:
:
Belajar Islam
Begini Adab dan Hukum Utang Piutang dalam Islam

gomuslim.co.id – Membahas segala macam kehidupan manusia seperti tidak ada habisnya. Manusia dengan segala dinamikanya hidup bergantung satu sama lain. Tidak jarang ada orang-orang yang lebih mementingkan gengsi dibandingkan hidup sederhana. Sehingga beberapa diantara manusia rela mengikuti gengsi tanpa melihat standar kemampuan. 

Inilah yang menjadi pemicu ketidakseimbangan yang pada akhirnya pengeluaran ekonomi lebih besar daripada pemasukannya. Kita biasanya menyebut dengan lebih besar pasak daripada tiang. Ya begitulah manusia. Mereka yang mengutamakan gengsi dan sekadar mengikuti keinginan, melakukan segala cara agar keinginannya tercapai. Berutang adalah jalan yang banyak dipilih orang-orang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Lantas, bagaimana Islam mengatur perkara tentang utang piutang? Bolehkan umat Islam berutang? Bagaimana hukumnya dalam Islam? berikut gomuslim membahasnya:

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai utang.

Kemudian di Hadist lain menjelaskan,

Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] utang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Tentang utang ini terlihat dari hadist Rasulullah yang berbunyi:

“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali utangnya”. (Riwayat Muslim).

Utang piutang dalam Islam merupakan hal yang sifatnya jaiz atau diperbolehkan. Namun juga Islam mengatur tata cara utang piutang tersebut secara sistematis. Dalam Islam, utang dikenal dengan istilah al-Qardh, yang secara etimologi berarti memotong. Sedangkan menurut syar’i bermakna memberikan harta dengan dasar kasih sayang kepada siapa saja yang membutuhkan dan akan dimanfaatkan dengan benar, yang mana pada suatu saat nanti harta tersebut akan dikembalikan lagi kepada orang yang memberikannya.

Hukum Berutang

Adapun dalam berutang harus sesuai dengan rukun yang ada, yakni:

1. Adanya pelaku yang ingin berutang

2. Adanya pelaku yang memberi utang atau pinjaman

3. Adanya ijab qabul/perjanjian atas utang

4. Adanya uang atau barang yang diutangkan

Sebenarnya utang piutang dapat memberikan manfaat yang sangat baik bagi semua pihak. Yang memberikan pinjaman akan mendapatkan pahala, dan dari sisi peminjam, dia akan merasa sangat tertolong.

Hukum utang piutang dalam Islam adalah boleh. Allah SWT berfirman:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Q. S. Al-Baqarah ayat 245).

Merusak akhlak

Kebiasaan berutang justru dapat merusak akhlak seseorang karena berutang bukan termasuk kebiasaan yang baik, layaknya kebiasaan berbohong.

Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

Sesungguhnya seseorang apabila berutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri. (HR. Al-Bukhari).

Seseorang yang terlilit utang sangat mudah untuk dipengaruhi oleh iblis agar mengerjakan maksiat demi bisa melunasi utangnya, dengan berbagai cara termasuk mencuri atau merampok.

Dihukum layaknya seorang pencuri

Berutang tapi memiliki niat untuk tidak dikembalikan, jelas Allah mengharamkannya. Dan itu akan dianggap seperti mencuri. Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah).

Jenazahnya tidak boleh disalatkan

Sahabat gomuslim, sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Beliau pernah tidak mau mensalatkan jenazah seseorang yang rupanya masih memiliki utang namun belum terbayar dan tidak ada meninggalkan sepeserpun harta untuk melunasinya. Sampai kemudian ada salah seorang sahabat yang bersedia menanggungkan utangnya, baru Rasulullah SAW mau mensalatkan jenazah tersebut.

Dosanya tidak terampuni sekalipun mati syahid

Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

Semua dosa orang yang mati syahid Akan diampuni (oleh Allah), kecuali utangnya. (HR. Muslim).

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa, bagi manusia yang membela agama Allah den menjunjung kebenaran agama Allah, kemudian manusia tersebut dalam keadaan mati syahid akan tetapi masih memiliki utang, maka ia akan tetap menerima dosa dari utang tersebut.

Bahkan dijelaskan bahwa, orang-orang sholeh akan tertahan masuk surga apabila masih memiliki utang. Dari Tsauban, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya (baca: meninggal dunia) dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia akan masuk surga, yaitu: bebas dari sombong, bebas dari khianat, dan bebas dari tanggungan utang.”

Pahala adalah ganti hutangnya

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (H. R. Ibnu Majah).

Artinya, jika seseorang yang berutang tidak sempat melunasinya karena meninggal dunia, maka diakhirat nanti pahalanya akan diambil untuk melunasi utangnya tersebut.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (H. R. Tirmidzi)

Dengan demikian, berutang memang diperbolehkan, namun menghindarinya adalah lebih baik. Setiap rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Hanya tinggal bagaimana kita menjemput rezeki tersebut, terutama dengan cara yang halal. Jangan mudah tergiur dengan kemewahan sesaat, perbanyaklah berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan rezeki yang halal lagi berkah.

Jika memang sangat amat terpaksa untuk berutang, maka itu lebih baik dilakukan daripada berbuat maksiat semacam mencuri. Tapi harus diingat, tujuan berutang adalah murni untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara yang baik pula. Serta, di dalam hati sudah berniat untuk sesegera mungkin melunasi utang tersebut agar tidak menjadi penghalang di akhirat nanti.

Sahabat, yang perlu kita tanamkan dalam hati adalah, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kecukupan kepada kita. Keinginan yang berlebih merupakan hawa nafsu yang datang bisa dari Syaitan. Naudzubillah Minzalik. Wallahualam Bissawab. (hmz)

 

Sumber:

Buku Fiqih “Adab Hutang Piutang Menurut Pandangan Islam”, Abu Muhammad Ibnu Shalih Bin Hasbullah, Penerbit: Pustaka Ibnu Umar.

Seputarfiqih

Responsive image
Other Article
Responsive image