengan sengaja alias tanpa udzur atau alasan yang dibenarkan menurut syara’ menunda-nunda membayar utang puasa samapai datang Ramadan berikutnya, maka dia wajib mengqadhanya dan membayar fidyah. Sedangkan kalangan Hanafi tidak mewajibkan fidyah, hanya qadha saja.

 

Sumber:

Luky Nugroho, Lc. 2018. Kupas Tuntas Fidyah. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing

 

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store