:
:
Belajar Islam
Bagian Satu, Jenis Najis dalam Mazhab Imam Syafi’i

gomuslim.co.id - Najis secara bahasa artinya sesuatu yang kotor dan menjijikan. Sedangkan menurut istilah ulama syafi’iyah, najis diartikan sebagai sesuatu yang dianggap kotor oleh syariat dan dapat menghalangi dari keabsahan salat. Ibnu Hajar al-Haitami (w 974 H) dalam kitab Tuhfatu al-Muhtaj mengatakan:

Najis menurut syari’at adalah sesuatu yang kotor yang dapat menghalangi dari sah-nya salat dalam keadaan tidak ada rukhshah

Lalu, dari mana saja najis itu timbul? Berikut penjelasannya:

Benda-benda najis di sini mencakup benda mati dan makhluk hidup. Syekh Abdul Hamid al-Syirwani (w 1301 H) dalam hasyiahnya mengatakan:

“Ketahuilah bahwasannya benda-benda itu bisa (berupa) benda mati dan bisa berupa hewan. Benda mati seluruhnya suci kecuali apa yang ditetapkan oleh syariat atas kenajisannya. Itulah yang disebutkan oleh mushanif (Ibnu Hajar alhaitami) pada ucapannya “Setiap cairan yang memabukkan (adalah najis)”. Begitu juga setiap hewan adalah suci selain (hewan) yang dikecualikan oleh syariat.”

Dari penjelasan di atas bisa dipahami, bahwa suatu benda bisa disebut najis itu semata karena adanya keterangan dari syariat, bukan berdasar pada kotor atau jijik dalam sadut pandang manusia.

Benda-benda najis ini dalam mazhab syafi’i bisa dihimpun menjadi tujuh:

Imam Nawawi (w 676 H) mengatakan: “Najis-najis itu berupa setiap cairan yang memabukkan, anjing, babi dan keturanan keduanya, bangkai selain bangkai manusia, bangkai ikan dan bangkai belalang, darah, nanah, muntahan, tinja, air kencing, madzi, wadzi, begitu juga mani selain mani manusia menurut pendapat paling shahih (dalam mazhab). Komentarku: pendapat yang paling shahih adalah sucinya mani selain mani anjing dan mani babi atau mani keturunan salah satu dari keduanya”

Semua Minuman yang Memabukkan

Semua cairan yang memabukkan adalah najis, baik itu khamr yang berasal dari anggur atau minuman lain dari bahan yang berbeda dengan semua variannya, selama cairan itu memabukkan, maka cairan tersebut dihukumi najis. Syekh Abdul Hamid al-Syirwani (w 1301 H) dalam hasyiahnya mengatakan:

“Adapun (najisnya) khamr dalilnya adalah firman Allah SWT”

“Sesungguhnya khamr, berjudi, (berqurban unntuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah “rijs” (Almaidah:90). Kalimat “Rijs” dalam istilah syariat bermakna najis.

Hewan Anjing

Anjing dengan semua anggota badannya adalah najis, baik ketika masih hidup atau ketika sudah mati. Dalilnya adalah hadits shahih riwayat imam Muslim berikut:

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah bersabda: sucinya bejana salah seorang dari kalian apabila anjing minum disitu adalah dengan dicuci tujuh kali, cucian pertama (dicampur) dengan tanah.” HR. Muslim

Hadits tersebut menjelaskan bahwa bejana yang airnya diminum oleh anjing hendaknya disucikan. Sesuatu yang disucikan berarti sesuatu tersebut mengandung najis.

Hewan Babi

Babi dengan semua anggota badannya adalah najis, baik ketika masih hidup atau ketika sudah mati. Dalilnya adalah firman Allah SWT.

“Katakanlah, tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai) atau darah yang mengalir atau daging babi karena (semua) itu rijs” (QS. Al-An’am : 145)

Ayat di atas menjelaskan beberapa benda yang haram, salah satunya adalah daging babi dengan alasan itu semua adalah “rijs”. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, rijs dalam pengertian syariat adalah najis.

Bangkai

Bangkai disini bukan bangkai yang kita pahami dalam bahasa Indonesia, yaitu tubuh binatang yang sudah mati. Bangkai yang kita bahas disini maknanya adalah setiap hewan yang halal dimakan dagingnya namun mati dengan tidak disembelih secara syar’i atau hewan yang mati meskipun dengan cara disembelih namun dagingnya haram dimakan.

Contoh hewan yang mati karena tidak disembelih secara syar’i adalah ayam yang mati sendiri, atau hewan yang disembelih menggunakan tulang, atau ketika orang yang sedang ihram menyembelih hewan buruan, atau babi yang disembelih, hewan-hewan yang mati ini menjadi bangkai.

Bangkai ini hukumnya najis, dalilnya setelah Ijma’ adalah firman Allah SWT:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nam) Allah.” (QS. Al-Maidah : 3)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa bangkai haram dimakan, alasan pengharamannya adalah karena bangkai itu najis.

Akan tetapi, ada hewan yang tetap halal dalam kondisi sudah mati. Yaitu Ikan dan Belalang.

Adapun dalil yang menunjukan sucinya bangkai ikan dan belalang setelah ijma’ adalah sabda nabi Muhammad SAW: “Dihalalkan bagi kita dua bangkai; bangkai ikan dan bangkai belalang” HR. Ibnu Majah.

Sesuatu yang keluar dari dua jalan

Setiap yang keluar dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur) selain yang dikecualikan adalah najis. Imam al-Khatib al-Syirbini (w 977 H) mengatakan:

“Setiap benda cair yang keluar dari salah satu dua jalan yaitu qubul dan dubur, baik (yang keluar itu) suatu hal yang biasa seperti air kencing dan tinja, atau yang jarang (keluar) seperti wadi dan madzi, (itu semua) adalah najis, sama saja baik itu dari hewan yang dagingnya boleh dimakan atau bukan”.

  • Air Kencing

Air kencing adalah najis, baik berasal dari manusia, hewan yang boleh dimakan dagingnya seperti ayam atau hewan yang haram dimakan dagingnya seperti kucing. Imam Nawawi (w 676 H) mengatakan:

“Hukum terkait masalah air kencing: air kencing itu ada empat jenis; air kencing orang dewasa, air kencing bayi laki-laki yang belum diberi makan (selain air susu), air kencing hewan yang boleh dimakan dagingnya dan air kencing hewan yang haram dimakan dagingnya, keempat jenis air kencing itu najis menurut kami (madzhab Syafi’i) dan menurut jumhur (mayoritas) ulama”.

  • Kotoran

Kotoran itu najis, baik kotoran manusia (tinja) ataupun kotoran hewan, termasuk kotoran ikan dan kotoran burung. Imam Nawawi (w 676 H) mengatakan:

“Madzhab kami adalah bahwa setiap kotoran dan air kencing dari semua hewan, baik yang dagingnya boleh dimakan atau tidak atau burung, adalah najis. Begitu juga kotoran ikan dan belalang. Adapun hewan yang darahnya tidak mengalir seperti lalat, kotoran dan kencingnya adalah najis menurut madzhab”.

  • Madzi, Wadi dan Mani

Madzi adalah cairan putih encer yang keluar bukan sebab syahwat. Wadi adalah cairan putih, keruh dan kental yang keluar setelah kencing atau setelah menahan beban yang berat. Sedangkan mani adalah cairan putih kental yang keluar akibat syahwat.

Madzi dan wadi adalah najis berdasarkan ijma’ para ulama. Imam Nawawi (w 676 H) mengatakan: “Ulama telah ijma’ akan kenajisan madzi dan wadi”.

Adapun mani, apabila mani manusia maka suci menurut madzhab Syafi’i, baik laki-laki atau perempuan, begitu juga mani hewan selain anjing dan babi. Dalilnya adalah hadits shahih riwayat imam Muslim (w 261 H) bahwa Aisyah mengatakan:

“Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah SAW kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut”. HR. Muslim.

Lalu, bagaimana cara menghilangkannya? akan dibahas pada artikel berikutnya. Wallahua'lam Bissawab. (hmz)

Sumber:

- Buku, Hukum Hukum Terkait Najis Dalam Mazhab Syafi’I, dari Ustaz Galih Maulana Lc, Rumah Fiqih Indonesia.

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store