:
:
Belajar Islam
Wanita Hamil dan Menyusui Ganti Puasa dengan Bayar Fidyah, Ini Penjelasannya

gomuslim.co.id - Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim, kecuali bagi mereka yang tidak mampu. Wanita hamil, ibu menyusui, orang sakit, orang bepergian jauh dan bekerja berat diperbolehkan untuk tidak melaksanakan ibadah puasa ketika bulan Ramadan.

Namun puasa yang tidak dilakukan itu akan diganti atau qadha di waktu lain. Lalu, bagaimanakah dengan wanita hamil dan menyusui yang tidak dapat berpuasa Ramadan selama 2 tahun?

Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama dalam masalah ini ada empat madzhab.

  • Ibnu Umar, Ibnu Abaas, dan Sa’iid bin Jubair berkata, “Keduanya (wanita hamil dan wanita menyusui) berbuka dan memberi makan (fidyah), dan tidak wajib qadha atas keduanya.
  • Atoo bi Abi Robaah, Al-Hasan, Ad-Dhohaak, An-Nakho’i, Az-Zuhri, Robi’ah, Al-Auzaa’i, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur, dan Ashaab Ar-Ro’yi berpendapat mereka berdua berbuka dan mengqadha tanpa bayar fidyah. Hukum keduanya seperti hukum orang sakit.
  • As-Syafi’i dan Ahmad berkata: Keduanya berbuka dan mengqadha serta membayar fidyah. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Mujahid.
  • Malik berkata: wanita hamil berbuka dan mengqadha tanpa fidyah dan wanita menyusui berbuka dan mengqadha serta membayar fidyah” [sebagaimana dinukil oleh An-Nawawi dalam Majmu’ Sarhul Muhadzdzab 6/275]

Dari paparan tersebut, keduanya hanya wajib membayar fidyah secara mutlaq tanpa harus mengqodho. Ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas–radhiollahu ‘anhuma.

Jika seorang wanita hamil mengkawatirkan dirinya dan wanita menyusui mengkawatirkan anaknya di bulan Ramadhan (jika mereka berdua berpuasa) maka mereka berdua berbuka dan membayar fidyah untuk setiap hari dengan memberi makan kepada seorang miskin, dan keduanya tidak mengqadha.” [Diriwayatkan oleh At-Thobari no 2758. Syaikh Al-Albani berkata, “Isnadnya shahih sesuai dengan persyaratan Imam Muslim lihat al-Irwaa 4/19]

Bahkan Ibnu Abbas menganggap bahwa wanita hamil dan wanita menyusui sama hukumnya seperti orang manula yang berat melakukan puasa. Mereka hanya diwajibkan untuk membayar fidyah tanpa harus mengqadha. Beliau pernah melihat wanita yang hamil atau menyusui maka beliau berkata,

Kedudukanmu seperti orang yang tidak mampu untuk berpuasa, maka hendaknya engkau memberi makan seorang miskin untuk ganti setiap hari berbuka, dan tidak ada qadha bagimu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam musnadnya 11/227 no 4996 dan Ad-Daruqthni dalam sunannya 3/196 no 2382 dan Ad-Daruquthni berkata, “Ini adalah isnad yang shahih”]

Beliau juga berkata,

"Wanita hamil dan wanita menyusui berbuka dan tidak mengqadha" (Diriwayatkan oleh Ad-Dahruqthni dalam sunannya 2/196 no 2385, dan dishahihkan oleh beliau).

Ibnu Umar juga berpendapat seperti pendapat Ibnu Abbas.

Ada seorang wanita hamil bertanya kepada Ibnu Umar, maka Ibnu Umar berkata, “Berbukalah dan berilah makan kepada seorang miskin untuk mengganti setiap harinya, dan janganlah mengqadha” [HR Ad-Daruquthni dalam sunannya 2/196 no 2388. Abdurrozzaq dalam mushonnafnya 4/217 no 7558, 7559, dan 7561 juga meriwayatkan atsar dari Ibnu Umar dengan makna yang sama dengan riwayat diatas]

Tidak diketahui adanya sahabat yang lain yang menyelisihi Ibnu Abbas. Bahkan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Umar. Dan perkataan seorang sahabat adalah sebuah hujjah selama tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi dan tidak menyelisihi nash.

Ibnu Qudamah berkata, “Tidak ada dari para sahabat yang menyelisihi mereka berdua (Ibnu Abbas dan Ibnu Umar)” [Al-Mughni 4/394, meskipun Ibnu Qudamah membawakan atsar Ibnu Abbas dan Ibnu Umar pada jika wanita hamil dan menyusui berbuka karena kawatir kepada anak mereka].

Perkataan seorang sahabat merupakan hujjah selama tidak ada sabahat lain yang menyelishi, hal ini disepakati oleh para empat imam madzhab (adapun tahqiq dalam permasalahan ini para pemabaca bisa merujuk kepada sebuah bahasan yang ditulis oleh DR Tarhiib Ad-Dausari dengan judul Hujjiyyatu qoulus Shohaabiy ‘inda As-Salaf, dan sebelumnya silahkan membaca penjelasan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya I’laamu’ Muwaqqi’iin 5/548 dst).

Syaikh Al-‘Utsaimin berkata, “Dan perkataan (pendapat) seorang sahabat adalah hujjah selama tidak menyelisihi nash” (As-Syarhul Mumti’ 6/446). Kita tidak mengatakan bahwa pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dihukumi marfu’ kepada Nabi, karena kalau dihukumi marfu’ maka tentu jelas kekuatan hukumnya sebagaimana hadits Nabi.

Akan tetapi kita katakan bahwa pendapat mereka berdua merupakan ijtihad, dan ijtihad itulah yang dikenal oleh para ulama ushul dengan istilah qoulus shohaabiy, yang hal itu merupakan hujjah jika tidak ada sahabat lain yang menyelisihi.

Kesimpulannya, dari sisi dalil bahwasanya wanita yang hamil dan menyusui hanya diwajibkan membayar fidyah tanpa harus mengqadha mengingat bahwa perkataan seorang sahabat merupakan hujjah selama tidak ada sahabat lain yang menyelisihi. Dan hujjah ini lebih kuat daripada hujjah mengqiyaskan wanita hamil dan menyusui dengan musafir dan orang sakit. Wallahua'lam Bishawab. (hmz)

Sumber Kitab Rujukan:

1. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, ‘Adil Mursyid, dll, Isyroof : DR Abdulloh bin Abdul Muhsin At-Turki, Muassasah Ar-Risaalah, cetakan pertama (1421 H-2001 M)

2. Sunan Ibni Maajah, tahqiq : Muhammad Fu’ad Abdul Baaqi, Darul Fikr

3. As-Sunan Al-Kubro, Al-Baihaqi, Mathba’ah Majlis Daairotil Ma’aarif al-‘Utsmaaniah (1352 H)

4. As-Syarhul Mumti’ ‘Alaa Zaadil Mustaqni’, Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin, Daar Ibnul Jauzi, cetakan pertama (1424)

5. Majmu’ Fatawa wa Rosaail Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin, jam’ wa tartiib : Fahd bin Naashir bin Ibroohiim As-Sulaimaan, Daar At-Tsuroyyaa

6. Syarh Az-Zarksyi ‘alaa Mukhtshor Al-Khiroqi fil Fiqh ‘alaa madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq : Abdullah bin Abdirrohman Al-Jibriin, Maktbah Al-‘Ubaikan, Cetakan pertama (1413 H-1993 M)

7. Al-Mabshuuth, Syamsuddin As-Sirokhsi, Darul Ma’rifah

8. Badaai’ As-Shonaai’ fi tartiib As-Syarooi’, ‘Alaauddiin Abu Bakr bin Mas’uud Al-Kaasaani Al-Hanafi, Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua (1406 H-1986 M)

9. Al-Majmuu’ Syarhul Muhadzzab, An-Nawawi, tahqiq : Muhammad Najiib Al-Muthi’iy, Maktabah Al-Irsyaad

10. Al-Mushonnaf li Abdirrozzaq, Abu Bakr Abdurrozzaq bin Hammaam As-Shon’aani, tahqiq : Habiiburrohmaan Al-A’dzhomi, dari Manyuroot Al-Majlis Al-‘Ilmiy

11. Sifat shoumin Nabiy, Ali hasan dan Salim Al-Hilali, Al-Maktabah Al-Islamiyyah, cetakan ke dua (1409 H)

12. Tobaqootul Mudallisiin, Ibnu Hajar al-‘Asqolaani, tahqiq : DR ‘Isoom Al-Qoryuuthi, Maktabah Al-Manaar, cetakan pertama

13. Sunan Ad-Daaruquthni, Ali bin Umar Ad-Daaruquthni, tahqiq : Syu’aib Al-Arnauth, isyroof Abdul Muhsin At-Turki, Muassasah Ar-Risalah, cetakan pertama (1424 H-2004 M)

14. At-Tadliis fil hadiits, DR Musfir Ad-Dumaini, cetakan pertama (1412 H-1992 M)

15. Siyar A’laam An-Nubalaa, Ad-Dzahabi, tahqiq Syu’aib Al-Aranuuth, Muassasah Ar-Risaalah, cetakan kedua (1402 H-1982 M)

16. At-Tarjiih fi masaailis soum waz zakaat, Muhammad bin Umar Bazmuul, Daarul Hijroh, cetakan pertama (1415 H-1995 M)

Responsive image
Other Article
gomuslim
Get it on the play store