:
:
Belajar Islam
Wabah Corona Kian Masif, Ternyata Ini Esensi Rohani dari Wudhu 

gomuslim.co.id – Wabah virus corona atau COVID-19 membuat masyarakat dunia takut dan khawatir. Bagaimana tidak, virus yang berawal dari kota Wuhan, China itu menyebar dengan sangat cepat. Lebih dari 100 Negara di dunia menyatakan telah terpapar virus corona baru ini.

Mengutip data terakhir dari John Hopkins University, Jumat (20/3/2020), di seluruh dunia, jumlah kasus terkonfirmasi positif corona sebanyak 242.713 kasus. Dari angkat tersebut, sebanyak 9.867 orang meninggal dunia, dan 84.962 orang dinyatakan sembuh.

Akibatnya, sejumlah kebijakan muncul mulai dari anjuran jaga jarak aman antar manusia (social distancing), larangan menghadiri kegiatan yang berkerumun sampai mengunci keluar masuk dari suatu wilayah atau daerah (lockdown).

Di Indonesia, para siswa sudah diliburkan selama dua pekan, para karyawan diminta bekerja dari rumah (work from home), sejumlah tempat wisata ditutup. Bahkan, rumah ibadah seperti masjid juga meliburkan sementara kegiatan keagamaan mulai dari salat berjamaah, salat Jumat, dan pengajian rutin.

Beberapa anjuran menjaga kebersihan pun mulai digalakkan pemerintah. Salah satunya anjuran untuk lebih rajin mencuci tangan setiap akan dan selesai beraktivitas.

Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersihan. Jika kita belajar tentang fikih, bab pertama yang dibahas adalah tentang ‘thaharah’ atau bersuci, membersihkan diri dari hadas, najis dan kotoran. Salah satunya adalah berwudhu.

Wudhu adalah aktivitas khusus yang diawali dengan niat lalu membasuh anggota badan menggunakan air. Wudhu menjadi syarat bagi setiap muslim saat hendak melaksanakan ibadah salat.   

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah....” (QS al-Maidah: 6)

Esensi dan Hakikat Wudhu

Dalam sebuah video Kajian Maiyah, Emha Ainun Najib atau akrab disapa Cak Nun menjelaskan bahwa secara fisik, wudhu memang membersihkan sebagian anggota badan. Namun secara esensi atau hakikat, sejatinya wudhu yang disucikan adalah batinnya, bukan tubuhnya.

“Logikanya kalau yang disucikan tubuhnya (badan) maka ketika kamu kentut, maka harusnya disucikan atau dibersihkan adalah pantatnya, tapi ini kan tidak, kita disuruh mengulang (wudhu),” ujar Cak Nun.

Artinya, esensi wudhu sejatinya untuk mensucikan jiwa (rohani). Mulut kita disuruh kumur-kumur agar kita mampu bicara yang baik-baik, menjaga ucapan.

 

Baca juga:

Ini Panduan Wudhu Menurut Madzhab Syafi’i

 

Kemudian menghisap air untuk membersihkan hidung. Dalam hidung, itu ada bulu yang fungsinya untuk memfilter atau menyaring. Maknanya adalah kita harus hati-hati dalam menyerap informasi atau apa pun yang masuk termasuk dari media sosial.

Begitu juga dengan telinga, maksudnya agar kita selalu menghindar dari ucapan yang tercela. Telinga dibersihkan agar kita tidak mendengarkan perkataan kotor. Mata juga demikian, supaya tidak melihat hal-hal yang jorok.

Selanjutnya mengusap sebagian kepala depan (kening). Kening sebagai simbol pengetahuan naluriah bagi orang jawa. Setelah diselidiki secara modern, syaraf-syaraf otak yang bagian bohong, yang bagian curang itu adanya di kening.

“Kalau kamu nggak tepat, dijitak (keningnya) begini ya. Makanya kalau wudhu, kita bersihkan keningnya agar terhindar dan diizinkan Allah untuk lebih jujur, tidak curang, dan tidak melakukan manipulasi atau apapun,” jelas Cak Nun.

Selain itu, kening juga bagian yang harus ditempelkan saat sujud. Karena sebagai simbol sering berbohong, maka letakkan kening itu serendah-rendahnya.

Salat itu dahsyat secara metode karena kita adalah makhluk tertinggi diantara para makhluk yang lain. Tapi kita oleh Allah disuruh sujud. Untuk memberi pengalaman 17 kali sehari bahwa engkau itu merendah serendah-rendahnya dihadapan Allah SWT.

Menurut Cak Nun, membersihkan kain atau tubuh dari kototan itu gampang, tinggal dicuci terus akan hilang. Tetapi membersihkan hati yang kotor dari kesombongan, keangkuhan, kecongkakan itu yang susah.

Menurutnya, kesombongan itu bisa jadi tidak hanya menimpa kepada orang yang kaya harta, atau orang berilmu, tapi juga ahli ibadah. Mereka yang ibadahnya rajin, sering kali sombong karena merasa lebih alim dari yang lain. Padahal ketakwaan seseorang itu yang tahu hanya Allah SWT.

“Kalau saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Cuman saya takut semua orang akan berkesimpulan bahwa saya lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim. Kalau itu tidak benar, itu kan namanya ‘penipuan’!” jelasnya.

“Orang itu nggak butuh salatmu, ibadahmu, tapi yang orang butuhkan adalah kelakukanmu setelah salat. Puncak dari syariat adalah akhlak,” sambungnya.

Bagi Cak Nun, sekarang orang semakin kehilangan kemampuan untuk bisa benar tanpa menyalahkan. “Kita semakin tidak sanggup untuk benar, kecuali harus dengan menyalahkan. Yang benar kita, orang lain salah. Semua dan setiap pihak, berdiri pada posisi itu,” tuturnya.

Menurutnya, di wilayah hukum, harus jelas benar dan salahnya. Tetapi di wilayah budaya, ada faktor kebijaksanaan. Di wilayah poilitik, ada kewajiban untuk mempersatukan.

“Agama menuntun kita dengan menghamparkan betapa kayanya dialektika antara Sabil (arah perjalanan), Syari’ (pilihan jalan), Thariq (cara menempuh jalan) dan Shirath (presisi keselamatan bersama di ujung jalan),” tandas Cak Nun.

Sabda Nabi SAW, “Apabila seorang hamba Allah berwudhu dan berkumur, maka keluarlah dosadosa dari mulutnya; apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dosa-dosa dari tangannya, sampai keluar dari bawah kuku jari-jarinya; apabila ia membasuh kepalanya, maka keluarlah dosa-dosanya dari bawah kedua telinganya; dan apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dosa-dosa dari kakinya, sampai di bawah kuku kakinya” (HR Ibnu Majah). (jms)

Wallahu'alam Bishawab

Sumber:

Disarikan dari video kajian Maiyah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Responsive image
Other Article
Responsive image