:
:
Belajar Islam
Ini Hukum Kurban Menurut Empat Mazhab

gomuslim.co.id - Berkurban menurut syariat adalah sebuah kegiatan menyembelih hewan kurban yang dilaksanakan usai menunaikan salat Idul Adha atau hari raya kurban. Bekurban merupakan sebuah bentuk ungkapan rasa syukur bagi seluruh umat muslim kepada Allah SWT atas nikmat serta karunia yang telah diberikan.

Lalu bagaimana hukum berkuban? Berikut penjelasan lengkap tentang hukum kurban menurut 4 mazhab beserta dalil-dalilnya.

1. Mazhab Hanafi: Wajib
Dalam kitab Fathu Qadir li Ibni Humam Juz 22 halaman73, dijelaskan sebagai berikut:

الْأُضْحِيَّةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ حُرٍّ مُسْلِمٍ مُقِيمٍ مُوسِرٍ فِي يَوْمِ الْأَضْحَى عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ وَلَدِهِ الصِّغَارِ. أَمَّا الْوُجُوبُ فَقَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ وَزُفَرَ وَالْحَسَنِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَبِي يُوسُفَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ .
وَعَنْهُ أَنَّهَا سُنَّةٌ

“Udhiyyah (berqurban) hukumnya wajib bagi setiap orang merdeka (bukan budak), muslim, mukim dan kaya pada hari Adha untuk dirinya dan anak-anaknya yang kecil. Adapun hukum wajib berqurban adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad, Imam Zufar, Imam Al-Hasan dan salah satu riwayat dari Imam Abu Yusuf rahimahumullaah. Riwayat lain dari Imam Abu Yusuf sesungguhnya berqurban adalah sunnah”

 

Baca juga:

Salat Pakai Sutrah, Wajibkah ?


2. Mazhab Maliki: Sunnah Wajibah
Sementara dalam Mazhab Imam Malik, hukum berkurban adalah sebagaimana dijelaskan dalam kitab At-Taaj wal Iklil li Mukhtashari Khaliil, Juz IV halaman 352 berikut:

قَالَ مَالِكٌ: الْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ وَاجِبَةٌ لَا يَنْبَغِي تَرْكُهَا لِقَادِرٍ عَلَيْهَا مِنْ أَحْرَارِ الْمُسْلِمِينَ إلَّا الْحَاجَّ فَلَيْسَتْ عَلَيْهِمْ أُضْحِيَّةٌ

“Ìmam Malik berkata :Berqurban hukumnya sunnah yang wajibah (yang kokoh), tidak seyogyanya meninggalkan berqurban bagi orang merdeka yang muslim kecuali orang-orang yang berhaji, bagi mereka tidak diwajibkan (disunnahkan dengan kokoh) melakukan udhiyyah.”

3). Mazhab Syafii: Sunnah Muakkad
Menurut mazhab yang banyak diikuti oleh muslim nusantara ini, hukum melakukan kurban adalah sunnah muakkad. Dijelaskan dalam Iqna’ fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’ Juz II halaman 588

وَالْأُضْحِيَّةُ بِمَعْنَى التَّضْحِيَةِ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ لَا الْأُضْحِيَّةِ كَمَا يُفْهِمُهُ كَلَامُهُ لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ اسْمٌ لِمَا يُضَحَّى بِهِ

“Udhiyyah dengan arti Tadhiyyah (berqurban) sebagaimana dalam kitab Raudlatut Thalibin, bukan arti Udhiyyah sebagaimana yang dipahami dari ucapan mushannif. Karena Udhiyyah adalah nama hewan yang untuk berqurban”

سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي حَقِّنَا عَلَى الْكِفَايَةِ إنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ

Hukumnya sunnah muakkad untuk kami (umat Islam) dengan sunnah kifayah (jika ada satu yang melakukan, maka yang lain gugur perintah melakukannya) apabila ahli rumah berbilang jumlahnya. Jika tidak berbilang (maksudnya hanya satu orang) maka hukumnya sunnah ‘ain.

4). Mazhab Hanbali: Sunnah Muakkad
Dalam kitab Kasysyaful Qina’ lil Buhuti, Juz VII halaman 434, terdapat penjelasan

وَالْأُضْحِيَّةُ مَشْرُوعَةٌ إِجْمَاعًا  إلى أن قال  وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِمُسْلِمٍ

Udhiyyah (berqurban) adalah disyari’atkan menurut ijma. Udhiyyah (berqurban) hukumnya sunnah muakkad bagi orang Islam.

Demikian pandangan pandangan 4 mazhab mengenai hukum kurban. Secara umum, pendapat mereka terbagi menjadi dua, yakni wajib dan sunnah.

Adapun dalil-dalil yang dipakai oleh masing-masing pendapat adalah sebagai berikut:

Dalil yang berpendapat wajib

وَوَجْهُ الْوُجُوبِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ; مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا, رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ. وَمِثْلُ هَذَا الْوَعِيدِ لَا يُلْحَقُ بِتَرْكِ غَيْرِ الْوَاجِبِ؛ وَلِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَمَرَ بِإِعَادَتِهَا بِقَوْلِهِ مَنْ ضَحَّى قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ وَالْأَمْرُ لِلْوُجُوبِ فَلَوْلَا أَنَّهَا وَاجِبَةٌ لَمَا وَجَبَ إعَادَتُهَا

Pendapat yang menyatakan wajibnya berqurban adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa mempunyai kemampuan dan tidak berkurban maka janganlah mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

 

Baca juga:

Ini 10 Hadits Dhaif Seputar Kurban

 

Ancaman seperti ini tidak akan dilekatkan dengan meninggalkan perkara yang tidak wajib. Dan karena Nabi ‘alaihishshalaatu wassallam merintahkan untuk mengulangi berqurban dengan sabda beliau: “Barangsiapa berkurban sebelum salat (salat Idul Adha), maka hendaklah mengulangi”. 

Perintah menunjukkan wajib. Andaikan berkurban tidak wajib, maka tidak wajib mengulanginya. (Tabyinul Haqa`iq lizzaila’i al-Hanafi, Juz XVI halaman 283)

Dalil yang berpendapat wajib sunnah

Adapun mereka yang berpendapat bahwa hukum kurban adalah sunnah dengan berdasarkan sabda Nabi dalam riwayat Imam Thabrani

الأَضْحَى عَلِيَّ فَرِيضَةٌ، وَعَلَيْكُمْ سُنَّةٌ

(Hukum) berkurban bagiku adalah fardhu, dan bagi kalian adalah sunnah. (HR. Thabrani)

Demikianlah penjelaskan tentang hukum kurban beserta dalil-dalil yang dipakai oleh ulama untuk menguatkan pendapat mereka. Wallahu a’lam bisshawab.

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store